YESUS SALAMAT DARI PROSES HUKUMAN SALIB

Oleh : Abu Jihan
I. Pendahuluan,
Beberapa Fatwa Ulama Besar

Berkenaan topik penyaliban Isa a.s., memang berkembang beberapa pemahaman.1. Kristiani beranggapan bahwa Yesus wajib wafat ditiang salib, hidup kembali, dannaik ke langit (karena inilah inti dari ajaran penebusan dosa).2. Yahudi juga berkeinginan untuk membunuh Yesus (Isa a.s.) karena dia adalahhamba yg terkutuk.3. Muslim (sebagian besar) beranggapan bahwa Isa a.s. dihindarkan dari hukumansalib dan orang lainlah yg dikorbankan, dan kemudian Isa a.s. naik kelangit dengan jasmaniyah nya (untuk hal naik ke langit sepemahaman dengan keyakinan umatkristiani).Semoga saya diberi karunia oleh Allah SWT untuk bisa membuat rangkaian tulisan yg panjang ini dengan berdasarkan dalil-dalil yg dapat dipertanggung jawabkan,amin.Kali kesempatan pertama ini, sebagai rasa hormat saya kepada Institusi Al Azhar,maka ijinkan saya untuk mengutip tulisan/pendapat Syeikh Mahmoud Shaltout(Rektor Universitas Al Azhar Cairo, Mesir). Pendapat beliau ini adalah berkenaanapakah Isa a.s. sudah wafat atau masih hidup (naik ke langit). Karena panjangnyatulisan beliau maka saya hanya akan mengutip beberapa pokok tulisan beliau.Beliau mengutip ayat 115 – 117 dari surah Al Maidah, dan dalam ayat ini ada kata”tawaffaytani” yg maknanya adalah mewafatkan. Dan beliau dalam mengartikankata tawaffaytani ini juga merujuk kepada ayat 32:11, 4:97, 8:50. Kemudian SyeikhSyaltot menulis : “Oleh sebab itu adalah masuk akal, bahwa perkataan tawaffaytani yg disebut dalam di atas sehubungan dengan Nabi Isa a.s. (Yesus) dalam surah AlMaidah (115 & 116) akan bermakna kematian alami secara wajar yg orang-orangmemahami dan yang orang-orang berbahasa Arab mengerti dari teks dan kontekshubungan kedua-duanya. Maka jika kita ambil ayat ini menurut makna yg aselidan sesuai haruslah disimpulkan bahwa Nabi Isa (Yesus) wafat dan tak ada dalil ygmenguatkan anggapan bahwa beliau masih hidup dan kematian tidak terjadi padabeliau. Juga tidak beralasan untuk mengatakan bahwa perkataan mati, wafat,dalam ayat itu bermakna bahwa beliau akan wafat sesudah turun dari langit -menurut pendapat yg tersebar bahwa beliau hidup di langit dan akan turun

2
menjelang akhir dunia. Ini disebabkan ayat itu berbicara dalam istilah yg jelasmengenai hubungan beliau dengan kaum beliau sendiri, bukan kepada kaum lain yg akan ada menjelang hari kiamat dan bukan dengan mereka yg difahami sebagaiumat Muhammad saw serta bukan kaum Nabi Isa (di masa datang).” (Al Majallah,Kairo Mesir)Demikian pula dalam Tafsir Al Azhar Prof Hamka menulis : “Adapun UlamaIndonesia yg menganut faham seperti demikian dan menyatakan pula faham itudengan karangan ialah guru dan ayah hamba Dr. Syaikh Abdulkarim Amrullah didalam bukunya al Qaulush Shahih, pada tahun 1924. Beliau menyatakan fahambeliau bahwa Nabi Isa meninggal dunia menurut ajalnya dan diangkat derajatbeliau di sisi Allah, jadi bukan tubuhnya yg dibawa ke langit”.”Sayid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat2 ahli tafsir tentang ayat ygditanyakan ini, mengambil kesimpulan;”Jumlah kata tidaklah ada nash yg shahih(tegas) di dalam Al Qur’an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawake l;angit dan hidup di sana…”Demikianlah saya membuka serial ini dengan mempersembahkan fatwa dari ulama-ulama besar Al Azhar yg mana mereka mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus)telah wafat dengan wajar.
2. Penangkapan dan Pengadilan
Isa a.s. (yesus) yg sudah mengetahui akan rencana penangkapan akan diribeliau, menjelang penangkapan beliau bersama murid beliau pergi ke bukitGetsmani. Di sana beliau berdoa dengan penuh ratap sangat pilu memohonkeselamatan dari hukuman salib (kematian terkutuk).”Dan mulailah ia merasa sedih dan gentar. Lalu katanya kepada mereka,”Hatiku sangat sedih seperti mau mati rasanya…” Maka ia maju sedikit,lalu sujud, dan berdo’a, katanya, “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin,biarlah cawan (kematian) ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti ygkuhendaki, melainkan seperti yg Engkau kehendaki”. (Injil Matius 26:37-39).”Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdo’a; peluhnya menjadiseperti titik-titik darah yg bertetesan ke tanah”. (Injil Lukas 22 : 44).
Isa a.s. berdo’a di bukit Getsmani
Nabi Isa a.s. menangis bukan karena takut melainkan menyesali apa ygdiperbuat oleh kaum Yahudi karena semata-mata kebencian dan purba sangkakepada beliau dan hendak membuktikan bahwa beliau adalah seorang pendustadengan kematian terkutuk di tiang salib.

3Nabi Isa a.s. ditangkap atas perintah Ulama Besar Yahudi
Kaum Yahudi yg dimotori oleh para Ulama Yahudi mengadukan Isa a.s. kepadaPilatus (Gubernur) agar ia menangkap dan mengadili Isa. Namun sebenarnyaPilatus enggan untuk menangkap Isa a.s. dan berkata : “Aku tidak mendapatikesalahan apa pun padanya” (Injil Yohanes 18 : 38).
Nabi Isa a.s. dalam persidangan Pilatus
Kecewa karena Pilatus membela Isa a,s, maka para Musuh Isa a.s. mengancamakan mengadukan sikap Pilatus kepada Kaisar. Mereka berkata : “Jika engkaumembebaskan dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar…..” (Injil Yohanes 19:12)Pilatus sebenarnya merasa dan mengetahui bahwa Isa a.s. bukanlah seorangbiasa, terlebih-lebih istri Pilatus memperoleh mimpi bahwa Isa a.s. adalahorang yg benar sehingga ia berkata kepada suaminya : “Jangan engkaumencampuri perkara orang yg benar itu, sebab karena dia aku sangatmenderita dalam mimpi tadi malam”. (Matius 27 : 19).
“Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri”,Kata Pilatus

5
Prosesi hukuman shalb (salib) itu adalah prosesi hukuman mati yg perlahan-lahan,dan biasanya memakan waktu sampai dengan tiga hari hingga ajalnya tiba. Terhukum akan dipaku ke dua tangannya di tiang salib, dikarenakan berattubuhnya maka si terhukum akan mengalami kesulitan nafas karena terhimpitparu-parunya hingga akhirnya hal ini akan mempercepat kematian. Oleh karena ituuntuk menambah penderitaan (memperlama proses kematian) maka pada telapakkaki diberikan sandaran papan di kakinya dipakukan kepada papan tsb (sehinggadengan kaki ini terhukum dapat berdiri menyangga tubuh). Terhukum akandibiarkan menderita haus dan rasa sakit bahkan gangguan dari mangsa hewan liar.Pamungkas dari proses kematian ini adalah dipatahkannya tulang-tulang kaki(shalb-salib/patahkan tulang mengeluarkan sumsum) yg akan mempercepatkematian. Inilah hukuman salib (pematahan tulang dan sumsum di pancang /tiang kayu). Jadi seseorang yg hanya mengalami pemakuan di tiang kayu namuntidak mengalami pematahan tulang dan pengeluaran sumsum maka tidak bisadikatakan telah di hukum salib.Inilah arti dan prosesi hukuman shalb (salib), dan pada artikel berikutnya (4) kitaakan melihat apakah Nabi Isa. a.s. mengalami hukuman shalb (salib) itu.
4. Misi Rahasia Menyelamatkan Isa a.s. (Yesus)
Pilatus secara rahasia menolong Isa dengan menetapkan hari hukuman salib pada Jum’at siang (jam 12 siang) (Matius 27 : 46), dan pada jam 3 sore (jam 15) Isaditurunkan dari Tiang Salib dengan kondisi tampak “Mati”. Seperti yg telah lazimbahwa hukuman salib adalah hukuman mati secara perlahan (umumnya 3 hari)dan belum pernah ada yg mengalami kematian dlm hitungan jam. Lalu mengapa Isaditurunkan padahal baru 3 jam (nampak tergesa-gesa)? Jawabannya karena dalam Taurat ada tertulis hukum :”Maka janganlah mayatnyadibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkandia pada hari itu juga, sebab seorang yg digantung terkutuk oleh Allah, janganlahengkau menajiskan tanah yg diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milikpusakamu” (Ulangan 21:23).
Isa a.s. diturunkan dari salib dalam keadaan pingsan
Jadi dikarenakan menurut hitungan hari Yahudi bahwa Hari Raya Sabath telahmulai sejak hari Jum’at petang (jam 18), maka tidak boleh ada najis (mayat orangterkutuk) yg menodai kesucian hari Sabath. Oleh karena itu haruslah tidak bolehada orang yg terpantek di kayu salib. Maka dari itu hukum Yahudi sendiri ygmeminta Isa a.s. diturunkan secepatnya dari kayu salib.

6Menjelang senja memasuki hari Sabath, tidak boleh ada orang yg di salib
Pada saat Isa dihukum salib ada juga dua penjahat yg dihukum berserta beliau,namun tidak seperti Isa, mereka masih nampak segar atau hidup, sehingga bagimereka diperlakukan cara cepat untuk menghabisi nyawa mereka dan mereka dihukum salib (shalb) dengan mematahkan tulang-tulang kaki mereka (yg menyanggatubuh mereka). Sedangkan bagi Isa a.s. karena pada saat akan diturunkan kondisibeliau nampak terlihat mati maka beliau tidak dihukum salib (shalb – pematahantulang-tulang). Hal ini nampaknya merupakan perwujudan dari ramalan suci(nubuatan) : “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yg patah”. (Mazmur 34: 21). Sedangkan bagi perajurit Romawi alasan mereka tidak mematahkan tulangbelulang Isa a.s. adalah karena Jasad Isa a.s. nampak seperti yg sudah mati :”Melihat bahwa ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakinya” (Yohanes 19 :33).Perlu diperhatikan bahwa dasar yg menyatakan bahwa Isa mati itu adalah hanyaatas Melihat, tidak mendekati, apalagi menyentuh, sehingga bisa dipastikan lebih jauh apakah masih berdenyut nadinya alias mati sungguhan atau tidak? Karenahanya sekedar melihat itu tidak pasti dan inilah pangkal keragu-raguan OrangYahudi kelak bahwa mereka sendiri tidak yakin bahwa dalam waktu tiga jamtersebut dan tanpa hukum shalb mereka telah memutuskan ajal Isa (membunuhIsa). Hal ini berhubungan dengan ucapan Isa sebelum dihukum, “Kamu akanmelihat dan melihat, namun tidak merasa” (Matius 13:14).Ketika Yohanes berkata bahwa tentara itu melihat, bahwa maksudnya merekamenduga bahwa Isa telah wafat. Jadi inilah cara Allah untuk menolong Isa. Denganmenserupakan beliau nampak seperti yg telah wafat dan hanya membiarkantentara Romawi hanya melihat dan menduga-duga.Allah menyelamatkan Isa a.s. dalam kondisi pingsannya dengan menampakankepada Tentara Romawi dan Orang Yahudi bahwa mereka melihat Isa seperti dalamkondisi mati. Karena itulah tentara Romawi tidak mematahkan tulang sumsum Isaa.s.. Setelah tubuh Isa telah diturunkan dari tiang maka untuk memastikan Isatelah wafat maka seorang Tentara Romawi menggoreskan lembing nya ke sisi rusuktubuh Isa a.s. dan setelah melihat tidak adanya respon gerakan dari tubuh Isamaka ia yakin bahwa Isa telah wafat. Namun….sebenarnya tidak demikian.”Hanyalah seorang lasykar menikam rusuk Yesus dengan tombaknya, maka sekejapitu juga mengalir keluar darah dengan air” (Yahya 19 : 34). Adalah rahmat AllahSWT yg telah membuat tubuh manusia (Isa a.s.) pingsan karena menahan rasasakit dan letih. Seseorang yg berada dalam kondisi pingsan mengakibatkanperedaran darahnya menjadi lamban dan tidak lancar. Dengan adanya pelukaanakibat goresan ujung lembing membuat peredaran darah lancar kembali danmemancarlah darah keluar, perlu diperhatikan bahwa hal ini (darah mengalir)hanya dapat terjadi pada tubuh yg mana jantungnya masih berdenyut (masihhidup). Dan perlu diperhatikan kata “Sekejap Itu Juga” menandakan bahwa darahmemancar dengan cepat yg mana hal itu menunjukan bahwa sebenarnya Yesus/Isa

7
masih hidup manakala diturunkan dan hanya pingsan (yg disangka telah mati olehYahudi dan Orang Romawi). Dr. W.B. Primrose, seorang ahli anastesi RS. RoyalGlasgow dalam tulisan beliau dalam harian “Thinker Digest” mengatakan, “Bahwaair tersebut disebabkan oleh adanya gangguan syaraf pada pembuluh darah lokalakibat rangsangan yg berlebihan dari proses penyaliban”.Perlu dicari tahu bahwa selain karena rasa sakit apakah gerangan yg membuat Isa jatuh pingsan dlm waktu yg singkat itu?Adalah rahmat Allah SWT beliau menjadikan Isa pingsan karena menahan sakit,perih, dan lelah dari hukuman tiang salib, namun disaat yg sama dua orangpenjahat yg turut dihukum masih nampak siuman, lalu sebab apakah Isa dalam waktu kurang dari tiga jam sudah jatuh tak sadarkan diri? Jawaban yg logis bisa kita telusuri, pada Yohanes 19: 29-30 tertulis :”Di situ adasuatu benda penuh anggur asam (tertulis Vinegar-bukan wine). Maka merekamencucukan bunga karang yg telah dicelupkan dalam anggur asam pada sebatanghyssop (tanaman semak yg harum untuk obat) lalu mengunjukkannya ke mulutYesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam berkatalah ia :”sudah selesai”, lalu iamenundukan kepalanya dan menyerahkan nyawanya”. Adakah Vinegar ini telahberpengaruh kepada Yesus?Vinegar memiliki efek stimulasi yg sementara sebagaimana obat amonia yg diciumdan bahkan dipakai untuk menstimulasi budak-budak pengayuh perahu kapal.Memberikan anggur yg dibumbui dengan Myrrh atau kemenyan kepada orang ygakan dihukum mati sebagai usaha untuk menghilangkan rasa sakit (efek narkotik)adalah sesuai dengan kebiasaan Yahudi, seperti yg tertulis : “Dia yg dieksekusidiberi sedikit kemenyan dicampur anggur dalam piala sehingga dia kehilangankesadaran” (Sahn 43 – Kitab Talmud).Pada saat menjelang penyaliban Serdadu Roma bukan saja membolehkanpemberian minuman narkotik ini bahkan salah satu dari mereka terbuktimembantu meminumkannya pada Yesus (Matius 27:48, Markus 15:36, Lukas23:36, Johanes 19:29). Vinegar yg disebutkan dlm Injil dalam bahasa Latin disebutAcetum/Acidus/Acere/Acida. Dalam budaya Persia dan Timur Tengah umumnyamengenal Minuman persembahan suci (Haoma Drink). Haoma Drink dibuat dari Juice tanaman Asclepias Acida. Efek minuman ini adalah membuat seseorangmenjadi
koma (mati suri)
. Varietas asclepias acida ini di Eropa disebut dengan”Swallowwort”. Untuk membuat ramuan Haoma Drink ini perlu keahlian agartakarannya tepat dan Orang-orang dari Golongan Yahudi Essene sangat mahirdalam bidang pengobatan/penyembuhan sangat mengenal ramuan minuman ini.Salah satu efek dari ramuan Swallowwort (Asclepias Acida) ini adalah Extremesweating and a dry mouth, dan ini sesuai dengan apa yg di alami oleh Isa, “Yesusmengatakan: “Saya haus” (Yohanes 19:28).
“Saya haus…..”

Jadi para murid rahasia Yesus (Isa) dari golongan Essenes bekerja sama denganPilatus telah memberikan Haoma Drink ini kepada Isa a.s. sebelum beliau di pakudi tiang salib dan ini merupakan rencana rahasia untuk menolong Isa. Dan akibatdari ramuan inilah beliau menjadi koma (mati suri) di tiang salib.Setelah kita mengetahui apa sebab Yesus (Isa) mengalami pingsan yg demikiancepat dalam kurun waktu tiga jam di tiang salib, kini saya ingin mengajak andakembali pada saat tubuh Isa masih berada di tiang salib.

Eloi..Eloi…, lama sabakh tani
”. – “
Tuhanku..Tuhanku, mengapa Engkau tinggalkan aku
”.Inilah ucapan Nabi Isa a.s. sebelum ia pingsan
Meski Injil menerangkan dengan berbeda-beda namun adalah suatu kepastianbahwa pada saat menjelang jam 15 (3 sore) terjadi gemuruh, guntur, gempa, sertalangit pun menjadi gelap. Hal ini adalah suatu mukjizat yg mana Allahmenampakan gejala alam ini untuk membuat ciut dan takut hati kaum Yahudi ygsaat itu berpesta pora disekitar (dekat) lokasi tiang-tiang salib, yg serta merta hatimereka menjadi takut akan kutuk Tuhan atas perbuatan mereka dan lariberhamburan menyelamatkan diri.Peristiwa ini adalah rencana Tuhan yg karenanya para murid “rahasia” Isa (ygbukan 12 orang itu-mereka semua melarikan diri karena takut) dapat mendekatitiang salib, menurunkan jasad beliau, dan mengurus beliau a.s. Adalah Nikodemusdan Yusuf Arimatea (murid Isa dari golongan Essenes) yg telah meminta jasadYesus kepada Pilatus. Nikodemus, Yusuf Arimatea, Maria Magdalena, dan murid-murid rahasia lainnya dari Essenes lah yg menolong dan mengurus jasad Isa a.s.setelah diturunkan dari tiang salib (Markus 15:47). Perlu diingat bahwa kondisi dansituasi saat itu sangat genting, karena jika orang Yahudi mengetahui bahwa Isamasih hidup maka mereka akan mencoba untuk membunuh untuk yg kedua kali
5. Kaum Yahudi Ragu dan Tidak Yakin
Orang – orang Yahudi mulai menaruh curiga. Mereka samasekali tidak yakin apakah mereka telah membunuhIsa….jangan-jangan…Isa masih hidup(?). Maka setelah hariSabath mereka datang kepada Pilatus, ” Keesokanharinya…..datanglah Imam-Imam kepala dan orang-orangFarisi bersama-sama menghadap Pilatus dan mereka berkata,”Tuan, kami ingat bahwa si penyesat sewaktu hidupnyaberkata,…Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itusampai hari yg ketiga; jikalau tidak…….penyesatan yg terakhirakan lebih buruk akibatnya daripada yg pertama”. (Matius27:62-64). Orang Yahudi memohon untuk menjaga kubur Isa -perlu difahami bahwa kubur Isa bukan seperi kubur yg kitakenal, melainkan berupa ruang kamar atau gua yg manaterdapat sirkulasi udara masuk.
Caliphas, Ulamabesar Yahudi

9
Kesalahan orang Yahudi adalah bahwa mereka tergesa-gesa menurunkan Isa daritiang salib (hanya 3 jam lamanya), lalu mereka tidak melakukan hukuman salib(shalb – pematahan tulang dan sumsum) pada Isa karena melihat (menduga,mengira-ngira) bahwa Isa mati, lalu mereka membiarkan jasad Isa diambil olehmurid-murid rahasia Isa tanpa pengawasan mereka, dan yg terakhir mereka telahsangat terlambat mendatangi Pilatus. Karena inilah akhirnya mereka sama sekaliberada dalam keraguan dan tidak yakin apakah mereka telah membunuh Isa,terlebih-lebih karena mereka lalai dari melakukan hukuman salib (salb) atas Isakarena terperdaya akan keadaan Isa yg diserupakan seolah telah “mati”. AllahuAkbar!!!!!…..Allah Maha Besar!!!!!!!…….”Dan karena ucapan mereka :”Sesungguhnya kami telah membunuh Isa putra Maryam Rasul Allah”, padahalmereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagimereka seperti yg mati di atas salib. Sesungguhnya orang-orang yg berselisihpaham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang ygdibunuh itu…..” (An Nisa 157), lagi sabda Allah , “Orang-orang kafir itu membuattipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baiknyapembalas tipu daya”. (Al Imran : 54).Di manakah Yudas sang Pengkhianat?……
6. Yudas sang Pengkhianat
Sebagian orang percaya bahwa telah terjadi pensamaran wajah antara Yesus (Isa)dan murid beliau yg berkhianat yaitu Yudas Iscariot. Hal ini sangat menarik sekaliuntuk diteliti bahwa apakah benar Allah telah merubah sedemikian rupa wajahYudas menjadi wajah Isa? Agak aneh bahwa bagi seorang Kristolog senior sepertiAhmed Deedat sama sekali tidak menyinggung peristiwa ini.Kita bisa melakukan penyelidikan dari beberapa sudut. Pertama dari keteranganInjil, ke dua dari Al Qur’an, dan ketiga dari sunatullah.
Yudas, dia yg menyerahkan Nabi Isa a.s. kepada TentaraYahudi
Memang benar bahwa Yudas telah berkhianat kepada Yesus dengan imbalan 30keping perak untuk memberitahukan dimana Yesus berada, namun perlu diingatbahwa sejak ditangkapnya Yesus maka Yesus selalu berada dalam (ditengah-tengah) kawalan tentara Romawi dan orang-orang Yahudi sejak penangkapan,pengadilan, hingga eksekusi. Sehingga jika ada switch face maka tentu akan adakegemparan dimana ditemukan dua Yesus. Lagi pula tidak ada keterangan dalaminjil atau riwayat dari kalangan Israil bahwa Yesus yg tertangkap itu berteriak-teriak “Aku Yudas !!!…Yudas !!! kalian keliru menangkap !”. Bahkan mengenaiYudas pasca penyaliban diriwayatkan bahwa ia sangat menyesal akanperbuatannya dan mati gantung diri…(Matius 27:5). Mengenai riwayat yg konon

15
Maria Magdalena tidak mengenali Yesus yg menyamar sebagai tukang kebun itu, “Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepadanya”(Yohanes 20:15).Mengapa Yesus harus menyamar? Karena beliau mengetahui jika orang Yahudimengetahui keberadaannya maka mereka akan menangkap kembali dan mencobamembunuhnya lagi. Bagi seseorang yg telah mati, untuk apa takut mati lagi? Iniadalah alasan sangat logis bahwa Yesus/Isa memang tidak terbunuh di tiang salib,dan belum wafat.Yesus sendiri mengatakan bahwa bagi seseorang hanya akan mengalami satukematian bukan dua, “dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati satu kalisaja, dan sesudah itu dihakimi” ( Ibrani 9:27).Maria masih tidak mengenali Yesus sampai Yesus menyebut namanya, barulah iamengenal (dari cara Yesus menyebut namanya) bahwa tukang kebun ini rupanyagurunya, gembira lah dia dan langsung ingin merangngkul gurunya. Namun Isa a.s.berkata, “Janganlah engkau memegang aku”. (Yohanes 20:17). Kenapa Maria tidakboleh menyentuhnya? Pertama karena tubuh beliau meski sudah pulih tentu masihmengalami nyeri, dan kedua beliau tidak ingin ada orang lain yg mencurigaipenyamarannya. Dan Yesus menjelaskan kepada Maria bahwa beliau bukanlahhantu atau ruh namun beliau masih manusia yg hidup, beliau berkata, “Sebab akubelum pergi kepada Bapa” (Yohanes 20:17). Maksud Yesus tak lain adalah Sayabelum wafat, saya belum ke alam baqa, atau saya masih hidup.Lalu Isa pergi dan ditengah perjalanan ia bertemu dengan dua orang muridnya ygsedang menuju Emmaus. Dihampirinya mereka oleh Isa dan mereka berjalanbersama-sama sambil bercakap-cakap. Selama perjalan ke dua murid Yesus initidak mengenali Yesus, sampai ketika mereka makan bersama dimana kedua muridIsa mengajak Isa untuk turut serta makan bersama. “Waktu ia duduk makandengan mereka, ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya,dan memberikan kepada mereka” (Lukas 24:30).Dari cara Isa mengucapkan berkat dan membagikan makanan barulah tersadar kedua murid Isa bahwa yg selama ini ada bersama mereka adalah guru mereka,namun manakala mereka menyadari hal ini Isa a.s. telah berlalu dan pergimeninggalkan mereka.
Nabi Isa a.s. membelah roti untuk muridnya
Kedua murid Isa menceritakan hal ini kepada murid-murid yg lain namun tentunyatidak seorang pun mempercayai ini, karena bagi mereka guru mereka telah wafat(perlu diingat bahwa murid-murid beliau tidak ada yg berada dekat beliau danmenyaksikan hukuman tiang salib yg beliau jalani). “Lalu kembalilah mereka danmemberitahukannya kepada teman-teman yg lain, tetapi kepada mereka punteman-teman itu tidak percaya”. (Markus 16:13)

16
Singkat cerita, Isa menemui murid-murid beliau, “Datanglah Yesus dan berdiriditengah-tengah mereka” ( Yohanes 20:19). Kaum Kristiani percaya bahwa Yesusmuncul secara tiba-tiba ditengah murid-murid (seperti awak film Star Trek), kenapamereka mempercayai hal ini? Karena umat Kristiani mempercayai bahwa Yesusbukan manusia dan bisa melakukan hal-hal yg ajaib. Padahal hal ini tidak benar,kata “datanglah” itu sendiri menunjukan bahwa Isa tidak muncul tiba-tiba,layaknya seperti ketika anda berkata ,”Ayah datang”. Apakah ayah anda muncultiba-tiba (seperti awak Star Trek)? Yg benar adalah anda melihat ayah anda datangberjalan menghampiri anda.Namun dikarenakan khabar yg mereka dengar selama ini adalah Isa telahmeninggal, maka mereka tetap menunjukan ekspresi wajah terkejut, dan takut.Oleh karena itu Isa berkata, “Kata Yesus kepada mereka,”Damai sejahtera bagikamu tetapi mereka terkejut dan takut” (Lukas 24: 36-37). Lihatlah rekasi ygberbeda antara Maria Magdalena dengan para murid Isa manakala melihatgurunya, kenapa? Maria Magdalena bergembira melihat gurunya itu karenamemang sedari awal ia mengetahui bahwa gurunya tidak wafat, dan dia setiamerawat sang guru. Sedangkan para murid Isa ini mendengar khabar bahwagurunya telah wafat karena mereka meninggalkan gurunya, bahkan sekarangmereka menyangka Isa sebagai hantu, “mereka terkejut dan takut dan menyangkabahwa mereka melihat hantu”(Lukas 24:37).Melihat para murid beliau nampak “pucat” karena takut, maka beliau punmenjelaskan bahwa beliau bukan hantu namun manusia yg terdiri dari darah,daging, dan tulang bahkan beliau menunjukan dan menyuruh murid beliau untukmenyentuh bagian-bagian tubuh beliau yg terdapat bekas luka. “Lalu Yesusbertanya kepada mereka itu : “Apakah sebabnya kamu terkejut? Dan apakahtimbul wasangka di dalam hati kamu?” Tengoklah tanganku dan kakiku, inilah akusendiri. Jamahlah aku, dan lihatlah, karena hantu tiada berdaging dan tulangseperti yg kamu lihat ada padaku”“Setelah ia berkata demikian, ditunjukannya kepada mereka itu tangannya dankakinya” (Lukas 24:38-40)“Lalu ia pun bersabda kepada Tomas : “Ulurkanlah jarimu, lihatlah tanganku, danulurkanlah tanganmu serta letakan di rusuk-ku, dan janganlah engkau syak,melainkan yakinlah” (Yahya 20:27)
Nabi Isa a.s. menjumpai murid-murid beliau
Demikianlah Nabi Suci Isa a.s. telah menemui para murid beliau dan menjelaskankepada mereka bahwa beliau hidup dan lolos dari kematian terkutuk di tiang salib.Allahu Akbar..!!!..Allah Maha Kuasa menolong hamba-Nya..!!!

17
Meski demikian kondisi beliau belumlah sepenuhnya aman, karena jika keberadaanbeliau diketahui oleh kaum Yahudi maka tentu mereka akan mencoba untukmembunuh beliau lagi. Lalu bagaimanakah kisah perjuangan suci beliau a.s. dalammelaksanakan misi kerasulan beliau selanjutnya?

32
Semoga pembaca dikarunia keterbukaan fikiran untuk melihat fakta – fakta sejarahini, bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) tidak pergi meninggalkan bumi melainkan pergimenuju negeri-negeri Timur untuk bertabligh kepada suku-suku Israil yg hilang.Dalam injil yg empat itu hanya Lukas dan Markus yg menceritakan kenaikan Isa kelangit, dan hal itupun saat ini kian diragukan keotentikannya oleh para sarjanaKristen. Banyak yg mengatakan bahwa perihal naik nya Yesus ke langit adalahtambahan yg dilakukan oleh Erestinc di kemudian hari.
Kandahar, Afghanistan. Di kota ini juga terdapat jejak 10 suku Bani Israil
Dalam buku Strans, Life of Jesus pada hal.750 tertulis : “..ini benar, Al Masih tidakmati di atas kayu salib, karena dia hanya tinggal sebentar saja diatas kayu salibitu. Darah yg keluar dari tubuhnya itu menunjukkan keraguan atas kematiannya”.Nabi Isa a.s. melakukan perjalanan tabligh beliau melintasi Media (Persia) lalumemasuki wilayah Afghanistan dimana beliau banyak menemui suku-suku Israil yghilang. Selepas Afghanistan beliau melanjutkan perjalanan beliau memasuki Taxila(Hindustan Utara-Pakistan) dan bertemu Raja Gondhapares sekitar tahun 60 M(Acta Thomae, Ante Nicene Christian Library , Vol XX, 46).
Taxila, terletak di bagian Utara Pakistan

33
Dari Taxila beliau menuju kota Murree, di kota inilah ibunda beliau Hz. Siti Maryam wafat dan dikuburkan. Orang-orang kota itu menyebut pusara Hz. Siti Maryamdengan nama Mai Mara da Asthan yg artinya tempat istirahat Ibuda Maryam.
Bukit Murree, Hazrat Maryam r.a. wafat dan dikuburkan di kota iniBatu nisan makam Hazrat Maryam r.a. di Kota Murree
Dari kota Murree Nabi Yesus a.s. (Isa) melanjutkan perjalanan menuju kota ygdikenal saat ini dengan nama Aish Muqam (Aish berasal dari kata Isa) yg terletak 70Km dari Srinagar. Selanjutnya beliau singgah di Srinagar Kashmir dan menetap disana hingga akhir hayat beliau.Sampainya Nabi Isa (Yesus) a.s. ke negeri Kashmir terdapat dalam buku “TheHeavenly high snow peak of Kashmir” yg dimuat dalam “Asia Magazine” pada bulanOktober 1930, ditulis bahwa Al Masih pasti pernah datang ke negeri ini, dan diatidak mati di atas kayu salib. Kemudian dengan tegas ditunjukkannya pulakuburan Al Masih”.Dalam kitab Ikmaluddin yg ditulis lebih dari 10 abad yg lalu oleh Sheikh Al Said usSadiq (wafat pada tahun 962 M di Khorasan) pada halaman 359 tertulis : “Nabi YusAsaf (Yesus) telah banyak mengunjungi berbagai-bagai negeri, hingga ia sampai dinegeri ini, yg namanya Kashmir. Ia tetap tinggal di sini, hingga ia wafat. Ia telahmeninggalkan tubuh kasarnya, dan ruh nya berangkat kepada Nur. Sebelum ia

34
wafat, ia telah memanggil seorang muridnya bernama yabid (Thomas), yg selalumengkhidmati dan mengikut padanya. Ia berwasiat kepadanya begini: “Saya hampirakan meninggalkan dunia ini, dan saya akan diangkat ke alam baqa. Jagalah apa-apa kewajibanmu, jangan tergelincir daripada hak, dan kerjakan ibadah. Ia suruhmuridnya itu membuat sebuah rumah-rumahan di atas kuburnya. Sesudahberkata itu, lalu ia berbaring, kepalanya ke arah Maghrib (barat) dan mukanya keMasyrik (timur), kemudian barulah nafasnya yg penghabisan dihembuskan”.
Rumah yg di dalamnya terdapatKuburan Nabi isa a.s.Kuburan Nabi Isa.a.s.Di Kashmir India
Bukti lain dari keberadaan Isa di negeri Hindustan adalah ada pada kitab kunoberbahasa sansekerta yg berjudul Bhavishya Maha Purana yg ditulis oleh Suttapada tahun 115 Masehi. Dalam Kitab ini diabadikan pertemuan antara RajaShalewahin dengan Nabi Isa di Wien (Srinagar Utara). Dikisahkan: “Di negeri itu ia(Shalewahin) menampakkan di Wien seorang raja saka, yg berkulit putih danmemakai baju putih. Dia (Shalewahin) bertanya siapakah ia. Jawabnya ialah bahwaia Yusashaphat (Yus Asaf), dan dilahirkan oleh seorang dara, dan ia berkata bahwaia mengatakan yg sebenarnya dan ia berkewajiban membersihkan agama. Raja itubertanya apakah agamanya. Ia menjawab : “Wahai Raja, kalau kebenaran telahlenyap dan tak ada pembatas di negeri Maleech, saya muncul di sana, dan karenapekerjaan saya maka yg bersalah dan jahat menderita, dan saya juga menderitakarena tangan mereka”. Raja itu bertanya lagi apa agamanya”. Ia menjawab, “Agamaku untuk menimbulkan cinta, kebenaran, dan kesucian dalam hati dankarena itu saya disebut
Isa Masih
”. Raja itu pergi setelah memberikanpenghormatan kepadanya….” (Hal.282, Parwa (Bab) III, Adhyaya II, Salok 9-31, dariterjemahan Inggris oleh Dr. Widyavaridi Shiv Nath Shastri).Menurut penduduk Kashmir, di Srinagar ada satu kuburan Nabi yg telah beributahun lamanya. Kata mereka Nabi itu namanya Yus Asaf, yang datang dari Barat,kira-kira 1900 tahun yg lalu. Kuburan ini terang-terang diakui orang banyaksebagai kuburan Nabi Sahib dan sebagian orang lagi mengatakan Kuburan IsaSahib (sahib artinya Tuan). Jadi jelas bahwa Nabi Yus Asaf ini tak lain adalah Yesus. Karena orang Kashmirmenyebut orang ini Nabi, sedang kata Nabi adalah berasal dari kata dalam bahasaArab dan Ibrani, jika Nabi ini orang Hindustan maka dia akan dipanggil denganAvatar bukan Nabi. Lalu dikatakan Nabi ini datang dari barat dan pada zaman ygsama dengan zaman Isa (Yesus), jadi kalau bukan Yesus siapa lagi? Karena antaraYesus dan Muhammad tidak ada nabi lain. Orang-orang srinagar pun menyebut

35
kuburan ini sebagai kuburan Isa Sahib. Lafaz Yus dan Yesu adalah hampir samabahkan tidak bisa dibedakan, sedang Asaf adalah nama beliau dalam injil ygartinya “pengumpul” atau “penghimpun”. Kemudian Yus Asaf meninggalkan kitab yg bernama Busyra (khabar suka), jelas sama dengan Kitab Injil yg artinya jugakhabar suka. Prof. Dr. Hassnain (Arkeolog dan ahli sejarah India) dan juga SirFrancis Younghusband mengatakan bahwa Nabi Yus Asaf ini mengajarkan dengantamsil-tamsil (perlambang-perlambang) yg seperti yg ada dalam Injil (Isa/Yesus).Demikianlah Nabi Yesus (Isa, Yus Asaf) a.s. menunaikan kewajiban beliau,menunaikan amanat risalah beliau a.s.. Diselamatkan oleh Allah SWT, dipanjangkan usia beliau a.s. (120 tahun), dan beliau berjalan jauh melintasi beragam negeridari barat ke timur untuk menghimpun domba-domba Israil yg hilang. Beliau wafatdalam kemenangan, diangkat oleh Allah derajat beliau, dibersihkan nama beliaudari tuduhan terkutuk orang Israil, dibersihkan nama beliau dari itikad musyrikumat Nasrani, dan dibersihkan nama beliau dari pemaham syirik sebagai manusia yg hidup di langit.“Dan Kami jadikan anak Maryam dan ibunya suatu tanda dan Kami berikanmereka perlindungan pada tanah yg tinggi dengan lembah-lembah hijau dansumber air yg mengalir” (Al Mukminun : 51). Di kawasan pegunungan dan lembahSrinagar Kasmir yg hijau, subur, dan banyak terdapat sumber-sumber air Allahtelah menempatkan Isa bersama ibunya dan melindungi mereka hingga akhirhayat, ditengah-tengah kaum yg menerima mereka. Allahu Akbar! Tiada Tuhanselain Allah. Yang Maha Kuasa lagi Maha Melindungi.
Lembah Kashmir yg dikelilingi gunung danBanyak sumber airBeautifull Srinagar Kashmir

38
Perlu difahami bahwa arti Qad Khalat tiada lain adalah wafat/mati. Silahkan jugabaca Tafsir Al Furqan oleh A. Hassan, Guru Persatuan Islam dalam tafsir Al Ahqaf 17. Sedang H. Zainudin Hamidi dkk mengartikan dalam terjemahan Qur’an-nyasebagai “yg telah lewat dengan tiada kembali lagi”.Ayat Ali Imran 144 inilah yg dibacakan oleh Hz. Abu Bakar r.a. pada saat wafatnyaRasulullah saw untuk meyakinkan Umar bahwa sebagaimana rasul-rasul yg dahulupun telah wafat maka hal demikian juga yg terjadi pada diri Rasulullah saw. Tentunya jika Nabi Isa a.s. masih hidup seperti yg diyakini umat Islam kebanyakansaat ini, tentunya akan ada perdebatan sengit antara Umar .r.a. dan para sahabat yg sedang berduka dengan Hz. Abu Bakar r.a. Tetapi kenyataannya Hz. Umar tidakmembantah.
16. Injil mengenai wafatnya Yesusa. Matius 23:39
“Yesus bersabda : “Karena aku berkata kepadamu, bahwa daripada masa ini tiadalagi kamu melihat aku, sehingga kamu berkata : Mubaraklah ia yang akan datangdengan nama Tuhan”.Dari ayat injil di atas jelaslah bahwa dunia tidak akan melihat Isa ibn Maryam(Yesus) lagi, dan Yesus tidak memberi khabar akan kedatangan ke dua kali kedunia. Artinya beliau akan wafat dan ruh nya pergi menuju Bapa (Allah) dan tiadakembali lagi.Dalam ayat Matius 23:39 di atas terdapat nubuatan mengenai kedatangan seorangnabi setelah wafatnya Isa/Yesus, yg mana ciri dari nabi itu adalah datang
dengannama Tuhan
. Mari kita hubungkan Matius 23:39 ini dengan Kitab ulangan 18: 17-22, yg antara lain disebutkan : “Segala firman-Ku yg akan dikatakan olehnya
dengan nama-Ku
”.Siapakah Nabi yg akan datang setelah Isa wafat ini? Yg dalam kedatangannya danfirman-firmannya disebut dengan nama Tuhan? Dialah Muhammad saw, yg manadi dalam kitab yg diturunkan kepadanya selalu diawali : “
Dengan nama Allah
ygMaha Pemurah dan Maha Pengasih” dalam setiap surah-surahnya.Namun tahukah anda bagaimana umat Kristiani menolak Muhammad saw? Karenamereka bertanya kepada kaum muslim: “Apakah Isa telah wafat?”.Umat Islam menjawab : “Tidak, beliau masih hidup”.Umat Kristiani menjawab lagi : “Kalau begitu Muhammad adalah Nabi Palsu”.“Kenapa? Apa dasarnya?” Tanya kaum Muslim.Umat Nasrani menjawab : “Karena dalam Matius 23:39 dikatakan bahwa syaratNabi itu datang adalah manakala Isa telah wafat, jadi kami tidak salah. Apalagisetelah kami konfirmasikan kepada umat Islam mereka sendiri juga mengakuibahwa Isa belum wafat, sama dan sependirian dengan kami yg percaya juga Isabelum wafat. Jadi belum saatnya Nabi itu datang”. Jadi untuk mematahkan salib ini adalah tiada lain selain mengimani danmembuktikan bahwa Isa (Yesus) telah wafat secara wajar.
b. Kitab Kejadian 6:3
“Firman Tuhan : “ Bahwa roh ku tiada akan berbantah-bantah selama-lamanyadengan manusia, karena hawa nafsu jua adanya, melainkan tinggal lagi panjangumurnya 120 tahun”.

39
Dlm Kitab Hadis Kanzul Umal Jld XI hal 479. Fatimah r.a. menerangkan Rasulullahsaw bersabda :”Sesungguhnya Isa ibnu Maryam usianya 120 tahun”. Jadi beliau tidak wafat dalam usia 33 tahun, tidak juga dalam usia 2000 tahunlebih, melainkan beliau wafat pada usia 120 tahun.Dr. Bob Holt M.D. seorang sarjana Kristen juga mengatakan
: “The proof that Jesus Christ, the “Messiah” of Western Civilization for 2000 years, survived crucifixion and lived out His later life in India, in the small Himalaya country of Kashmir.”

17. Penutup dan ucapan terima kasih
Maha suci Allah SWT sebagai mana Firman-Nya : “Wahai Isa, Aku akanmembebaskan engkau dari tuduhan-tuduhan itu dan Aku akan membuktikankesucian engkau. Dan Aku akan menjauhkan celaan-celaan yg dilontarkan orangYahudi serta Nasrani terhadap engkau” (Al Imran 56). Inilah janji Allah yang akanmembersihkan figur suci beliau dari hal-hal musyrik seperti trinitas, anak Tuhan,hidup di langit abadi dengan jasmaniyahnya, dll. Bahwa selama anggapan ini adamaka tidak saja sosok suci Nabi Isa a.s. yang terkotori, namun lebih dari itu ke Tauhidan Allah lah yang menjadi taruhannya. Tentu sebagai umat Islam yangmengakui ke-esa an Allah tidak akan rela menerima hal ini.Semoga Allah yg Maha memiliki hati setiap manusia membukakan hati dan pikiransaudara yg dengan karunia tersebut saudara dapat melihat bagaimanakah riwayatserta perjuangan suci Nabi Isa (Yesus) a.s..Bahwa Nabi Isa a.s. tidaklah mati terkutuk di tiang salib seperti keinginan umatYahudi. Bahwa Nabi Yesus a.s. juga tidak harus wafat di tiang salib untukpenebusan dosa, dan kemudian hidup kembali. Bahwa Yesus (Isa) a.s. juga tidaknaik ke langit, lalu menghilang, dan hidup abadi selama 2000 tahun lebih.Siapapun yg mengimani hal ini entah disadari atau tidak telah meletakkan jubahsyirik tidak hanya kepada sosok Nabi Suci Isa a.s. namun juga kepada dirinyasendiri.Dalam tulisan yg sederhana ini telah kami sampaikan suatu riwayat kehidupanNabi Isa a.s. dan membukakan tabir misteri akan perjalanan hidup beliau a.s.berdasarkan Kitab Al Qur’an, Injil, Al hadis, Kitab-kitab sejarah, sertab fakta-faktasejarah. Terakhir saya ingin mengucapkan terima kasih Jazakumullah ahsanal Jaza kepadapembaca yg budiman serta Teriring do’a tulus untuk anda, semoga Allah ygmemiliki kebenaran menunjukan kebenaran-Nya kepada anda dan membuka hatiserta menuntun anda kepada kebenaran-Nya, amin Allohumma amin.WassalamYg lemah,
Abu Jihan
For My Beloved Daughter Jihan Khairina Syahirah
Sumber Pustaka :
1.

Masih Hindustan Mein,2.

Buletin Kristologi, oleh Ali Mukhayat 3.

The Coice, oleh Ahmed Deedat 4.

http://www.alislam.org 5.

http://www.tombofjesus.com 6.

Majalah bulanan Nur Islam.

40
7.

Officieel Verslag, sinar Islam Jakarta

MENJAWAB BAHWA ALQURAN ACAK-ACAKAN

Orang-orang Kristen sering bertanya kepada umat Islam dalam berbagai kesempatan, baik orang per orang, dalam diskusi terbuka, di Internet maupun dalam buku-buku yang menghujat Islam.

Dalam diskusi kami di Arimatea Pusat di Bambu Apus dengan orang-orang sekolah Theologi Kristen, mereka bertanya mengapa al-Qur’an susunannya tidak beraturan, atau dalam bentuk pertanyaan lain yang lebih halus :

Kami ingin mengetahui, berdasarkan apakah al-Qur’an disusun? karena kalau kami amati, surat pertama dalam al-Qur’an adalah surat al-fatihah yang termasuk surat pendek, kemudian disusul surat al-Baqarah yang cukup panjang, tetapi surat terakhir justru surat yang masuk dalam katagori surat yang sangat pendek. Jadi menurut pendapat kami al-Qur’an tidaklah disusun berdasarkan panjang pendeknya surat, dan menurut pengamatan kami, al-Qur’an tidak pula disusun berdasarkan urutan turunnya surat, karena surat al-Fatihah bukanlah surat yang pertama kali turun tetapi ditempatkan pada urutan pertama, dan surat yang pertama kali turun justru ditempatkan pada akhir-akhir al-Qur’an. Mohon dijelaskan atas dasar apakah penyusunan al-Qur’an itu ?

Pertanyaan seperti itu memang sangat wajar dilontarkan oleh orang-orang Kristen, karena memang kitab mereka disusun berurutan sama persis dengan kitab sejarah yang disusun berdasarkan urutan waktu.

Kalau kita tengok kitab orang Kristen, pasal pertama adalah tentang silsilah Yesus, kemudian disusul tentang kelahiran Yesus, kemudian pembaptisan Yesus, dakwah Yesus, pengejaran Yesus dan akhirnya tentang terangkatnya Yesus ke langit, hampir sama dengan kitab otobiographi orang-orang terkenal yang disusun sejak lahirnya hingga masa tuanya (matinya).

Tetapi tidak sama dengan al-Qur’an, karena al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, al-Qur’an adalah kitab petunjuk hidup, al-Qur’an adalah kitab yang berisi hukum-hukum, pelajaran-pelajaran dan lain sebagainya.

Marilah kita kaji rahasia dibalik susunan ayat-ayat al-Qur’an yang menurut orang-orang Orientalis dan Kristen tidak beraturan.

SUSUNANNYA DARI ALLAH SWT
Bahwa susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur’an seperti yang sekarang ini ada adalah susunan yang dibuat oleh nabi Muhammad saw yang mendapat mandat dan pengawasan dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Bukan atas kesepakatan para sahabat atau umat Islam.

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. QS.75:17

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. QS. 75:18

Bila Malaikat jibril membacakan wahyu dari Allah SWT maka nabi Muhammad diperintah mendengarkannya dan bila Malaikat Jibril telah selesai membacakannya maka nabi Muhammad saw diperintah untuk mengikuti bacaan sesuai yang dibacakan malaikat Jibril .

Malaikat Jibril setiap tahun pada bulan Ramadhan datang menemui nabi untuk menjaga bacaan dan susunan al-Qur’an :
Fatimah berkata :’Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun, hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.’ HR. Bukhari bab Fada’il al-Qur’an

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw berjumpa dengan malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadhan hingga akhir bulan, masing-masing membaca al-Qur’an silih berganti. HR. Bukhari bab shaum

Hadith – hadith diatas dan beberapa hadith yang lainnya memberikan gambaran bahwa sistem bacaan antara nabi Muhammad saw dengan malaikat Jibril adalah menggunakan sistem Mu’arada yaitu malaikat Jibril membaca satu kali dan nabi Muhammad saw mendengarkannya begitu pula sebaliknya.

Dengan sistem tersebut yang secara periodik dilakukan setiap bulan Ramadhan, memberikan jaminan bahwa susunan al-Qur’an yang sampai kepada umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini adalah susunan yang sesuai dengan susunan yang Allah SWT kehendaki.

SUSUNANNYA UNIK, ITULAH KETERATURANNYA.
Kata orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, al-Qur’an susunannya tidak beraturan, tidak berdasarkan urutan waktu turunnya, tidak berdasarkan panjang pendeknya surat, tidak berdasarkan tempat turunnya dan tidak pula berdasarkan pokok bahasan. Semua anggapan itu benar adanya, memang tidak atas dasar itu semua, susunan al-Qur’an atas dasar apa yang tahu hanya yang membuat al-Qur’an yaitu Allah SWT.

Namun, susunan yang dikatakan tidak beraturan tersebut, bagi yang mengkaji al-Qur’an justru akan menjumpai kemudahan-kemudahan menjadikan al-Qur’an sebagai tuntunan hidup, coba saja simak dengan hati yang jujur, ustadz-ustadz yang berdakwa jarang sekali yang membawa al-Qur’an, mereka dengan mudahnya menunjukkan ayat-ayat yang sesuai dengan pokok bahasan. Bila ada orang yang bertanya tentang sebuah masalah, seorang ustadz de-ngan mudahnya menunjukkan dalilnya dari al-Qur’an, inilah rahasia susunan al-Qur’an yang dibilang oleh orang-orang mereka tidak beraturan.

Satu lagi mukjizat dari al-Qur’an yang dibilang tidak beraturan tersebut, berjuta-juta manusia dengan mudahnya menghafal al-Qur-’an, baik tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang Arab ataupun orang Indonesia, bahkan orang China sekalipun yang mempunyai struktur bahasa sangat berbeda dengan bahasa Arab, bukankah ini mukjizat al-Qur’an yang menurut penilaian manusia tidak beraturan, bukankah yang tidak beraturan akan sulit dihafal ?, tetapi al-Qur’an mudah sekali dihafal, itu artinya al-Qur’an sangat beraturan susunannya, hanya manusialah yang tidak mempunyai ilmu mengetahui keteraturan al-Qur’an.

Tetapi pertanyaan bisa kita kembalikan kepada orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, mengapa tidak seorangpun dari mereka yang hafal kitab mereka yang mereka aku-aku disusun secara beraturan ?

Tentu setiap orang bila tanya mana yang lebih mudah dihafalkan, apakah kalimat yang disusun secara beraturan atau kalimat yang disusun acak tidak beraturan, tentu setiap orang akan menjawab tentu akan mudah meng-hafal kalimat yang disusun beraturan, kalau memang jawabannya demikian berarti al-Qur’an telah disusun dengan beraturan, terbukti al-Qur’an telah dihafal oleh jutaan manusia dari dulu hingga sekarang, dari Arab sampai ke China. Tetapi kita tidak mendapati seorangpun yang hafal Bible dari dulu hingga sekarang dari Israel hingga Indonesia.

Satu lagi bukti, bahwa keunikan al-Qur’an adalah sebuah mukjizat, apakah ada orang yang berhasil memalsukan al-Qur’an, padahal kalau al-Qur’an susunannya dibilang tidak beraturan, tentunya orang akan lebih mudah menyisipkan satu kata ke dalam al-Qur’an, tetapi ternyata semua tidak ada yang berhasil, baik orang-orang Orientalis maupun orang-orang Indonesia seperti yang pernah terjadi di Padang dan di Jogja.

BUMI SEBAGAI ANALOGI
Bila kita cermati bumi yang kita tempati ini, di mana-mana ada gunung, laut, daratan, hutan, danau, emas, batu-bara, mangga, apel, jeruk, durian dan lain sebagainya.

Kalau hukum keteraturan seperti yang diinginkan oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, maka susunan gunung, daratan, lautan, danau, buah-buahan, hewan yang ada di bumi dapat dikatakan semrawut tidak terkelompokkan.

Padahal susunan bumi yang seperti itulah yang menjadikan kehidupan di bumi ini harmonis dan seimbang baik secara geografis maupun secara ekosistem.

Bisa anda bayangkan andaikata bumi ini diciptakan dengan susunan menurut otaknya orang-orang Orientalis di mana gunung-gunung ditempatkan di satu tempat, lautan mengumpul di tempat yang lainnya, daratan ditempat yang lain lagi, maka bumi ini akan berhenti berputar karena kehilangan keseimbangannya. Bukankah ketidakteraturan susunan gunung-gunung, lautan, daratan, lembah itulah yang justru menjadikan bumi berputar?.

Bukankah adanya buah-buahan, hewan, ikan dan lain sebagainya diseluruh belahan bumi ini menjadikan kehidupan dunia ini seimbang dan harmonis, bisa anda bayangkan andaikan di Indonesia ini tumbuh buah durian saja, di Thailan tumbuh beras saja, di Australia tumbuh gandum saja, di Amerika yang ada batu bara saja tidak ada hewan, buah-buahan dan air, maka tidak ada lagi keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini.

Seperti yang pernah terjadi pada kaumnya nabi Musa as, di mana mereka tidak bisa tahan dengan satu makanan saja :

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:”Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merah-nya”……. QS. 2:61

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengi-saran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. QS. 2:164

Begitulah Allah SWT menciptakan bumi yang harmonis yang tumbuh buah-buahan dan menyebarkan bermacam-macam hewan di seluruh belahan bumi ini sehingga tercipta keharmonisan dan keseimbangan.

Seperti itu juga al-Qur’an disusun, ada kisah nabi Adam pada surat Ali Imran, Al-Mai-dah, al-A’raaf dan seterusnya, begitu juga tentang ayat-ayat aklaq, akidah, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya menyebar di beberapa surat. Hanya Allah SWT yang mengetahui secara persi letak keteraturan dan keharmonisan al-Qur’an.

Pada halaman empat terdapat dua contoh penempatan ayat yang sepintas nampak tidak teratur tetapi setelah dikaji justru penempatan tersebut sangat mengagumkan.

CONTOH-CONTOH RAHASIA PENEMPATAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN
Mari kita ambil satu contoh ayat dan penempatannya :

Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, QS.2:2

Allah SWT menegaskan pada awal-awal al-Qur-’an dengan menyebut bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, padahal Allah SWT bisa saja menyebutkan al-Qur’an sebagai kitab yang Agung, Mulya dan lain sebagainya pada awal-awal al-Qur’an.

Hal ini sebagai jaminan dari Allah dan jaminan harus diletakkan pertama kali agar orang-orang yang ingin mempelajari kandungan al-Qur’an lebih jauh mempunyai keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang isinya tidak ada keragu-raguan sedikitpun, jaminan ini diperlukan karena al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang tentunya tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam petunjuk tersebut.

Mari kita ambil lagi susunan ayat yang oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen dibilang tidak beraturan :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sem-pat kamu menyembelihnya, dan (diharam-kan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (di-haramkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah ke-fasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.

Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. 5:3

Wahyu-wahyu tersebut tersusun dalam satu ayat, namun wahyu-wahyu tersebut tidak turun dalam waktu yang bersamaan, paragraf ketiga adalah wahyu yang turun terakhir, sementara paragrap pertama, kedua dan ke empat turun jauh sebelumnya.

Menurut orang-orang Orintalis dan orang-orang Kristen susunan tersebut amburadul, lihat saja dari paragraf pertama yang bicara soal halal haram langsung loncat ke masalah tidak boleh takut kepada orang-orang kafir pada paragraf kedua, lalu disusul tentang kesempurnaan agama dan nikmat lalu loncat ke masalah makanan.

Sepintas sepertinya benar tuduhan mereka tentang ketidak-teraturan susunan al-Qur’an, tetapi justru susunan tersebut sangat teratur dan harmonis, lihat keteraturan ayat tersebut berikut ini :

Bahwa nabi Muhammad saw diutus untuk memperbaiki aklaq manusia di mana mereka saat itu salah satunya adalah terbiasa memakan bangkai, mence-kik hewan untuk dimakan supaya nikmat karena ada darahnya, mengundi nasib, seperti paragrap pertama.

Terhadap misi Rasulullah tersebut orang-orang kafir berusaha menghalang-halangi, lalu Allah memberikan kemenangan atas Rasulullah sehingga orang-orang kafir berputus asa untuk menghalangi misi Rasulullah tersebut, seperti paragraf kedua.

Atas kemenangan tersebut Allah SWT menurunkan wahyu -wahyu yang terakhir kali turun- bahwa telah sempurna agama dan nikmat yang Allah berikan seperti yang termuat dalam paragraf ketiga,

Kemudian dalam paragraf ke empat di terangkan bila karena syariat Allah SWT (hukum halal-Haram) orang menjadi kelaparan dan memakan yang haram karena terpaksa maka Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Bukankah susunan seperti itu adalah susunan seperti gunung-gunung, daratan, lautan, hutan yang menyebar di seluruh permukaan bumi, yang terkesan tidak teratur tetapi sejatinya harmonis dan seimbang.

Bukankah susunan ayat tersebut terkesan tidak teratur tetapi sejatinya sangat sempurna dan mengagumkan susunannya sebagai petunjuk hidup ?, seperti itu juga ayat-ayat lainnya di susun pada tempat dan urutan yang sangat tepat.

Semoga tulisan ini dapat menambah keimanan kita akan kemurnian Al-Qur’an. Amin. (al-islahonline)

Hadis VS Injil (lebih otentik mana?) TERNYATA LEBIH OTEKTIK HADIST!!!

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membandingkan Al hadis sebagai sumber hukum ke dua dalam Islam dengan injil sebagai sumber hukum Utama dalam umat kristiani

Kenapa dengan Hadis, karna kalo dengan Al Quran, g usah di bandingin, pasti sangat jauh heee. Ok langsung aja

1. Hadis

Hadis adalah adalah perkataan dan perbuatan dari Nabi Muhammad. Hadis sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur’an.

Saya Ambil contoh Hadis yang diriwayatkan Oleh Imam Bukhari

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” HR Bukhori

Dari hadis di atas kita dapat membuat suatu bagan asal-muasal dari mana Imam Bukhari mendapatkan Hadis tersabut

dengan mengetahui dari mana Sanad [ rantai penutur/perawi (periwayat)] hadis, maka Hadis bisa di klarifikasikan Berdasarkan tingkat keaslian hadis

Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadis. Hadis shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Sanadnya bersambung;
Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadis .
Hadits Hasan, bila hadis yang tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
Hadits Dhaif (lemah), ialah hadis yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
Hadits Maudu’, bila hadis dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
Pembagian hadis ini sangat membantu kita untuk memilih dan memilah hadis yang akan kita gunakan sebagai sumber hukum.
Untuk lengkapnya silahkan merujuk ke sini

2. Bible/Injil

Sekarang mari kita bandingkan dengan Injil, yang konon katanya KITAB SUCI dari tuhan. Saya ambil contoh Injil Lukas, coba kita cari tahu darimana Lukas memperoleh “firman tuhan”

Teofilus yang budiman, Banyak orang sudah berusaha menulis dengan teratur mengenai peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di tengah-tengah kita.

Mereka menulis sesuai dengan yang diceritakan kepada kita oleh orang-orang yang melihat sendiri peristiwa-peristiwa itu dari permulaan, dan kemudian menyiarkan kabarnya.

Setelah saya dengan teliti menyelidiki semuanya itu dari permulaannya, saya menganggap baik untuk menulis sebuah laporan yang teratur untuk Tuan.

Saya melakukan itu, supaya Tuan tahu bahwa apa yang telah diajarkan kepada Tuan memang benar Lukas 1-4.

Coba kita perhatikan, rupanya Lukas hanya mengumpulkan cerita cerita yang konon katanya menjadi saksi pada zaman yesus. Maaf menurut saya Bibel itu lebih tepat di sebut KUMPULAN DONGEN bukan KITAB SUCI, knp? Karna isinya memang cuma kumpulan cerita cerita yang belum di ketahui kebenaran dan asal muasalnya

Lukas memang berkata sudah menyelidiki atau menyaring semua cerita, akan tetapi kita diketahu bagaimana cara dia menyaring dan menelitinya, bahkan lebih parah lagi tidak di ketahui dari mana asal muasal cerita itu siapa sembernya dan darimana asalnya, sungguh sangat Ironis, inforasi seperti ini di jadikan sebagi “KITAB SUCI”

Kamudian mari kita perhatikan salah satu contoh hasil pencatatan LUKAS dalam injil nya

Ketika Herodes menjadi raja negeri Yudea, ada seorang imam bernama Zakharia. Ia termasuk golongan imam-imam Abia. Istrinya bernama Elisabet, juga keturunan imam. (lukas 5)

Coba kita perhatikan, ayat di atas itu di tulis berdasarkan Inspirasi dan modofikasi modifikasi si penulis belaka yang ia dasarkan berdasarkan asumsi asumsi dan penilaian pribadi saja, dari pada sumber aslinya, berbeda jauh dengan Hadis yang di tulis persis sebagai mana Nabi bersabda, sehingga tidak mengherankan jika Menurut hasil penelitian 72 pakar Al kitab caliber international yang tergabung dalam “The Jesus Seminar” menyatakan :

“Eighty-two percent of the word ascribed to Jesus in the Gospels were not actually spoken Him”

(82% kalimat yang katanya di ucapkan oleh Yesus di dalam Alkitab-Alkitab injil sebenarnya ridak pernah di sabdakan oleh Yesus)*

* (Robert W. Frunk, Roy W. hoover and the Jesus seminar, “The five gospels, The search of the authentic Word of Jesus, Macmillan Publising Company New York 1993, hal 5)

Ini yang berkata bukan orang islam, tetapi orang kristen sendiri yaitu 72 pakar Al kitab Internasional

Semoga pemaparan singkat ini menjadi menjadi bahan renungan bagi saudaraku kaum nasrani sehingga menjadi sebab turunnya Hidayah Allah SWT. Wallahua’lam

Yesus seorang utusan Tuhan

Pertanyaan yang ketiga ini sangat menantang bagi semua pihak, terutam: bagi umat Kristiani karena hampir semua umat Kristiani, rasanya tidak ada yang tidak menyembah kepada Yesus sebagai Tuhat dan juruselamat mereka. Mulai dari anak kecil, dewasa dan orang tua, mereka semu diajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan ata Allah itu sendiri yang harus disembal Padahal setelah kami pelajari, kaji da dalami, ternyata tidak ada satu dalilpun di dalam Alkitab (Bible) itu sendiri diman Yesus pernah bersabda bahwa “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah aku saja.” Tidak ada!! Yang ada justru Yesus bersabda, “Sembahlah Allah Tuhanmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti. °

 

Ucapan atau sabda Yesus tersebut men berikan suatu pengertian kepada kita bahwa Yesus itu bukan Tuhan atau Allah yang harus disembah, karena dia hanyalah seorang Nabi atau Rasul.

Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kisah didalam Alkitab yaitu pada Injil Matius 4:8-10, yaitu ketika Yesus dicoba oleh Iblis sebagai berikut :

“Dan Iblis membawanya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memper­lihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada­Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. ” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:8-10)

 

Ayat-ayat tersebut adalah seputar kisah tentang percobaan di padang gurun ketika Yesus akan dicobai Iblis. Sebelumnya Iblis mencoba Yesus dengan menyuruh membuat batu-batu jadi roti, namun tidak berhasil, kemudian percobaan kedua Iblis menyuruh Yesus jatuhkan dirinya dari atas bubungan Bait Allah, namun tidak berhasil. Terakhir Iblis membawa Yesus kepuncak gunung yang tinggi dan menawarkan untuk diberikan kepada Yesus semua kerajaan dunia ini dan kemegahannya, asalkan Yesus mau sujud menyembah kepadanya.

Pada percobaan yang ketiga inilah Yesus menghardik Iblis tersebut seraya berkata, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

 

Dari ucapan Yesus tersebut dapat kita pahami:

1. Iblis tahu bahwa Yesus mengajarkan Tauhid, yaitu menyembah hanya kepada Allah saja (laa ilaaha ilallaahu).

2. Terhadap Iblis saja Yesus perintahkan bahwa menyembah dan berbakti itu hanyalah kepada Allah saja, bukan lainnya, bukan juga pada dirinya.

3. Iblis tahu bahwa Yesus itu bukan Tuhan, sebab jika Yesus itu Tuhan, tentu kata­kata Yesus sebagai berikut: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah aku Tuhan, Allahmu, dan hanya kepadaku sajalah engkau berbakti!”

 

Yesus sendiri yang memberikan kesak­sian bahwa menyembah dan berbakti itu, hanyalah kepada Allah, bukan kepada dirinya, mengapa justru Yesus itu yang dijadikan sesembahan oleh saudara­saudara kita umat Kristiani?

Dalam kitab suci Al Qur`an Nabi Isa as (Yesus) juga mengajarkan Tauhid, yaitu menyembah itu hanya kepada Allah saja, bukan kepada yang lainnya, bukan juga kepada dirinya. Perhatikan ucapan Nabi Isa as (Yesus) dalam Al Qur`an:

Innallaaha huwa rabbii wa rabbukumfa`buduuhu haadzaa shiraathum mustaqiim

“Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus.

Bahkan dalam kitab Taurat Musa Ulangan 6:4, dikatakan bahwa Tuhan itu Esa:

“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!”

Berdasarkan Taurat, Injil dan Al Qur`an, Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan yang Esa, bukan Yesus yang disembah. Bahkan Yesus sendiri menyuruh menyem­bah hanya kepada Allah yang dia sembah.

Oleh sebab itu untuk pertanyaan yang ketiga ini, disediakan pula hadiah uang. tunai sebesar Rp. 10.000.000.- bila menemukan ayat dalam Alkitab (Bible), dimana Yesus mengatakan kepada para pengikutnya, “Akulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah aku saja”. Kami yakin siapapun tidak akan menemukannya. Tetapi jika menemukannya, silahkan hubungi kami untuk mengambil hadiah Rp 10.000.000.

Seandainya tidak menemukannya berarti Yesus tidak pernah mengajarkan kepada umatnya bahwa dia adalah Tuhan atau Allah itu sendiri, yang harus disembah.

Menyamakan Yesus dengan Tuhan atau Allah, adalah suatu perbuatan dosa, sebab baik Yesus maupun Allah, tidak mengajarkan seperti itu. Bahkan didalam Alkitab itu sendiri, Allah melarang siapa saja yang, menyamakan Dia dengan yang lainnya Perhatikan ayat Alkitab sebagai berikut:

“Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama? (Yesaya 46: 5

Insya Allah dalam Alkitab

sekali lagi inilah bukti bahwa Alkitab juga mengajarkan mengucapkan Insya Alloh ketika seseorang hendak melakukan sesuatu…

 

Yak 4:13-17 (13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan disana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentarsaja keliahatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata” Jika Tuhan menghendakinya (Insya Allah), kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”(16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah (17) Jadi jika seorang tahu bagaimanaia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

INSYA ALLLAH (JIKA TUHAN MENGHENDAKI) Dalam berbagai bahasa daerah ………………..

Penjelasan: Alkitab mengajarkan bahwa jika mengatakan sesuat yang belum tentu atau belum pasti terjadi, hendaklah katakan”Insya Allah (jika Tuhan menghendaki). Tapi umat Kristen begitu berani memastikan sesuatu walaupun belum terjadi. Bahkan mereka tidak mau menggunakan kata “insya Allah” (Jika Tuhan menghendaki) karena mereka merasa yakin dan pasti bahwa dengan nama Yesus segala sesuatu pasti akan terjadi.

Padahal dalam Alkitab jelas menyalahkan, bahwa siapa yang berani memastikan sesuatu yang belum past terjadi, adalah dosa, sebagaimana dalam Yakobus 4:15 tadi.

Lebih ekstrim lagi, mereka justru menuduh bahwa dalam agama Islam semua masih serba tidak pasti, makanya kata mereka, keselamatan dalam agama Islam belum pasti karena masih serba insya Allah. Menurur mereka, keselamatan itu hanya ada dalam nama Yesus, sebab asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, pasti dijamin masuk surga. Padahal jika cari didalam seluruh isi Alkitab, kata “pasti masuk surga” tidak ditemukan.

Semua umat Islam diwajibkan mengucapkan Insya Allah jika mengatakan sesuatu yang belum terjadi karena demikianlah tuntunan yang diberikan lewat Al Qur’an. Perhatikan firman Allah dibawah ini:

99. falammaa dakhaluu ‘alaa yuusufa aawaa ilayhi abawayhi waqaala udkhuluu mishra in syaa-a (al)laahu aaminiin(a)

Artinya : 99. Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya[762] dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (Qs 12 Yuusuf 99)

69. qaala satajidunii in syaa-a (al)laahu shaabiran walaa a’shii laka amraa(n)

Artinya : 69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (Qs 18 Al Kahfi 69)

102. falammaa balagha ma’ahu (al)ssa’ya qaala yaa bunayya innii araa fii (a)lmanaami annii adzbahuka fa(u)nzhur maatsaa taraa qaala yaa abati if’al maa tu/maru satajidunii in syaa-a (al)laahu mina (al)shshaabiriin(a)

Artinya: 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Qs 37 Ash Shaaffaat 102)

Penutup

Demikianlah ke 10 alasan kami sampaikan dengan panjang lebar, bahkan dengan memuat referensi dari berbagai bahasa-bahasa daerah maupun bahasa inggris. Jika pemuatan ayat-ayat Alkitab dalam bahasa-bahasa daerah ada yang kurang dipahami, mugkin karena telah terjadi perobahan ejaan baru yang berkembang mengikuti jaman. Sebenarnya masih cukup banyak bahasa daerah lain akan kami muat, mengingat terlalu banyak dan halaman buku ini akan menjadi panjang sekali bila memuat seluruhnya. Bila ada umat Kristiani yang membaca buku ini, semoga mereka diberi hidayah oleh AllahSWT, dibukakan pintu hatinya, untuk menuju kepada jalan yang benar. Sebab jika umat Kristiani mau benar-benar hanya mengikuti perintah Allah dan Yesus (Isa as) dalam alkitab, maka jalan satu-satunya harus masuk Islam, sebab nabi Isa (Yesus) juga seorang muslim dan beliau adalah nabi kami umat Islam juga. Menjadi pengikut Yesus yang sebenarnya, karena nabi Muhammad adalah penerus ajaran nabi Isa as.

Semoga buku ini bisa memberikan pemahaman yang lebih dalam bagi siapa saja yang benar-benar ingin mencari kebenaran yang hakiki.

Menjawab Pernikahan Nabi Muhammad saw lebih dari 4 orang

Waalaikumussalam Wr Wb

Al Qur’an membicarakan tentang disyariatkannya poligami hanya didalam dua ayat yang keduanya berada di surat an Nisa :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ
Artinya : “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa : 3)

وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisaa : 129)

Poligami atau beristri banyak adalah tradisi yang sudah terjadi di beberapa negeri termasuk di kalangan orang-orang Arab jahiliyah sebelum kedatangan islam. Jadi islam bukanlah yang mula-mula membawa sistem poligami. Islam datang membawa aturan berpoligami dengan memberikan batasan serta menjadikan keadilan sebagai persyaratan bagi seseorang yang ingin melangsungkan poligami, seperti yang diterangkan ayat-ayat diatas.

Banyak dari sahabat yang ketika masuk islam dalam keadaan berpoligami dan memiliki istri lebih dari empat orang, diantaranya Qois bin Tsabit yang memiliki delapan orang istri, Ghailan bin Salamah ats Tsaqofiy memiliki sepuluh orang istri, Naufal bin Muawiyah memiliki lima orang istri kemudian Rasulullah saw memerintahkan setiap mereka untuk hanya mencukupkannya dengan empat orang istri lalu menceraikan yang lainnya. Ini merupakan dalil lain dibolehkannya poligami didalam islam dengan jumlah maksimal bagi setiap muslim adalah empat orang.

Poligami bukanlah sebuah kewajiban dan bukan pula sunnah akan tetapi ia diperbolehkan oleh agama islam karena adanya tuntutan pembangunan dan kemasyarakatan yang mendesak untuk berpoligami, sebagaimana dikatakan Sayyid Sabiq didalam kitabnya “Fiqhu as Sunnah”

Demikian pula terhadap Rasulullah saw maka pernikahannya dengan lebih dari satu orang istri (poligami) bukanlah sebuah kewajiban dari Allah swt akan tetapi ia adalah sesuatu yang dibolehkan baginya, sebagaimana disebutkan didalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُّؤْمِنَةً إِن وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَن يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya : “Hai Nabi, Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang Termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 50)

Adapun perihal Rasulullah saw menikahi lebih dari empat orang istri yang ini berbeda dengan apa yang diminta dari umatnya yaitu hanya empat orang istri sebagaimana disebutkan didalam firman-Nya :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ
Artinya : “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa : 3)

Maka sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw tersebut adalah bagian dari kekhususan yang diberikan Allah kepadanya saw yang tidak diberikan kepada umatnya. Hal demikian bisa dilihat pada firman Allah di surat al Ahzab ayat 50 diatas.

Dan kekhususan semacam ini yang diberikan kepada Allah swt hanya kepada beliau dan tidak kepada umatnya tidaklah sedikit jumlahnya didalam agama. Ada perkara-perkara yang hanya diwajibkan kepada beliau saw, seperti shalat witir, dhuha dan lainnya. Ada perkara-perkara yang diharamkan atas beliau saw, seperti : menerima zakat, shodaqoh dan lainnya. Ada yang dibolehkan baginya saw, seperti : menikah lebih dari empat orang istri, menikah tanpa wali dan saksi—saat menikah dengan Zainab binti Jahsy dan lainnya. Ada juga perkara-perkara-perkara yang keutamaan bagi beliau.

Jika kita perhatikan beberapa macam kekhususan diatas maka tampaklah keadilan dan kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya bahwa beliau tidak hanya diberikan kekhususan dalam perkara-perkara yang dibolehkan, seperti : menikah dengan lebih dari empat orang istri akan tetapi beliau juga diwajibkan—yang ini tidak diwajibkan kepada umatnya—melaksanakan shalat witir, dhuha, bersiwak dan lainnya serta ada juga perkara-perkara yang diharamkan secara khusus kepada beliau, seperti : zakat, shodaqoh dan lainnya.

Menjadi hal yang lumrah ketika sesuatu yang mahal membutuhkan pengorbanan yang mahal pula sebagaimana firman Allah swt :
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At Taubah : 111)

Kemudian bukti lainnya adalah bahwa apa yang dilakukan beliau saw—beristri lebih dari empat orang—tidaklah bertentangan dengan apa yang disebutkan didalam Al Qur’an—surat an Nisa : 3—adalah bahwa ayat tersebut yang membatasi empat orang istri diturunkan pada tahun VIII H dan pada saat itu Rasulullah saw telah memiliki istri lebih dari empat orang.

Wallahu A’lam

sumber :eramuslim.com

Masalah Ismail dan Ishaq bagian 2?

HHanya dari Sara keturunan Ibrahim yang dijanjikan ?

Tentang Keturunan Ibrahim/ Abraham yang dijanjikan, kisah pengorbanan Abraham / Ibrahim menurut bible dan hak kesulungan

21:12 Hebrew OT: Westminster Leningrad Codex
וַיֹּ֨אמֶר אֱלֹהִ֜ים אֶל־אַבְרָהָ֗ם אַל־יֵרַ֤ע בְּעֵינֶ֙יךָ֙ עַל־הַנַּ֣עַר וְעַל־אֲמָתֶ֔ךָ כֹּל֩ אֲשֶׁ֨ר תֹּאמַ֥ר אֵלֶ֛יךָ שָׂרָ֖ה שְׁמַ֣ע בְּקֹלָ֑הּ כִּ֣י בְיִצְחָ֔ק יִקָּרֵ֥א לְךָ֖ זָֽרַע׃

KJV : And God said unto Abraham, Let it not be grievous in thy sight because of the lad, and because of thy bondwoman; in all that Sarah hath said unto thee, hearken unto her voice; for in Isaac shall thy seed be called.

LAI TB : 21:12 Tetapi Allah berkata kepada Abraham, “Janganlah engkau khawatir mengenai hambamu Hagar dan anaknya itu. Turutilah kemauan Sara, karena melalui Ishaklah engkau akan mendapat keturunan yang Kujanjikan ????

ayat diatas sering dijadikan dasar argumentasi oleh orang Kristen untuk menyangkal / menolak bahwa ismail juga termasuk anak Perjanjian. mari sekarang kita perhatikan dari sudut pandang arti dari nama kedua anak Ibrahim / Abraham

Anak itu dinamai Ismael Ishmael (Hebrew: יִשְׁמָעֵאל; Arabic: إسماعيل, Ismā’īl; translates as “he will hear/obey God”) was Abraham’s eldest son, born by his wife’s handmaiden Haga Tuhan Mendengarkan (sebagaimana umumnya disebutkan pada waktu berdoa bila merasa doanya dikabulkan)

Sedangkan kelahiran Ishak adalah surprise, bayi dilahirkan seorang wanita berumur 90 tahun dianggap lucu hingga membuat orang menjadi tertawa geli termasuk Sarai dan Abraham sendiri, anak itu dinamai Ishak Isaac or Yitzchak (Hebrew: יִצְחָק, Standard Yiẓḥaq Tiberian Yiṣḥāq ; Arabic: إسحاق, yang artinya “he will laugh”)

karena kita sedang berdiskusi dengan netter non muslim maka perlu sekali dasar argumentasinya adalah apa yang mereka yakini yaitu dengan bible.

janji apa yang diberikan Tuhan kepada Abraham?

kejadian
13:14-15……….berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dankepada keturunanmu untuk selama-lamanya.

15:5-6 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran

15:18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

17:7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka

22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.

kalau janji tersebut hanya dipenuhi melalui keturunan Sara saja, apakah klaim tersebut sesuai dengan fakta sejarah?

bahwa keturunan Sara mendiami tanah perjanjian dari sungai Mesir (Nil) sampai Sungai Eufrat selama-lamanya?

kalau Hanya keturunan Sara tidak mendiami Tanah tersebut selama-lamanya (sesuai Janji sebelumnya) maka apa yang tercatat didalam alkitab tersebut isinya tidak sesuai dengan fakta! (karena tidak mungkin Tuhan mengingkari janjinya)

kenyataan menunjukkan bahwa keturunan Ishak tidak selama-lamanya pernah mendiami Kanaan apalagi wilayah dua sungai tersebut,
Berdasarkan fakta sejarah 587 BCE Penghancuran oleh Babylon.

Kaum Jahudi diusir dari negerinya dan diasingkan ke Babylonia,
63 BCE-313 CE Penghancuran oleh Roma, Kaum Jahudi terpencar keluar dari negerinya (diaspora)
Saya sarankan anda membaca sejarah Israel

http://www.science.co.il/Israel-history.asp

Berdasarkan sensus oleh rabbi Binyamin Tudela (1170) penduduk yahudi diwilayah Syria – Palestina hanya 15,190 orang (hanya ada 200 orang Jahudi tinggal di Jerusalem, sebagian besar dari penduduk Jahudi diwilayah itu tinggal di Damascus dan Aleppo) alias 1.6% dari total populasi Jahudi seluruh dunia saat itu 975,621 orang, http://itis.volta.alessandria.it/episteme/ep2sped.htm

gen 15:18 juga tidak sesuai dengan kenyataan karena keturunan Ishak tidak mendiami wilayah seluas antara S. Nil dan S.Efrat selama-lamanya

Fakta justru menunjukkan bahwa keturunan Ismael sejak Abraham hingga kini mendiami wilayah diantara S.Nil dan S.Efrat, dan tidak pernah diusir keluar dari wilayah itu, jadi perjanjian Tuhan itu sebenarnya untuk siapa ?

bahwa keturunan Abraham sebanyak bintang dilangit atau pasir dipantai gen 22:17

Apakah jumlah keturunan Nabi Ibrahim yang hidup sejak kira-kira 4000 tahun yang lalu hingga kini mencapai jumlah itu? Apalagi bila yang diakui hanya keturunan Ibrahim dari Ishak?

Jumlah manusia yang ada sekarang katakanlah 10 power 10 (10,000,000,000), dan katakan tiap tahun manusia bertambah sejumlah itu dan manusia sudah exist 10 power 7 (10,000,000 tahun, menurut bible 6000 tahun) yang lalu maka total manusia yang pernah hidup baru mencapai 10 power 17 (100,000,000,000,000,000), sxxxgkan jumlah bintang adalah 10 power 21

http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/ask_astro/answers/970115.html maka jumlah seluruh manusia baru ada 1 per 10000 jumlah bintang. ???????.

“Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” apakah itu arti kiasan atau janji palsu ????
http://www.daviddarling.info/encyclopedia/S/starsnumbers.html

We believe that there are on the order of 10 power 21 stars in our Universe. If you write that number out, it looks like this: 1,000,000,000,000,000,000,000. This is a lot of stars!
http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/ask_astro/answers/970115.html

Bila itu arti kias, sekarang siapakah yang lebih mendekati jumlah bintang dilangit keturunan Ismail atau keturunan Ishak?

Jumlah keturunan Ismael 300,000,000 orang
http://en.wikipedia.org/wiki/Arab#Who_is_an_Arab.3F
http://en.wikipedia.org/wiki/Arab_World

Jumlah keturunan Ishak 14,000,000 orang http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Judaism/jewpop.html

kemudian tentang “hak kesulungan”

Hak kesulungan ada padanya menurut kitab Ulangan 21:15 “Apabila seorang mempunyai dua orang isteri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai,
21:16 maka pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari isteri yang dicintai merugikan anak dari isteri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung.
21:17 Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari isteri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala kepunyaannya, sebab dialah kegagahannya yang pertama-tama: dialah yang empunya hak kesulungan.”

Hak kesulungan Jahudi
Primogeniture of Inheritance.
The primogeniture of inheritance refers to the first-born son on the side of the father by any of his wives (if he lived in polygamy).
http://www.jewishencyclopedia.com/view.jsp?artid=527&letter=P

Genesis 16:16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

Gen 17 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun (Ismail berusia 13 tahun),Tuhan mengadakan perjanjian dengannya.
Akan dijadikan sangat banyak.”
Ditetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
Beranak cucu sangat banyak;
Menjadi bangsa-bangsa, dan dari padanya akan berasal raja-raja.
Perjanjian antara Abraham serta keturunannya turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal,agar Allah menjadi Allah keturunannya.
Seluruh tanah Kanaan akan menjadi miliknya untuk selama-lamanya.
Dst.

Saat perjanjian ini dibuat Isaac belum lahir, dan kenyataan sampai kini keturunan siapakah yang tinggal di tanah Kanaan selama-lamanya?

17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Apakah Gen 17:19 tidak bertentangan dengan Deut 21:15-17?

Genesis
21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.
21:8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.
21:9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedangg main dengan Ishak, anaknya sendiri

Bila Isaac disapih umur 2-5 tahun maka umur Ismail 16-21 tahun dan Abraham berumur 102-105 tahun.

21:14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka perxxxh Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.

Abraham yang saat itu berumur 102-105 tahun mengangkat air dan Ismail kebahu Hagar dan Hagar menggendong anak berumur 16 tahun dan air diatas bahunya????
Apakah Abraham cukup bertenaga untuk itu? Apakah Hagar sangat kuat hingga mampu memikul beban anak umur 16 tahun seberat 40-60 kg + kirbat air (5kg?) pada bahunya, apalagi mengembara di padang gurun?

21:15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,

Membuang seorang anak berumur 16 tahun (teenager) kebawah semak??
Apakah anak itu disable?

Genesis
22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”
22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Dijanjikan banyak keturunan dari “anakmu yang tunggal”, tapi Abraham diperintahkan agar Ishak “anakmu yang tunggal” yang belum punya keturunan dijadikan korban bakaran?

Berapakah umur Isaac saat itu? Bible tidak menyebutkannya, assumsi umur Isaac bervariasi dari teenager sampai 37-an (ada yang berpendapat sama dengan umur Jesus ketika disalib),

1. The evidence that he was a young man not a young child:
The word in Hebrew translated “boy” (NIV) or “lad”(KJV) is “na’an”. Na’an means “servant”, “young man”, “boy”, “lad”. The context determines the meaning. In verse 3 it is translated “servants”
The chronological sequence of events from Chapter 21 to 23 indicates Isaac could have been any age up to 35. Gen.17:17 (Sarah was 10 years younger than Abraham); Gen. 21:1-5; 21:34; 22:1, 23:1 (Abraham was 137 when she died: Isaac, 35)
Isaac carried the wood for the burnt sacrifice up the mountain. Weight of wood required for burning is approx. 50- 60kgs.
http://www.stcs.org.nz/study/060312Isaac.pdf

Many years passed in the young life of Isaac. In Bullinger’s Companion Bible, Appendix 50, he estimates that Isaac was 33 when his father was going to have to offer him as a sacrifice. Other commentators speculate a different, but still at a fairly young age.
http://www.cgi.org/history/PDF/BibleHist5.pdf

Jadi bila bila umur Isaac 12-37 tahun umur Abraham 112-137 tahun??
Katakanlah Isaac saat itu berusia 20 tahun, Abraham berusia 120 tahun??

Genesis
22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya

Pada umur 120 tahun Abraham masih mampu membelah kayu bakar untuk kurban bakaran (50 kg)? Harap di check berapa banyak keperluan kayu bakar untuk memanggang daging seberat 40-60 kg ke perusahaan catering yang mensupply kambing guling.

22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh

Perjalanan dengan menunggang keledai selama paling tidak selama 3 hari diumur 120 tahun?

22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

Bagaimana Abraham dapat mengatakan bahwa kami (ia dan Isaac) akan kembali kepada kedua bujangnya, padahal kepergiannya adalah untuk mengorbankan Isaac (Isaac akan menjadi daging bakar)?

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sxxxg di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama

Apakah pada umur 120 tahun Abraham masih mampu mengangkat kayu bakar ( 50 kg?) untuk dipikulkan kebahu Ishak dan berjalan jauh serta menanjak sampai keatas gunung ?

Genesis
22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

Isaac dapat menganalisa situasi tapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya akan disembelih dan dibakar, umur berapakah dia sebenarnya ?.

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Apakah Abraham berbohong kepada Isaac atau “mendapat bocoran ujian” hingga ia mengetahui adanya anak domba untuk korban bakaran?
Atau pengarang Genesis memberitahu Abraham karena sang pengarang dapat membaca Pikiran Tuhan seperti yang ditulisnya pada genesis 18:17 Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api

Apakah pada umur 120 tahun setelah membelah dan mengangkat kayu bakar, mengendarai keledai selama 3 hari, berjalan jauh mendaki gunung, Abraham masih mampu mendirikan mezbah (altar dari batu, tempat untuk menyembelih kurban)?
Apakah Isaac diikat sebagaimana layaknya hewan kurban agar tidak kabur atau tidak meronta ketika disembelih?
Disini ada kontradiksi, mengapa Isaac tidak melawan dan meronta, padahal kini ia mengetahui bahwa dirinya akan disembelih?
Adalah mudah baginya untuk menang melawan seorang yang berumur 120 tahun.
Bila Isaac mengetahui ini adalah perintah Tuhan yang harus dilaksanakan dan ia menaatinya, mengapa ia mesti diikat?

22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba

Isaac ada dimana?

Pengenalan Doktrin
Hak anak pertama untuk mewarisi kepemimpinan keluarga, membawa hak-hak kepemilikan tertentu dan biasanya untuk gelar-gelar tertentu seperti kependetaan tinggi atau kerajaan.
Naskah-naskah Hebrew menganggap pengakuan doktrin kesulungan sudah sejak sediakala. Dalam silsilah kuno tertua tercermin perbedaan diantara anak sulung dengan anak-anak lainnya (Gen 10:15; 22:21; 25:13; 35:23; 36:15). Pada pelimpahan berkat orangtua di masa patriarch yang sangat dipentingkan dikaitkan pada kecenderungan akan hal kesulungan (Gen 25:31; 27:29; 48:13; 49:3).
http://net.bible.org/dictionary.php?word=Primogeniture
sebelum Abraham primogeniture sudah diceritakan pada Genesis 4
Jaman Adam

4:6 Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?
4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya

Bekhar/bekhor (kesulungan}
Dan hak primogeniture yang diistilahkan dengan bekhor/bechor

10:15 UChena’an yalad et-Tzidon bechoro ve’et-Chet.
Kenaan produced his first-born, Tzidon, and Chet.
10:15 Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het,

Dimasa Abraham

21 Et-Utz bechoro ve’et-Buz achiv ve’et-Kemu’el avi Aram.
Utz, his first born, Buz his brother, and Kemuel, the father of Aram.
22:21 Us, anak sulung, dan Bus, adiknya, dan Kemuel, ayah Aram,

Apakah berlakunya kesulungan bagi anak-anak Abraham seperti itu juga?

Dimasa Ismael dan Ishak

25:13 Ve’eleh shemot benei Yishma’el bishmotam letoldotam bechor Yishma’el Nevayot veKedar ve’Adbe’el uMivsam.
These are the names of Yishmael’s sons, by their names according to their birth. Nevayot was Yishmael’s first born, [he also had] Kedar, Adbe’el and Mivsam,
25:13 Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam,

Bahkan masalah antara Esau dan Yakub

25:31 Vayomer Ya’akov michrah chayom et-bechoratecha li.
Yaakov said, “As of this day, sell your birthright to me.”
25:31 Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”
32 Vayomer Esav hineh anochi holekh lamut velamah-zeh li bechorah.
‘Esav said, “Here I am about to die, what [good] is this birthright to me.”

25:32 Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”
33 Vayomer Ya’akov hishave’ah li kayom vayishava lo vayimkor et-bechorato le-Ya’akov.
Yaakov said, “Swear to me as of this day.” He swore to him, and sold his birthright to Yaakov.
25:33 Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya

34 VeYa’akov natan le-Esav lechem unezid adashim vayochal vayesht vayakom vayelach vayivez Esav et-habechorah.
Yaakov then gave ‘Esav bread and a pottage of lentils. He [‘Esav] ate and drank, got up and left. [Thus] ‘Esav scorned the birthright.
25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

bagaimana Ishak yang tertipu berkata pada Yakub yang disangkanya Esau, anak sulungnya

27:29 Ya’avducha amim veyishtachavu lecha le’umim heveh gevir le’achecha veyishtachavu lecha benei imecha orereycha arur umevarachecha baruch.
Peoples will serve you and nations bow to you. Be master over your brothers, and your mother’s sons will bow to you. Those who curse you are cursed, and those who bless you are blessed.”
27:29 Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.”

32 Vayomer lo Yitzchak aviv mi-atah vayomer ani bincha bechorecha ‘Esav.
Yitzchak, his father, said to him, “Who are you?” He said, “I am your son, your firstborn, ‘Esav.”
27:32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: “Siapakah engkau ini?” Sahutnya: “Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.”

36 Vayomer hachi kara shmo Ya’akov vayakveni zeh fa’amayim et-bechorati lakach vehineh atah lakach birchati vayomar halo-atzalta li berachah.
[‘Esav] said, “Is he not rightly called Yaakov? He has deceived me twice; he took my birthright, and now he has taken my blessing.” He said, “Have you not saved a blessing for me?”
27:36 Kata Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: “Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?”

Gen 27 menunjukkan betapa pentingnya primogeniture (hak kesulungan)

Esau dan Yakub
35:23 Bnei Leah bekhor Ya’akov Re’uven veShim’on veLevi viYehudah veYissakhar uZ’vulun.
The sons of Leah [were]: Reuven, Yaakov’s firstborn, Shimon, Levi, Yehudah, Yissachar and Zevulun.
35:23 Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon.

36:15 Eleh alufei vnei-‘Esav benei Elifaz bechor ‘Esav aluf Teman aluf Omar aluf Tzefo aluf K’naz.
These are the chiefs of the sons of ‘Esav: the sons of Elifaz, ‘Esav’s first born: Chief Teman, Chief Omar, Chief Tzefo, Shief Kanaz36:15 Inilah kepala-kepala kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung Esau, ialah kepala kaum Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum Zefo, kepala kaum Kenas,

dst

Kesulungan ini terus berlanjut terus menerus sampai jaman Moses dan bagi bani Israel hukum ini dituliskan pada kitab Deuteronomy.

Menjawab masalah Ismail dan Ishaq, Siapa yang di kurbankan?

Ismail atau Ishak yang dikurbankan : Versi Islam dan Kristen Pendahuluan Topik yang akan dibahas dalam artikel ini adalah untuk mencari kebenaran, siapakah yang dikurbankan oleh Ibrahim (Abraham). Ismail (Ismael) atau Ishak (Ishaq) ? Pada artikel ini, pertama-tama saya akan memberikan penjelasan yang ada di al-Qur’an dan hadits, setelah itu, barulah kita membahas apa yang dijelaskan oleh Bible (Taurat kitab Kejadian). Kisah kurban dalam QS Ash Shaaffaat 100-113 QS Ash Shaaffaat 100-113 100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. 101. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” 103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). 104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, 105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” 110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. 112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. 113. Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. Tafsir Nabi Ibrahim berdoa agar Tuhan menganugerahinya anak. Doa nya adalah : Robbi hablii minashshoolihiin (Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh). Lalu Tuhan berfirman : Fabasysyarnaahu bighulaamin haliim (Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar). Kedewasaan anak Ibrahim itu dapat dimengerti dari disifatinya dia sebagai seorang yang halim, yakni sikap lapang dada, kesabaran yang baik, dan ketidakliaran dalam segala hal. Dan anak ini adalah Ismail, karena Ismail adalah anak pertama yang diberitakan kepada Ibrahim sebagai kabar gembira. Dia lebih tua daripada Ishak. Demikian menurut kesepakatan ulama Muslim dan kalangan Ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani). Bahkan dalam Taurat mereka dinyatakan bahwa Ismail dilahirkan ketika Ibrahim berusia 86 tahun, sedangkan Ishak lahir dikala Ibrahim berumur 100 tahun. Memang kesabaran manakah seperti kesabaran Ismail karena di kala ia hampir dewasa, ayahnya datang kepadanya dan hendak menyembelihnya. Namun Ismail justru berkata : Satajidunii insyaa Alloohu minashshoobiriin. (Engkau akan mendapatiku, insya Allah termasuk orang-orang yang sabar). Dan memang benar Ismail menepati janjinya, dan melaksanakan dengan baik dan patuh dalam menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman dalam QS Maryam ayat 54 tentang Ismail : Wadzkurfilkitaabi ismaa’iila innahukaana shoodiqolwadi wa kaana roosuulannabiyyaa (Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi) Kemudian Allah menceritakan jalannya pelaksanaan kisah itu. Firman-Nya : Falammaa aslamaa watallahuliljabiin (Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). ) Dan tatkala kedua orang itu berserah diri dan tunduk kepada perintah Allah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, tentang qadha dan qadarnya, dan Ibrahim telah menelungkupkan wajah anaknya dengan memberi isyarat kepadanya, sehingga dia tidak melihat wajah anaknya itu yang bisa mengakibatkan rasa kasihan kepadanya. Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa Ismail kepada kepada ayahnya, “Janganlah engkau menyembelihku sedang engkau melihat kepada wajahku. Boleh jadi engkau kasihan kepadaku, sehingga tidak tega padaku. Ikatlah tangan dan leherku. Kemudian letakkan wajahku menghadap tanah.” Maka, Ibrahim pun menuruti permintaan anaknya. Wanaadaynaahu ayyaa ibroohiimu qod shodaqtarru’yaa (Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim) Malaikat utusan Allah menyeru Ibrahim : Qodshoddaqtarru’yaa innaakadzaalikanajzilmuhsiniin (sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.) Innahadzaa lahuwalbalaaulmubiin (Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata). wafadaynaahu bidzibhin ‘aziim (Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.) Setelah Allah mengaruniakan (karunia pertama) Ibrahim dengan tebusan seekor hewan kurban sebagai pengganti Ismail, maka Dia pun mengaruniakan kepada Ibrahim karunia berikutnya, yakni : 1. Karunia Kedua yakni pujian kepada Ibrahim “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS Ash Shaaffaat 108). Sehingga Ibrahim menjadi orang yang dicintai dikalangan semua pemeluk agama manapun. Islam, Kristen, dan Yahudi sama-sama mengagungkan Ibrahim. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya, sekalipun kami menganut agama Ibrahim, Bapak kami”. Hal itu merupakan dikabulkannya doa Ibrahim ketika dia mengatakan : “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS Asy Syu’araa’ 84) 2. Karunai ketiga yakni salam sejahtera kepada Ibrahim “(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (QS Ash Shaaffaat 109) 3. Karunai keempat yakni nikmat anak yang bernama Ishak “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. ” (QS Ash Shaaffaat 112) Dua hadits yang saling bertentangan Dikalangan Islam terbagi dua golongan hadits yang saling berbeda yakni yang menyatakan bahwa Ishak adalah anak sembelihan Ibrahim, sedangkan dipihak lain menyatakan Ismail anak sembelihan Ibrahim. Riwayat yang menyatakan Ishak adalah anak sembelihan Ibrahim 1. Antara lain : Dikutip dari vivaldi (seorang Kristen) Nama Ishak dinyatakan oleh Abu Kurayb- Zayd b. al-Hubab- al-Hasan b. Dinar- ‘Ali b. Zayd b. Jud’an- al-Hasan- al-Ahnaf b. Qays- al-‘Abbas b. ‘Abd al-Muttalib- Rasul Allah dalam percakapan berkata, “Kemudian Kami tebus dia dengan korban yang luar biasa.” Dan dia juga berkata, “ANAK YANG DIKURBANKAN ADALAH ISHAK” Menurut Abu Kurayb – Ibn Yaman-Mubarak – al-Hasan-al-Ahnaf b. Qays-al – ‘Abbas b. ‘Abd al-Muttalib : Kutipannya, ” Kemudian Kami tebus dia dengan kurban yang luar biasa.” DENGAN MENGACU KEPADA ISHAK.” Menurut al-Husayn b. Yazid al-Tahhan – Ibn Idris – Dawud b. Abi Hind – ‘Ikrimah – Ibn ‘Abbas : ANAK YANG DISURUH UNTUK DIKURBANKAN ADALAH ISHAK. Menurut Ya’qub – Ibn ‘Ulayyah – Dawud – ‘Ikrimah – Ibn ‘Abbas : ANAK KURBAN ADALAH ISHAK. Menurut Ibn al-Muthanna – Muhammad b. Ja’far – Shu’bah – Abu Ishaq – Abu al-Ahwas: Seseorang menyombongkan diri dihadapan Ibn Mas’ud, “Saya begini begitu, saya anak dari keturunan terhormat” Dan Abdallah ibn Mad’ud berkata, “Ini adalah Joseph b. Jacob, anak ISHAK, YANG DIKURBANKAN, anak Abraham, sahabat Allah” Menurut Ibn Humayd – Ibrahi, b. al-Mukhtar – Muhammad b. Ishaq – ‘Abd al-Rahman b. Abi Bakr – al-Zyhri – al-‘Ala’ b. Jariyah al-Thaqafi – Abu Hurayrah – Ka’b : Ketika Tuhan berkata, “Kemudian Kami tebusnya dengan kurban yang ajaib”, DIA SEDANG BERBICARA TENTANG ISHAK ANAK ABRAHAM. Menurut Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b. Ishaq- ‘Abdallah b. Abi Bakr – Muhammad b. Muslim al-Zuri – Abu Sufyan b. al-‘Ala’ b. Jariyah al-Thaqafi, seorang sahabat dari bani Zuhrah – Abu Hurayrah – Ka’b al-Ahbar : ANAK ABRAHAM YANG DIPERINTAHKAN UNTUK DIKURBANKAN ADALAH ISHAK. The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs, Ibnu Jarir at Tabari (trans. William M. Brenner), State University of New York Press, Albany 1987, halaman 82 : “Cerita-cerita awal tidak sependapat tentang siapa anak yang dikurbankan. BEBERAPA MENGATAKAN ISHAK, SEMENTARA YANG LAIN MENGATAKAN ISMAEL. Kedua pendapat didukung dengan pernyataan yang berasal dari Rasulullah. Jika kedua pendapat berimbang, hanya Al-Qur’an yang dapat dijadikan bukti dimana Al-Qur’an menyebutkan nama ISHAK YANG LEBIH BISA DITERIMA SEBAGAI ANAK YANG DIKURBANKAN. 2. Cerita yang disampaikan Al-Baghawi dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, dan Al-Abbas, bahwa yang disembelih adalah Ishak Riwayat yang menyatakan Ismail adalah anak sembelihan Ibrahim Imam Ahmad recorded that Ibn `Abbas, may Allah be pleased with him, said, “When the rituals were enjoined upon Ibrahim, peace be upon him, the Shaytan appeared to him at the Mas`a and raced with him, but Ibrahim got there first. Then Jibril, upon him be peace, took him to Jamrat Al-`Aqabah and the Shaytan appeared to him, so he stoned him with seven pebbles until he disappeared. Then he appeared him at Al-Jamrah Al-Wusta and he stoned him with seven pebbles. (Imam Ahmad merekam bahwa Ibn Abbas berkata, “Ketika ritual, setan menampakkan dirinya di Mas’a dan beradu cepat dengannya, namun Ibrahim telah tiba lebih dahulu. Kemudian Jibril memburunya hingga ke Jamrat Al-`Aqabah dan Setan menampakkan dirinya kepadanya, jadi Setan dilempari dengan tujuh batu kerikil hingga dia menghilang. Kemudian Setan menampakkan dirinya di Al-Jamrah Al-Wusta dan Setan dilempari dengan tujuh batu kerikil. As-Suddi and others said that he passed the knife over Isma`il’s neck, but it did not cut him at all, because a sheet of copper was placed between them. (As-Suddi dan yang lainnya berkata bahwa pisau Ibrahim melewati leher Ismail, namun tidak memotong semuanya, karena selembar tembaga ditempatkan diantara mereka.) Imam Ahmad recorded that Safiyyah bint Shaybah said, “A woman from Bani Sulaym, who was the midwife of most of the people in our household, told me that the Messenger of Allah sent for `Uthman bin Talhah, may Allah be pleased with him.” On one occasion she said, “I asked `Uthman, `Why did the Prophet call you’ He said, `The Messenger of Allah said to me, I saw the horns of the ram when I entered the House [i.e., the Ka`bah], and I forgot to tell you to cover them up; cover them up, for there should not be anything in the House which could distract the worshipper.)”’ Sufyan said, “The horns of the ram remained hanging in the House until it was burned, and they were burned too.” This offers independent evidence that the one who was to be sacrificed was Isma`il, peace be upon him. (Imam Ahmad merekam bahwa Safiyyah bint Shaybah berkata, “Seorang wanita dari Bani Sulaym berkata bahwa Rasulullah mengirim bagi Uthman bin Talhah. Pada satu peristiwa wanita tersebut berkata kepadanya, ” Saya bertanya Uthman, Mengapa Nabi memanggilmu” Ia menjawab, “Rasulullah berkata kepadaku, saya melihat tanduk domba jantan ketika saya memasuki Bait (Ka’bah), dan saya lupa untuk memberi tahu kepada kamu untuk menutupi; tutupilah, karena disana seharusnya tidak ada suatupun di Bait yang dapat mengalihkan perhatian penyembah.) Sufyan berkata, “Sisa tanduk domba jantan menggantung di Bait hingga saatnya dibakar, dan mereka membakarnya.” Ini bukti independen yang menyatakan bahwa yang dikurbankan adalah Ismail.) Sa`id bin Jubayr, `Amir Ash-Sha`bi, Yusuf bin Mihran, Mujahid, `Ata’ and others reported from Ibn `Abbas that it was Isma`il. (Sa`id bin Jubayr, `Amir Ash-Sha`bi, Yusuf bin Mihran, Mujahid, `Ata’ dan yang lainnya melaporkan dari Ibn Abbas bahwa yang dikurbankan adalah Ismail.) Ibn Jarir narrated that Ibn `Abbas said, “The one who was ransomed was Isma`il. The Jews claimed that it was Ishaq, but the Jews lied.” (Ibn Jarir meriwayatkan dari Ibn Abbas yang berkata,”Satu yang ditebus adalah Ismail. Yahudi mengklaim bahwa yang ditebus adalah Ishak, namun Yahudi berdusta.”) It was reported that Ibn `Umar said, “The sacrifice was Isma`il.” (Dilaporkan bahwa Ibn Umar berkata, “Yang dikurbankan adalah Ismail.”) Ibn Abi Najih said, narrating from Mujahid, “It was Isma`il.” (Ibn Abi Najih berkata, riwayat dari Mujahid.”yang dikurbankan adalah Ismail”) This was also the view of Yusuf bin Mihran. (Keyakinan ini juga yang menjadi pandangan Yusuf bin Mihran). Ash-Sha`bi said, “It was Isma`il, peace be upon him, and I saw the horns of the ram in the Ka`bah.” (Ash-Sha`bi berkata, “yang dikurbankan adalah Ismail, dan saya melihat tanduk domba jantan di Ka’bah”.) Muhammad bin Ishaq reported from Al-Hasan bin Dinar and `Amr bin `Ubayd from Al-Hasan Al-Basri that he did not doubt that the one of the two sons Ibrahim was commanded to sacrifice was Isma`il. (Muhammad bin Ishaq reported from Al-Hasan bin Dinar and `Amr bin `Ubayd from Al-Hasan Al-Basri bahwa ia yakin bahwa salah satu dari dua anaknya Ibrahim yang diperintahkan untuk dikurbankan adalah Ismail.) Ibn Ishaq said, “I heard Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi say, `The one whom Allah commanded Ibrahim to sacrifice of his two sons was Isma`il.’ We find this in the Book of Allah, because when Allah finishes the story of the one of the two sons of Ibrahim who was to be sacrificed, He then says: (And We gave him the glad tidings of Ishaq — a Prophet from the righteous), and (So, We gave her glad tidings of Ishaq and after Ishaq, of Ya`qub) (11:71). He mentions the son and the son of the son, but He would not have commanded him to sacrifice Ishaq when He had promised that this son would in turn have a son. The one whom He commanded him to sacrifice can only have been Isma`il.” (Ibn Ishak berkata,”Saya mendengar Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi berkata, “Seorang yang Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan dari dua anaknya adalah Ismail. Kita menemukan di kitabullah, karena ketika Allah menyelesaikan cerita satu dari dua anak Ibrahim yang dikurbankan, Ia lalu berfirman :”Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishak seorang nabi yang saleh”. dan maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang Ishak dan dari Ishak, Ya’qub (QS 11:71). Ia menyebutkan anak dan anak dari anak, namun Ia tidak memerintahkan Ibrahim untuk mengurbankan Ishak ketika Ia telah telah menjanjikan bahwa anak ini (Ishak) akan memiliki seorang anak (Yakub). Satu yang Allah perintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih adalah Ismail.”) Ibn Ishaq reported from Buraydah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami that Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi told them that he mentioned that to `Umar bin `Abd Al-`Aziz, may Allah be pleased with him, when he was Khalifah, while he was with him in Syria. `Umar said to him, “This is something about which I have never given any thought, but I see that it is as you say.” Then he sent for a man who was with him in Syria, a Jew who had become a Muslim and was committed to Islam, and he thought that he had been one of their scholars. `Umar bin `Abd Al-`Aziz, may Allah be pleased with him, asked him about that. Muhammad bin Ka`b said, “I was with `Umar bin `Abd Al-`Aziz. `Umar said to him, `Which of the two sons of Ibrahim was he commanded to sacrifice’ He said, `Isma`il. By Allah, O Commander of the faithful, the Jews know this, but they were jealous of you Arabs because it was your father about whom Allah issued this command and the virtue that Allah mentioned was because of his patience in obeying the command. So they denied that and claimed that it was Ishaq, because he is their father.”’ (Ibn Ishaq melaporkan dari Buraydah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami bahwa Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi berkata kepada mereka bahwa ia menyatakan kepada Umar bin Abd Al-Aziz, ketika ia menjadi khalifah, sambil ia bersamanya di Syria. “Umar berkata kepadanya, “Ini adalah sesuatu hal yangmana saya tidak pernah diberi pemikiran, namun saya melihat bahwa sebagaimana kamu katakan. “Kemudian ia mengirim seorang laki-laki yang bersamanya di Syria, seorang Yahudi yang menjadi muslim, dan komitmen untuk Islam, dan ia menyampaikan bahwa ia adalah salah satu dari sarjana-sarjananya. Umar bin Abd Al-Aziz berkata kepadanya mengenai hal itu. Muhammad bin Ka’b berkata bahwa, “Saya sedang bersama dengan Umar bin Abd Al-Aziz. Umar berkata kepadanya,”Yang manakah dari dua anak Ibrahim yang dikurbankan”. Ia berkata, Ismail. Yahudi mengetahui hal ini, namun mereka iri hati kepadamu orang-orang Arab karena Ismail ayahmu yang dengan kesabarannya telah mematuhi perintah Allah. Jadi mereka (Yahudi) menolaknya dan mengklaim bahwa yang dikurbankan adalah Ishak, karena Ishak adalah bapak bagi mereka.”) Abdullah bin Al-Imam Ahmad bin Hanbal, may Allah have mercy on him, said, “I asked my father about which son was to be sacrificed — was it Isma`il or Ishaq” He said, “Isma`il.” (Abdullah bin Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata,”Saya menanyakan kepada ayahku mengenai yangmanakah anak yang dikurbankan–Ismail ataukah Ishak”. Ia berkata,”Ismail.”) Ibn Abi Hatim said, “I heard my father say, `The correct view is that the one who was to be sacrificed was Isma`il, peace be upon him.”’ He said, “And it was narrated that `Ali, Ibn `Umar, Abu Hurayrah, Abu At-Tufayl, Sa`id bin Al-Musayyib, Sa`id bin Jubayr, Al-Hasan, Mujahid, Ash-Sha`bi, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, Abu Ja`far Muhammad bin `Ali and Abu Salih, may Allah be pleased with them all, said that the one who was to be sacrificed was Isma`il.’ (Ibn Abi Hatim berkata,”Saya mendengar ayahku berkata,”Pandangan yang benar adalah bahwa yang dikurbankan adalah Ismail.” Ia berkata, “Dan masalah ini juga diriwayatkan bahwa Ali, Ibn `Umar, Abu Hurayrah, Abu At-Tufayl, Sa`id bin Al-Musayyib, Sa`id bin Jubayr, Al-Hasan, Mujahid, Ash-Sha`bi, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, Abu Ja`far Muhammad bin `Ali and Abu Salih berkata bahwa anak yang dikurbankan adalah Ismail.”) Al-Baghawi said in his Tafsir, “This was the view of `Abdullah bin `Umar, Sa`id bin Al-Musayyib, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid, Ar-Rabi` bin Anas, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi and Al-Kalbi.” This was also reported from Ibn `Abbas and from Abu `Amr bin Al-`Ala’. (And We gave him the glad tidings of Ishaq — a Prophet from the righteous.) having given the glad tidings of the one who was to be sacrificed, who was Isma`il, Allah immediately follows that with mention of the glad tidings of his brother Ishaq. This is also mentioned in Surah Hud (11:71) and in Surat Al-Hijr (15:53-55). (Al-Baghawi berkata didalam tafsirnya, “ini adalah pandangan dari `Abdullah bin `Umar, Sa`id bin Al-Musayyib, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid, Ar-Rabi` bin Anas, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, dan Al-Kalbi.” Ini juga dilaporkan dari Ibn Abbas dan dari Abu `Amr bin Al-`Ala’. (Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.) Setelah pengurbanan Ismail, Allah berikutnya menyebutkan kabar gembira dengan Ishak. Ini juga diterangkan dalam QS Hud 11:71 dan QS Al-Hijr 15:53-55). Mengapa bisa timbul 2 golongan hadits yang saling bertentangan? Dalam hal ini, Ka’bu ‘l-Akhbar mempunyai peranan penting dalam menceritakan berita-berita seperti ini dan semisalnya, yang diterima begitu saja oleh orang-orang Islam dari dia. Dia menceritakan berita-berita seperti itu dari kitab-kitab terdahulu, padahal kitab-kitab seperti itu memuat berita-berita yang gemuk maupun yang kurus kebenarannya. Oleh karena itu, Umar pun pernah membenarkan dari Ka’bu ‘l-Akhbar. Namun demikian para periwayat tsiqat memerlukan penyelidikan tentang berita-berita dari Ka’bu ‘l Akhbar, lalu memilah yang baik dari yang jelek dan yang benar dari yang tidak benar.[1] Ibnu Khaldun, sejarawan Islam, menganalisis masuknya Israiliyat [2] dalam penafsiran al-Qur’an diawali oleh keadaan orang Arab yang waktu itu mempunyai pola Al-Badawah (nomad) dan ummiyah (buta huruf). Mereka tidak banyak tahu tentang sebab-sebab penciptaan alam, kapan dimulai, dan apa rahasia-rahasia yang terkandung dalam penciptaan alam itu. Oleh karena itu, mereka bertanya kepada Ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani). Akan tetapi, para ahlulkitab yang ada pada masa itu sama saja ke-badawah-annya dengan orang kebanyakan (orang awam) ahlulkitab sendiri. Tatkala orang-orang ahlulkitab tersebut memeluk agama Islam, mereka tetap berpegang pada penafsiran mereka sebelum masuk Islam. Dengan demikian, tafsir-tafsir al-Qur’an dikalangan umat Islam dimasuki cerita-cerita Israiliyat. Contoh orang-orang seperti ini antara lain adalah Wahab bin Munabbih (34-110) dan Abdullah bin Salam (wafat 43H). Keduanya sebelum masuk Islam adalah ahlulkitab.[3] Menurut Muhammad Husein az-Zahabi, Israiliyat masuk ke dalam tafsir al-Qur’an sejak zaman sahabat. Dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an, para Sahabat pertama kali berpegang pada penjelasan Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW wafat, jika tidak ada penjelasan dari Rasulullah SAW terhadap ayat yang ingin dipahami, para sahabat berusaha memahami ayat tersebut sesuai dengan pengetahuan bahasa Arab yang telah dimiliki mereka. Dalam hal-hal menyangkut peristiwa masa lalu, yang tidak mereka temukan penjelasannya dalam sabda Rasulullah SAW, mereka berusaha menanyakannya kepada para Sahabat lain yang dahulunya beragama Yahudi atau Nasrani. Mereka yang disebut terakhir ini berusaha memberikan penjelasan atau penafsiran dari ayat, yang tidak terlepas sama sekali dari pengaruh agama dan kebudayaan mereka dahulu, bahkan ada pula diantara mereka yang sengaja memasukkan unsur-unsur Yahudi dan atau Nasrani ke dalam penafsiran mereka.[4] Pada masa Sahabat, Israiliyat diseleksi sedemikian rupa, sehingga sedikit sekali Israiliyat yang diterima mereka. Itu pun terbatas pada kisah-kisah masa lalu yang tidak menyangkut akidah dan hukum. Sekalipun penyeleksian yang dilakukan para Sahabat terhadap Israiliyat begitu ketat, tetapi Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin As, Abdullah bin Salam (sebelum masuk Islam beragama Yahudi), dan Tamim ad-Dari (sebelumnya beragama Nasrani), disebut oleh Goldziher (seorang orientalis yang hidup pada tahun 1850-1921) dan Ahmad Amin (tokoh pembaru Mesir), sebagai para Sahabat yang memasukkan Israiliyat kedalam penafsiran al-Qur’an.[5] Tingkat kehati-hatian yang dimiliki dan ditradisikan para Sahabat dalam menerima Israiliyat di zaman Tabiin[6] mulai longgar. Misalnya kurang hati-hati dalam membedakan penafsiran Rasulullah SAW dengan penafsiran Israiliyat, sehingga banyak Israiliyat yang menyebar. Para Tabiin yang dituduh memasukkan Israiliyat ke dalam tafsir diantaranya, Ka’b al-Ahbar, Wahab bin Munabbih, Muhammad bin Sa’ib al-Kalbi, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, Muqatil bin Sulaiman, dan Muhammad bin Marwan as-Suddi.[7] Selanjutnya, sesudah zaman Tabiin permasalahan Israiliyat melebar dan menyebar kedalam tafsir al-Qur’an, sehingga banyak kisah Israiliyat yang ditemukan dalam kitab tafsir-tafsir al-Qur’an, apalagi tatkala suatu penafsiran yang diberikan Rasulullah SAW, Sahabat, maupun yang lainnya, dituliskan tanpa mencantumkan sanad (para penutur)-nya. Keadaan seperti ini menyebabkan semakin sulit untuk membedakan yang Israiliyat dan yang bukan Israiliyat.[8] Bila kita melihat kronologis alur cerita yang dipaparkan oleh firman Allah SWT dalam QS Ash Shaaffaat, maka sangatlah jelas bahwa nikmat pujian, salam sejahtera, dan nikmat anak (Ishak) kepada Ibrahim diberikan setelah peristiwa pengurbanan anak Ibrahim yang pertama yakni Ismail. Dan lokasi penyembelihan adalah di Mina yang kelak menjadi salah satu ritual ibadah Haji yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW. Mina terletak beberapa kilometer dari Ka’bah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang disembelih sesungguhnya adalah Ismail, karena dia lah anak pertama Ibrahim. Kisah Taurat : Ayat Jungkir Balik Yang Menandakan Bencana Tahrif Pada QS Ash Shaffat :102, disebutkan bahwa tatkala usia anak yang dilahirkan pertama tersebut, dalam hal ini adalah Ismail sudah mencapai usia yang cukup untuk mengerti, maka Allah mengadakan ujian bagi Ibrahim antara kecintaannya terhadap Allah dan kecintaannya terhadap anak yang selama ini sudah dia nanti-nantikan. Kisah ini jika kita kembalikan pada kitab Kejadian, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kekedewasan. Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Lalu bagaimana dengan penuturan Taurat, kita lihat dibawah ini : Kejadian 22:2 “Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Dari sini saja kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac). Kejadian 16:16 “Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.” Kejadian 21:5 “Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.” Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail; Jika Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan “anak tunggal”, jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang. Lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup ! Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan. Jadi setelah ayat yang menceritakan pengorbanan barulah diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan “tahrif” oleh al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh QS An Nisa’ ayat 46 : QS An-Nisa 46 “Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya…” Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Taurat memang mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dsb), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia. Orang Kristen berargumen bahwa penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Ibrahim tidak lain karena Ismail terlahir dari budak dan merupakan anak tidak sah….. menurut saya pendapat ini konyol dan tidak beralasan… sebab Kitab Kejadian 16:3 secara jelas menyebutkan bahwa sebelum Hajar melahirkan Ismail, ia telah di nikahi secara sah oleh Ibrahim. Kejadian 16:3 “Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, —yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan—,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.” Adapula orang Kristen yang membantah dengan merujuk Kejadian 21:12 bahwa yang dimaksud dengan keturunan Ibrahim adalah yang berasal dari benih Sarah : “Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak”. (Kejadian 21:12) Tetapi pernyataan ini tertolak sendiri dengan ayat berikutnya yaitu Kejadian 21:13 Kejadian 21:13 “Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu” Sehingga yang dimaksud oleh ayat Kejadian 21:13 bukan soal “Ishak adalah anak asli keturunan Ibrahim dan menjadi anak tunggalnya” namun karena masalah warisan Ibrahim sebagaimana isi dari ayat Kejadian 21:9-10 Kejadian 21:9-10 “Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” Seandainya Kristen berargumentasi bahwa Ismail diusir Ibrahim, atau karena Ibrahim membenci Ismail….. jawaban saya atas pernyataan tersebut adalah “itu adalah kedustaan para pendeta Yahudi yang mengedit Taurat”!…. Ibrahim tidaklah mengusir Hajar (Kejadian 21:11 itu ayat editan Yahudi saja)…. Bahkan sebenarnya hubungan antara Ibrahim, Ismail, dan Ishak sangat erat. Taurat mencatat setelah Ibrahim wafat, anak-anaknya (termasuk Ismail) menguburkan ayahnya bersama-sama. Ini menandakan hubungan keakraban mereka. Kejadian 25:7-9 “Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal…..Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela…..” Bila memang benar Sarah cemburu dan mengusir mereka, itu adalah masalah lain. Namun yang terpenting adalah Ibrahim, Ismail, dan Ishak saling mencintai satu sama lain. Kita bisa sama-sama melihat hubungan antara Ishak dan Ismail yang sangat akrab, melalui pernikahan antara anak Ishak (Esau bin Ishak) dan anak Ismail (Mahalat bin Ismail dan Basmat bin Ismail). Kejadian 28: 8-9 “maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya. Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.” Kejadian 36:2-3 “Esau mengambil….. Basmat, anak Ismael, adik Nebayot.” Ishak menginginkan agar keturunannya tidak bercampur dengan darah bangsa lain. Oleh karena itu Esau memperistrikan anak Ismail. Jadi kesimpulannya anak-anak Ismail adalah bangsa Ibrani juga. Ishak tidak akan membiarkan Esau memperisti anak Ismail jika Ishak menganggap anak Ismail adalah bukan Ibrani. Jadi Ibrani bukanlah hanya dialamatkan untuk bangsa Israel saja, melainkan bangsa-bangsa lain yang sedarah dengan Ibrahim. Anak Remaja atau masih Balita ? Bukti Taurat Hasil Editan Yahudi Untuk lebih mempertajam analisa saya mengenai kebenaran isi ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa alkitab itu sudah terdistorsi oleh tangan-tangan jahil manusia, maka pada kesempatan ini sayapun akan memperlihatkan bukti-bukti lain mengenainya yang masih berhubungan erat dengan kasus Ismail dan Ishak ini. Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Kitab Kejadian terjadi pada waktu Ishak masih disapih karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10). Kejadian 21:8-10 “Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” Silahkan pembaca perhatikan, betapa Kejadian 21:8-10 kontradiksi dengan Kejadian 21:14-21 Kejadian 21:14-21 14. Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16. dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. 17. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” 19. Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. 20. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir. Kejadian 21:8-10 menceritakan Ismail sudah dewasa (berumur 14 tahun lebih) dan bermain dengan Ishak yang masih balita, hal ini membuat Sarah marah dan mengusir Ismail. Keesokan harinya….nah inilah yang aneh…. cerita Kejadian 21:14-21 justru menceritakan hal yang bertentangan dengan ayat yang sebelumnya diceritakan. Kenapa bertentangan ? Karena dalam Kejadian 21:14-21 digambarkan seolah-olah Ismail masih seorang bayi yang digendong dibahu ibunya, kemudian Ismail yang menurut kitab Kejadian sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah semak-semak (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18). Masa iya sih Hagar harus menggendong seorang anak laki-laki “dewasa” yang berusia 16 tahun, apa tidak terbalik seharusnya Ismail yang menggendong Hagar ? Kemudian disambung pada Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan “…Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah”. Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Taurat, jelas sudah Taurat adalah kitab suci editan para pendeta Yahudi. QS An-Nisa 46 “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…..” Dalam satu perdiskusian agama dimilis Islamic Network beberapa tahun yang lampau, seorang rekan Kristen membantah kalimat “untuk diangkat, digendong… ” yang termuat didalam kitab Kejadian ini adalah dalam bentuk kiasan, jadi disana jangan diartikan secara harfiah, karena maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar. Padahal jika kita mau melihat kedalam konteks ayat-ayat aslinya, akan nyatalah bahwa apa yang dimaksudkan dengan bentuk kiasan tersebut sama sekali tidak menunjukkan seperti itu. Mari kita kupas : Kejadian 21:14 (Alkitab LAI 1974) “Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Tidak lupa saya akan mengutip juga beberapa terjemahan ayat diatas didalam beberapa versi alkitab yakni Douay Rheims Bible (DRB), English Standard Version (ESV), dan King James Version (KJV) : (DRB) So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee. (ESV) So Abraham rose early in the morning and took bread and a skin of water and gave it to Hagar, putting it on her shoulder, along with the child, and sent her away. And she departed and wandered in the wilderness of Beersheba. (KJV) And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and the child, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beersheba. Jadi menurut Taurat, Ibraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi Lihat kalimat bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata “…and sent HER away: and SHE departed, and wandered”[9] Jadi jelas yang diusir dan berjalan disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar. Mustahil anak berusia 16 tahun digendong!! Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya : Kejadian 21:15 Alkitab LAI 1974 “Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,” (DRB) And when the water in the bottle was spent, she cast the boy under one of the trees that were there. (ESV) When the water in the skin was gone, she put the child under one of the bushes. (KJV) And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs. Jadi semakin jelas, ketika bekal air didalam kirbat sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILD dan THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon. Apakah masih mau bersikeras dengan mengatakan kalau kata “menggendong atau memikul” THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya ? Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun. Lelucon Kejadian pasal 22 Ada 3 poin utama yang harus di perhatikan mengenai lokasi tempat tinggal : Hajar dan Ismail melewati Bersyeba (kejadian 21:14), kemudian tiba dan berdomisili di Paran (Kejadian 21:21) Peta Timur Tengah # Ibrahim sedang berada di Bersyeba (Kejadian 21:33) # Sarah dan Ishak berdomisili di Hebron, Sarah wafat di Hebron (kejadian 23:2) Peta Bersyeba dan Hebron Peta Bersyeba dan Hebron Pada pasal 22, langsung disebutkan bahwa nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anak tunggalnya. Artinya Ibrahim masih berada di Bersyeba. Kejadian pasal 22 1. Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” 2. Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” 3. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 4. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 5. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” 6. Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” 8. Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 9. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 11. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12. Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” 13. Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 14. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.” 15. Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16. kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri—demikianlah firman TUHAN—:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 17. maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” 19. Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. Bila kita simak dengan seksama, maka Kejadian pasal 22 memiliki dua keganjilan yakni : Kejanggalan pertama Kejadian pasal 22 ini mengisahkan seolah-olah Ishak berada di Bersyeba. Padahal tidak ada anak Ibrahim yang berdomisili di Bersyeba. Ishak dan ibunya justru tinggal di Hebron. Kejanggalan Kedua Setelah selesai ritual, pada Kejadaian 22:19 Ibrahim dan Ishak pulang ke Bersyeba. Jadi seolah-olah Sarah berdomisili di Bersyeba. Padahal Taurat mencatat Sarah berdomisili di Hebron hingga wafatnya (Kejadian 23:1-2). Kesimpulannya : Seandainya Ishak yang disembelih, seharusnya Kejadian pasal 22 menceritakan kepulangan Ibrahim ke Hebron, tempat tinggal Sarah, untuk membawa Ishak yang hendak dikurbankan. Kemudian setelah acara ritual pengurbanan selesai, mestinya Ibrahim mengembalikan Ishak kepada ibunya di Hebron. BUKAN DI BERSYEBA. Kedengkian pendeta Yahudi mengedit taurat sudah terlalu jelas didepan mata. Pendeta Yahudi mengedit nama tempat Paran (lokasi tempat tinggal Ismail) menjadi nama tempat tinggal Ishak. Namun pendeta Yahudi terburu-buru mengedit Paran menjadi Bersyeba, padahal harusnya Hebron. Serapat-rapatnya menutupi kebenaran akhirnya ketahuan juga, itulah perumpamaan untuk pengedit Taurat. Allah berfirman : “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Baqarah 79) Akhir Kata “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. ” (QS Al Maa’idah 15) “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa’ 115) “….. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran” (QS Al Baqarah 269) Akhirnya saya mengharapkan semoga artikel ini menambah wawasan dan pencerahan. Wassalam. Catatan Kaki [1] : Tafsir al-Maraghi. [2] : Israiliyat adalah sesuatu yang dikaitkan kepada Israel yaitu Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Israiliyat bersumber dari Taurat, Injil, dan tradisi bani Israel. [3] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 755. [4] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 755. [5] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 755. [6] : Generasi para perawi Hadits yang digunakan ilmuwan Muslim : * Generasi pertama, adalah Sahabat. Yakni mereka yang menemani nabi Muhammad SAW dan kenal dengan beliau secara pribadi * Generasi Kedua, mereka yang pernah belajar melalui Sahabat disebut Tabi’in (Pengikut). Pada umumnya mereka tergolong pada generasi pertama Hijriah hingga seperempat pertama abad ke dua Hijriah. * Generasi ketiga, atba’at-Tabi’in atau Penerus Pengikut. Kebanyakan berkelanjutan sampai pertengahan pertama abad kedua Hijirah. * Generasi ke empat Di era abad ke 2 Hijriah, sejarah menyaksikan kemunculan banyak buku Hadits bertarafkan ensiklopedia, seperti Muwatta’ Malik, Muwatta’ Syaibani, Athar Abu Yusuf, Jami Ibn Wahb, dan kitab Ibn Majishun. Abad ke tiga akhirnya merupakan demonstrasi lahirnya buku-buku besar, seperti Sahih Bukhari, dan Musnad Ibn Hanbal. (Sumber : The Histrory The Qur’anic Test From Revelation to Compilation-Sejarah Teks al-Qur’an dari wahyu sampai Kompilasi, oleh Prof. Dr.M.M.Al-Azami, hal.197) [7] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 756. [8] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 756. [9] : Bible Contemporary English Version (CEV) telah mengedit kata “sent HER away: and SHE departed, and wandered” menjadi “sent them away. They wandered” Kejadian 21:14 versi CEV “Early the next morning Abraham gave Hagar an animal skin full of water and some bread. Then he put the boy on her shoulder and sent them away. They wandered around in the desert near Beersheba.” Begitulah perilaku Gereja setelah menyadari kesalahan mereka sendiri, dengan bertopeng tembok tebal dan gerakannya secepat tikus gereja yang lolos dari pengamatan kita. Gereja benar-benar mengikuti perilaku pendeta Yahudi yang gemar mengedit ayat Alkitab. Sumber -Tafsir al-Qur’an Oleh Ibn Kathir -Tafsir al-Qur’an al-Maraghi. -Armansyah-Swaramuslim -Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003 -Program Alkitab (Bible) KJV, DRB, dan ESV dapat Anda download di http://www.e-sword.net -Alkitab LAI 1974 -The Histrory The Qur’anic Test From Revelation to Compilation-Sejarah Teks al-Qur’an dari wahyu sampai Kompilasi, oleh Prof. Dr.M.M.Al-Azami, hal.197

Pernikahan Nabi dengan Aisyah

seringkali para penghujat Islam dan misionaris memperolok-olok tentang usia siti aisyah dan Nabi Muhammad saw.

dan olok-olokan tersebut membuat tuduhan-tuduhan keji kepada nabi Muhammad saw..
dasar yang menjadikan olok-olokan ada tentang usia siti Aisyah.. yang terdapat dibeberapa hadist
maka dalam hal ini perlu sekali memberikan jawaban tentang persoalan ini..
hampir semua situs internet memakai referensi terjemahan Hadits dalam bahasa Inggris oleh Muhsin Khan, umumnya diambil dari situs http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/ yang tidak menyebutkan seluruh urut-urutan periwayatnya, disamping adanya salah cetak.
Kalau saya jadi anda, saya akan mempelajari referensi-referensi keagamaan seperti ini dalam bahasa originalnya dan jika anda bisa membaca tulisan Arab, kitab hadits dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Muhsin Khan baik pada website maupun pada kitab Shahih Bukhari, Dar ul Arabia Beirut, Book 7 page 50 anda akan mendapati bahwa dari semua narasi pada 8 riwayat ( 5 Bukhari dan 3 Muslim + 1 Sunan Abu Dawud) yang menceritakan Aisyah menikah ketika berumur 6 tahun semua sumbernya berasal dari ‘Urwah, yang mengatakan bahwa cerita itu disampaikan oleh ‘Aisyah RA.

Dibawah ini adalah urut-urutan narator
HR Bukhari
Volume 5, Book 58, Number 236

‏حدثني ‏ ‏فروة بن أبي المغراء ‏ ‏حدثنا ‏ ‏علي بن مسهر ‏ ‏عن ‏ ‏هشام ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة ‏ ‏رضي الله عنها ‏ ‏قالت
http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=3605&doc=0&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

hadatsnaa faruuq bin abilmughraa’ hadatsnaa alii bin mashar ‘an hisyaam ‘an abiihi ‘an ‘aisyah radhiAllahu ‘anhaa qoolat …..dst

Telah bercerita kepadaku Faruq bin Abi Almughiraa’ telah bercerita kepadaku Ali bin Mashar dari Hisyam dari ayahnya (Urwah), dari Aisyah, berkata beliau : ….. dst

Volume 5, Book 58, Number 238

حدثني ‏ ‏عبيد بن إسماعيل ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو أسامة ‏ ‏عن ‏ ‏هشام ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏قال

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=3607&doc=0&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

hadatsnaa ubaid bin isma’iil hadatsnaa abuu isaamah ‘an hisyaam ‘an abiihi

Telah bercerita kepadaku Ubaid bin Ismail telah bercerita kepadaku Abu Usamah dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya (Urwah) berkata ia : ….dst

Volume 7, Book 62, Number 64
‏حدثنا ‏ ‏محمد بن يوسف ‏ ‏حدثنا ‏ ‏سفيان ‏ ‏عن ‏ ‏هشام ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة ‏ ‏رضي الله عنه

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=4738&doc=0&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

hadatsnaa muhammad bin yuusuf hadatsnaa sufyaan ‘an hisyaam ‘an abiihi ‘an ‘aisyah…..

Telah bercerita kepadaku bin Yusuf telah bercerita kepadaku Sufyan dari Hisyam dari ayahnya (Urwah), dari ‘Aisyah: ” ….dst”

Volume 7, Book 62, Number 65
‏حدثنا ‏ ‏معلى بن أسد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏وهيب ‏ ‏عن ‏ ‏هشام بن عروة ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة
http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=4739&doc=0&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB
hadatsnaa mu’allii bin asad telah bercerita kepadaku wahiib ‘an hisyaam bin urwah ‘an abiihi
Telah bercerita kepadaku Mu’allii bin Asad telah bercerita kepadaku Wahib dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya (Urwah) dari ‘Aisyah: ….dst”

Volume 7, Book 62, Number 88:

ثنا ‏ ‏قبيصة بن عقبة ‏ ‏حدثنا ‏ ‏سفيان ‏ ‏عن ‏ ‏هشام بن عروة ‏ ‏عن ‏ ‏عروة

hadatsnaa qobiidhah bin ‘uqbah hadatsnaa sufyaan ‘an hisyaam bin ‘urwah ‘an ‘urwah

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=4761&doc=0&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

Telah bercerita kepadaku Qabidhah bin Uqbah telah bercerita kepadaku Sufyan dari Hisyam bin Urwah dari (Urwah) : Nabi SAW telah mengawini Aisyah …..dst

HR Muslim Book 008, Number 3309:

‏حدثنا ‏ ‏أبو كريب محمد بن العلاء ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو أسامة ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثنا ‏ ‏أبو بكر بن أبي شيبة ‏ ‏قال ‏ ‏وجدت في كتابي ‏ ‏عن ‏ ‏أبي أسامة ‏ ‏عن ‏ ‏هشام ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏
‏عائشة ‏ ‏قالت

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=2547&doc=1&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

hadatsnaa abuu kuraib muhammad bin al-ilaa’ hadatsnaa abuu usaamah wa hadatsnaa abu bakr bin abii syaibah qoola wajadat fii kitaabii ‘an abii usamah an hiyaam ‘an abiihi

Telah bercerita kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin ‘Ilaaq telah bercerita kepadaku Abu Bakar bin Abu Syaibah kudapati dalam kitabku dari Abu ‘Usamah, dari Hisyam dari ayahnya (Urwah) dari Aisyah berkata beliau: ….dst

Book 008, Number 3310:
و حدثنا ‏ ‏يحيى بن يحيى ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏أبو معاوية ‏ ‏عن ‏ ‏هشام بن عروة ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثنا ‏ ‏ابن نمير ‏ ‏واللفظ له ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبدة هو ابن سليمان ‏ ‏عن ‏ ‏هشام ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة ‏ ‏قالت ‏ ‏تزوجني

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=2548&doc=1&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

wa hadatsnaa yahyaa bin yahyaa akhbarnaa abuu mu’aawiyah ‘an hisyaam bin ‘urwah wa hadatsnaa ibn namiir wa allafatho lahuu hadatsnaa ‘abdah huwa ibn sulaiman ‘an hisyaam ‘an abiihi

Telah bercerita kepadaku Yahya bin Yahya telah mengabarkan padaku Abu Muawiyah dari Hisyam bin Urwah dan mengabarkan padaku Ibnu Namiir dan lafath yang dimilikinya mengabarkan padaku Abdah dia Ibnu Sulaiman dari Hisyam dari ayahnya (Urwah) dari Aisyah berkata beliau:…dst

Book 008, Number 3311:

‏و حدثنا ‏ ‏عبد بن حميد ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏عبد الرزاق ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏معمر ‏ ‏عن ‏ ‏الزهري ‏ ‏عن ‏ ‏عروة ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة ‏

wa hadatsnaa abd bin hamiid akhbarnaa ‘abdurrozaaq akhbarnaa mu’ammar ‘an azzaharii ‘an ‘urwah ‘an ‘aisyah…

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=2549&doc=1&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

Telah bercerita kepadaku ‘Abd bin Hamid telah mengabarkan padaku ‘Abdurrazaaq mengabarkan padaku Mu’ammar dari Az Zahari dari Urwah. dari Aisyah:…….dst

Sunan Abu Dawud
Book 41, Number 4915:

‏حدثنا ‏ ‏مسدد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏حماد ‏ ‏عن ‏ ‏هشام بن عروة ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة ‏ ‏قالت ‏

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?hnum=4283&doc=4&IMAGE=%DA%D1%D6+%C7%E1%CD%CF%ED%CB

hadatsnaa misdad hadatsnaa hamaada ‘an hisyaam bin ‘urwah ‘an abiihi ‘an ‘aisyah qoolat dst.

Telah bercerita kepadaku Misdad telah bercerita kepadaku Hamada dari Hisyam dari ayahnya (Urwah) dari Aisyah berkata beliau: dst

Tercatat sangat kuat sampai kepada Urwah. = sumber awal soal umur Aisyah hanya dari satu sumber yaitu urwah.

Apakah tidak ada orang lain yang mendengar cerita itu langsung dari Aisyah RA, apakah perkawinan Aisyah hanya disaksikan oleh satu orang penyaksi yang meriwayatkan perkawinan itu?

dalam hal ini ada sebuah kajian kritis tentang usia siti aisyah saat melakukan pernikahan dengan nabi Muhamamad saw yang ditelaah oleh

MAULANA HABIBUR RAHMAN SIDDIQUI KANDHALAWI ( http://www.darulkautsar.com/pemurniansejarah/teks/umreaisyah.htm )

MUKADDIMAH

Semenjak daripada alam persekolahan, kita telah membaca dan mendengar bahawa Rasullulah s.a.w. mengahwini ‘Aishah, anak perempuan Abu Bakar r.a., pada ketika beliau r.a. baru berumur enam tahun dan mereka mula hidup bersama ketika Aishah berumur sembilan tahun. Riwayat ini terdapat dalam kitab-kitab hadis dan para ulama telah menjelaskan bahawa Tanah Arab adalah sebuah tempat yang cuacanya panas, oleh itu kanak-kanak perempuan di sana meningkat baligh pada usia sebegini.

Bila kami datang ke Karachi dan menetap di sana kami menemui orang-orang yang berpendidikan barat, yang secara terbuka mencabar bahawa hadis ini bertentangan dengan akal. Kami berasa penat untuk mempertahankan hadis ini. Kami telah melihat beberapa orang yang merasakan masyarakat Inggeris lebih baik berbanding Islam dengan hanya berpandukan hadis ini. Sesetengahnya mencemuh Islam, sementara setengah yang lainnya mentertawakan hadis tersebut. Melalui cara yang lebih sopan, sebahagian mereka mengatakan bahawa ‘sejarah adalah lebih tepat’ dan hadis ini direka oleh orang-orang Parsi. Ada juga sesetengah mereka yang lebih berani dengan mengatakan: ” Minta maaf tuan. Bukhari telah ditipu , tugas tuan yang sebenar sekarang ialah membetulkan fakta ini”

Inilah sikap mereka yang berpendidikan barat dan pemikiran sebegini tersebar luas sehingga ada yang sanggup mengatakan, “Tuan, nafsu ada batasnya , adalah tidak munasabah melampiaskan nafsu dengan kanak-kanak berumur sembilan tahun”. Semoga Allah melindungi kita dari keceluparan ini.

Kita semua adalah orang Islam. Inilah yang kami dengar dan kami cuba mencari jalan untuk menyelesaikannya. Dalam usaha mencari jawapan kepada permasalahan ini, kami mempelajari sejarah, ilmu salasilah, jarh wa taadil , ilal hadis, biografi perawi dan ugama Syi’ah. Dari kajian ini, kami dapati bahawa penipuan terbesar dalam Sejarah Islam dilakukan oleh golongan Syiah. Mereka mengelabui pembohongan ini atas nama sejarah. Kami akan membentangkan bukti pembohongan ini di helaian-helaian yang akan datang , insyaAllah.

Kami menyelidiki usul hadis, biografi perawi, illat hadis dan hadis-hadis palsu dan kami dapati ulama hadis telah membina benteng yang amat kukuh untuk menyekat kebanjiran ini sehingga golongan ahli sunnah sendiri tidak suka untuk melihatnya. Ulama-ulama hadis telah menggariskan prinsip-prinsip dan asas yang cukup berharga untuk kita menilai dan mengasingkan setiap yang benar dan yang palsu.

Imam Bukhari telah membina benteng yang sangat besar untuk menyekat kebanjiran fahaman Syiah. Motif utama kritikan terhadap kitab Sahih Bukhari ialah untuk menyokong gerakan Syiah. Di sebalik kritikan-kritikan tersebut , kepercayaan kita terhadap Sahih Bukhari semakin bertambah. Sayangnya tidak ramai orang awam faham hakikat ini, disebabkan dua faktor berikut:

Pertamanya, pada waktu itu, ketika cerita-cerita palsu membanjiri dari segenap penjuru, Imam Bukhari telah berusaha sedaya-upaya untuk menghapuskan pembohongan dengan penuh minat dan gigih; dan usaha ikhlasnya itu tidak dapat ditandingi sesiapapun sehingga hari ini. Bagaimanapun, beliau adalah makhluk biasa dan sebagai seorang manusia, tidak dapat mengelak daripada melakukan silap dan salah. Dan dengan melakukan satu kesilapan itu tidaklah sampai dihukum gantung. Lagipun, kesilapan tidak boleh dianggap sebagai suatu jenayah kerana jenayah adalah suatu perbuatan yang disertai dengan niat dan dan dilakukan dengan sengaja. Dengan kesilapan kecil yang tidak disengajakan Imam Bukhari tidaklah boleh dituduh sebagai penjenayah!

Keduanya, Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis melalui perantaraan para perawi dan sebagaimana kita maklum perawi-perawi ini bukan maksum. Ramai perawi yang dianggap ‘thiqah’ (terpercaya) oleh Imam Bukhari tetapi tidak dianggap ‘thiqah’ oleh orang lain. Ianya tidak boleh dianggap sebagai jenayah atau sesat.

Dalam keadaan ini, kami akan menilai semula riwayat ini dan di sini kami persembahkan kepada pembaca setelah meneliti semua fakta yang ada. Dalam kajian ini , kami tidak menyebelahi mana-mana individu atau kumpulan tertentu .

Di antara hasil kajian terpenting dalam tajuk ini setakat ini ialah buku bertajuk “Umur Aishah” yang ditulis oleh Hakim Niaz Ahmed. Namun begitu, karangan tersebut mengandungi terlalu banyak perbincangan yang bersifat teknikal, menyebabkan ia sukar difahami oleh pelajar seperti kita.

Kami tidak bercadang untuk menulis sebuah buku atas tajuk ini dan juga kami tidak mempunyai cukup masa untuk itu. Kami hanya ingin mencurahkan idea-idea yang diperolehi semasa kajian itu dalam bentuk nota ringkas.

Timbul satu persoalan sama ada mencapai baligh pada usia sebegini hanya berlaku kepada Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a seorang sahaja , ataupun ianya adalah suatu yang lazim di Semenanjung Arab. Semua negara yang iklimnya sama atau yang berhampiran dengan Arab, iaitu wilayah-wilayah yang terdapat di negara Afrika seperti Libya, Tunisia, Sudan, Moroko dan wilayah Asia yang terletak di zon khatulistiwa ataupun yang hampir dengan wilayah ini, sebagaimana wilayah Multan, Sukkur, Sibi dan Jacobabad, terkenal dengan cuaca panasnya. Berdasarkan kepada kriteria ini, kanak-kanak perempuan di situ sepatutnya telah baligh sewaktu berumur sepuluh atau sebelas tahun; dan di Pakistan hampir 200,000 atau 400,000 kes atau setidak-tidaknya 2,000 atau 4,000 kes sepatutnya telah berlaku. Di Semenanjung Arab pula pasti tidak terkira banyaknya kes seperti ini sepatutnya berlaku. Jikalau tidak ada catatan dalam sejarah tentang peristiwa seperti ini , anda boleh melihat sendiri tanah Arab yang ada pada hari ini kerana Tanah Arab masih berada di tempat yang sama. Mekah dan Madinah masih berada di lokasi yang sama dan dalam keadaan yang sama. Tempat-tempat ini tidak berganjak sedikit pun. Sehingga hari ini, iklim di Semenanjung Arab adalah sama sebagaimana seribu lima ratus tahun dahulu. Hingga ke hari ini cuaca panas di Mekah memang di ketahui umum. Saya ingin beritahu bahawa saya telah merasai musim panas di Mekah pada bulan Mac (waktu di mana ia tidak begitu panas di Asia dan Afrika).

Berbanding zaman dahulu, peralatan komunikasi kini mudah dan banyak. Beratus-ratus ribu orang Pakistan bekerja di Tanah Arab, dan ramai daripada ahli keluarga mereka tinggal bersama mereka di sana. Namun sehingga hari ini, tiada sesiapa pun yang telah mengejutkan kita dengan cerita kanak-kanak perempuan telah mencapai umur baligh bila sampai di sana. Juga, sampai hari ini tiada orang Pakistan yang berjumpa dengan kami dan mengatakan; “Tuan! Saya telah tinggal bersama-sam a isteri dan anak-anak saya di Arab Saudi, dan kesan daripada iklimnya, anak-anak saya sudah boleh berkahwin, walaupun usianya baru sembilan tahun. Tuan! Sekarang kami yakin dengan sepenuh hati bahawa Ummul Mu’minin telah mula hidup bersama suaminya ketika beliau berumur sembilan tahun.”

Apapun yang akan kami tulis di sini bukanlah bermakna kami menolak hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tetapi matlamat kami ialah untuk memberi jawapan kepada musuh-musuh Islam yang telah mencalitkan lumpur ke tubuh mulia Rasullulah s.a.w. Adalah jelas bahawa kesucian Rasulullah s.a.w. adalah sesuatu yang lebih utama daripada perawi-perawi ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’. Tanpa mengakui kemuliaan Nabi Muhammad s.a.w., tidak bermakna iman dan Islam seseorang. Dan kita tidak diwajibkan untuk menerima semua perawi-perawi ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’ dan tidak menjejaskan iman sekiranya kita mempertikaikan ( dengan adil ) peribadi perawi-perawi tersebut .

Sebagai seorang Muslim, kita yakin bahawa peribadi Rasulullah s.a.w. adalah adalah sangat tinggi dan mulia bahkan lebih tinggi daripada yang kita gambarkan. Jika terdapat sebarang riwayat yang boleh menjatuhkan maruah atau martabat mana-mana Nabi pun, maka kita hendaklah mencampakkan sahaja riwayat tersebut.

Perkataan ini bukannya daripada kami. Ulama-ulama hadis telah menggunakan istilah ‘campakkan riwayat ini’ berulangkali dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka melafazkannya setiap kali melihat kesilapan atau kecacatan walaupun yang amat kecil di dalam suatu riwayat .

Di sini Nabi s.a.w. telah digambarkan sebagai seorang yang sangat bernafsu kepada seks. Demi kemuliaan nabi s.a.w beratus ribu riwayat sebegini hendaklah dicampakkan termasuklah riwayat oleh Hisham bin Urwah ini. Kita korbankan kesemua riwayat ini untuk memelihara kemuliaan Nabi s.a.w.

Ulama hadis telah menjelaskan bahawa sebarang hadis yang berlawanan dengan akal yang sihat dan pengalaman adalah hadis ‘maudhu’ (rekaan). Malah, Ibn Jauzi telah mengatakan sehingga, sekiranya sesuatu riwayat didapati bercanggah dengan ‘hikmah’ (kebijaksanaan) , pasti ianya riwayat ‘maudhu’; dan perbincangan atau penilaian tentang perawi riwayat tersebut adalah sia-sia. Ulama hadis telah menggunapakai kaedah ini dalam banyak kes.

Kita juga faham penilaian ulama hadis samada benar atau dustanya seseorang perawi, adalah berdasarkan ‘zann’ ( sangkaan yang kuat) . Ini kerana, ada kemungkinan bahawa seorang yang kita anggap sebagai benar, mungkin hakikatnya dia adalah seorang pendusta dan mungkin seseorang yang dianggap pendusta adalah sebenarnya bukan pendusta. Tidak semestinya setiap pendusta akan sentiasa berbohong dan setiap orang yang benar akan sentiasa berkata benar.

Para muhaddis akan menghukumkan samada seseorang perawi itu benar, dapat dipercayai atau baik berdasarkan kepada penampilannya atau persaksian daripada orang lain. Ini merupakan ‘zann’( andaian mereka yang kuat ) , namun kemungkinan tetap ada bahwa dia bukan seorang yang benar dan mungkin dia hanya berpura-pura berkelakuan baik dan warak . Dan sesiapa yang didakwa sebagai pendusta, mungkin dia difitnah oleh musuhnya padahal sebenarnya beliau bukanlah seorang pendusta.

Berdasarkan kepada alasan inilah, kadang-kadang ‘penilaian’ di kalangan para ulama hadis terhadap seseorang perawi berbeza . Sebagai contoh, dalam kes Abdur Razak bin Hamam, sesetengah ulama hadis telah mengatakan bahawa beliau adalah seorang yang ‘thiqah’ (boleh dipercayai). Yahya bin Main bagaimanapun mengatakan beliau adalah seorang Syiah. Imam Ahmad bin Hanbal pula mengatakan beliau ( Abdur Razak) tidak mempunyai apa-apa masalah. Yazid bin Zaree’a mengatakan bahawa beliau ialah seorang Syiah Rafidhah, dan beliau mengatakan, “Demi Allah dia adalah lebih dusta daripada Waqidi”

Bagi kita, kesemua ulama hadis ini amat terhormat dan sangat mulia. Mereka mengeluarkan pendapat berdasarkan kepada pengalaman dan pengamatan masing-masing. Adalah menjadi tanggungjawab kita pula untuk membuat keputusan dengan memilih hanya satu sahaja daripada pendapat yang berbagai itu.

Para ulama hadis ini tidak mempunyai alat atau perkakas yang memberi tahu yang mana benar dan yang mana salah. Jikalau ada, sudah tentu tidak akan wujud perbezaan pendapat di kalangan mereka. Dan, kita sendiri pun tidak memiliki peralatan itu, malahan tiada peralatan seperti itu yang telah tercipta sehingga ke hari ini; suatu alat yang mana dapat membezakan kebenaran dan penipuan yang dilakukan oleh seseorang yang telah mati!

Jelas daripada perbincangan ini, bila seorang Muhaddis mengatakan bahawa hadis ini adalah benar ataupun hadis itu adalah tidak benar, beliau hanyalah mengemukakan pendapatnya; dan tidak semestinya pendapatnya tepat. Walaupun seseorang ulama hadis memberi pendapat yang salah, kita tidak boleh mengatakannya sebagai pembohong kerana dia tidak berniat melakukan pendustaan tetapi memberi pendapatnya berdasarkan maklumat yang ada padanya.

Dalam hal ini, adalah mungkin bahawa seseorang menerima pendapat Imam Ahmad, sementara yang lainnya yang menolak riwayat oleh perawi ini (Abdur Razak bin Hamman) , bersetuju dengan pendapat muhaddis yang lain.

Perbincangan ini telah menjelaskan kaedah ‘apabila muhaddisin menerima sesuatu hadis adalah sahih, itu adalah pendapat dan pandangan ( zann) mereka’ . Jika ada seseorang berpendapat sesuatu hadis adalah tepat dan sempurna sebagaimana al-Quran yang mulia , dan seorang lagi berpendapat sebaliknya, kedua-keduanya , pada pendapat kami adalah salah . Apa yang dipanggil ‘ishque’ (cinta) ’ ialah suatu kekacauan fikiran. Perbezaannya hanyalah, seseorang cenderung untuk mempercayai semua perkara adalah benar , sedangkan yang seorang lagi memiliki kecenderungan untuk mendustakannya. Ada yang sentiasa menerima apa saja yang diutarakan oleh muhaddis dan ada yang sentiasa memusuhi mereka. Ada orang yang mendewa-dewakan orang terdahulu manakala sebahagian lagi tidak suka dikaitkan dengan orang dahulu.

Dalam kedua-dua keadaan ini, semuanya dikatakan ‘cinta’ (kecenderungan), dan menurut penyair Mirza Ghalib, Penyair Agung Urdu:

‘Apa yang orang panggil cinta itu ialah keadaan minda yang meracau’

Kita semua tahu tiada yang maksum kecuali nabi-nabi a.s. Orang yang beriman pun tidak terkecuali daripada melakukan kesilapan atau terlupa. Tanggapan yang mengatakan Imam Bukhari dan Imam Muslim atau mana-mana perawi thiqah tidak melakukan kesilapan atau tidak mungkin terlupa adalah serangan keatas ‘kemaksuman’ nabi s.a.w. Konsep ‘maksum’ pada seseorang selain daripada nabi-nabi a.s. hanya terdapat dalam ajaran Syiah, bila mereka mengatakan Imam Dua Belas sebagai maksum. Ironinya, saudara-saudara kita ahli sunnah menyediakan beratus ribu individu maksum tanpa mereka sedari!

Dengan alasan inilah para ulama hadis menghukumkan beberapa hadis yang diriwayatkan oleh perawi thiqah sebagai mungkar .Di dalam kitab rijal kita boleh menemui contoh yang tidak terkira banyaknya. Ibnu al-Madini mengatakan tiga riwayat oleh Imam Malik adalah mungkar . Ahmad bin Hanbal telah mengatakan Sufyan bin Uyainah meriwayatkan lebih daripada 30 hadith mungkar. Ibn Hazm telah mengatakan riwayat tentang ‘mi’raj’ yang diriwayatkan Bukhari sebagai ‘mungkar’.

Ummul Mu’minin Aishah r.a. telah mengkritik beberapa riwayat yang diceritakan oleh para Sahabat r.a. dan berkata , “Saya tidak mengatakan bahawa mereka berdusta, tetapi seringkali telinga tersilap dengar”. Di dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’, terdapat beberapa riwayat sebegini . Ini menunjukkan bahawa kadang-kadang suatu riwayat mungkin salah walaupun diriwayatkan oleh perawi yang paling thiqah.

Keadaan ini berlaku kerana kadang-kadang seorang perawi itu tidak mendengar sesuatu percakapan dengan sepenuhnya. Kadang-kadang pula perawi itu tersalah dalam memahami maksud sebenar sesuatu ucapan. Adakalanya dia terlupa perkataan yang didengarinya. Ummul Mu’minin r.a. juga ada mengatakan seorang perawi mungkin silap mendengar sesuatu percakapan . Contohnya, perkataan sebenar yang diucapkan ialah “sembilan belas”, tetapi perawi itu hanya mendengar perkataan “sembilan”.

Sedangkan para sahabat r.a. yang mulia pun tidak terlepas daripada berbuat silap, meskipun dia Saidina Umar r.a., Abu Hurairah r.a., dan Ibn Umar r.a. atau tabiin Urwah bin Azzubair dan anak lelakinya Hisham. Dengan mengatakan ‘sahabatpun boleh melakukan kesilapan’ tiada sesiapa mengatakan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. sebagai seorang anti-hadis. Begitulah sekiranya bila kita mengatakan seorang perawi mungkin melakukan kesilapan kita tidak boleh dikatakan sebagai orang yang menolak hadis kerana ‘menolak hadis’ dan ‘mendedahkan kesilapan’ adalah dua perkara yang berbeza. Dalam erti kata lain, berdusta ialah suatu kesalahan tetapi melakukan kesilapan bukanlah suatu kesalahan.

Berhubung dengan riwayat tentang ‘umur Aishah semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.’, kami tidak mengatakan bahawa riwayat dari Hisham bin Urwah di dalam ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’ itu sebagai hadis Maudhu (rekaan) dan juga kami tidak mengatakan bahawa perawi tersebut seorang pendusta. Sebaliknya, kami berpendapat Hisham telah melakukan kesilapan di dalam riwayat ini dengan menyebut ‘sembilan belas’ sebagai ‘sembilan’ dengan tidak disengajakan. Kami mempunyai banyak hujah untuk menyokong pendapat kami. Jikalau tidak mempunyai apa-apa hujah sekalipun, kami akan tetap mengatakan bahawa hadis ini mungkar kerana kami lebih mencintai Rasulullah s. a.w. dari perawi-perawi riwayat ini.

HUJAH PERTAMA – BERTENTANGAN DENGAN FITRAH MANUSIA

Riwayat ini bertentangan dengan pengalaman dan fitrah manusia. Adalah mustahil ia dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan ia sebenarnya tidak pernah berlaku. Jika peristiwa sedemikian pernah terjadi, maka musuh-musuh Islam dan juga musuh-musuh Nabi Muhammad s.a.w. pada waktu itu sudah tentu telah mengambil kesempatan untuk mempermainkan dan menghina baginda s.a.w. Dan, apabila tiada apa-apa serangan terhadap peribadi Rasulullah s.a.w. oleh musuh-musuh Islam pada masa itu , ianya membuktikan bahawa peristiwa tersebut tidak pernah berlaku. Sekiranya tidak, ianya adalah peluang keemasan kepada musuh Islam untuk menyerang Islam dan rasulnya.

Tidak syak lagi riwayat ini adalah tidak benar. Sumber utama riwayat ini ialah Hisham dan perawi-perawi yang menukilkan darinya; oleh itu keraguan berkisar hanya sekitar Hisham.

HUJAH KEDUA – BERTENTANGAN DENGAN AKAL YANG WARAS

Suatu riwayat yang bertentangan dengan akal adalah palsu dan dongeng. Ibnu Jauzi, salah satu nama besar dalam lapangan pengkritikan hadis, ialah orang yang bertanggungjawab memperkenalkan prinsip ini. Riwayat oleh Hisham ini adalah bercanggah dengan akal dan akal yang waras tidak dapat menerimanya . Apa sudah jadi dengan kewarasan dan kebijaksanaan kita ? Amat aneh bila kita dapati tidak ramai cendiakawan yang samada menolak atau meragui riwayat ini.

HUJAH KETIGA – TIADA CONTOH DITEMUI DI NEGERI ARAB ATAU DI NEGERI-NEGERI PANAS

Sehingga hari ini tidak ditemui kes seperti ini di Semenanjung Arab dan negara-negara beriklim panas yang lain. Jika sekiranya ia menjadi amalan masyarakat ini nescaya kita akan dapati wujud beribu-ribu contoh seumpamanya dalam catatan sejarah..

Sebaliknya, sekiranya peristiwa begini berlaku pada hari ini , ianya akan menjadi berita sensasi , contohnya, seorang lelaki gila merogol seorang kanak-kanak perempuan berumur sembilan tahun…dan orang yang melakukan perbuatan sedemikian digelar sebagai orang gila.

kita dan para pencinta Nabi s.a.w. tidak menunjukkan keberanian untuk menyangkal riwayat ini dan yang sedihnya sebahagian daripada mereka tidak dapat menjadi contoh kepada ummah bila mereka sendiri mengahwinkan anak dara sunti mereka yang berumur sembilan tahun , atas nama sunnah dan berbangga kerana menghidupkan sunnah !! Kami adalah ‘orang bodoh’ dan berdosa. Ulama sepatutnya menunjukkan contoh yang praktikal supaya kami dapat mengikuti contoh tersebut.

Mungkin anda tidak akan percaya bahawa ulama kita pada suatu ketika dahulu telah menolak penemuan saintifik yang bertentangan dengan pendapat mereka, malah sebaliknya tidak mengiktiraf hasil kajian saintifik tersebut . Contoh klasik ialah, ramai daripada mereka yang berpendapat matahari mengelilingi bumi, tetapi apabila kajian saintifik mengatakan sebaliknya mereka berkeras dengan pendapat mereka. Dalam bahasa yang mudah mereka berkata, ‘ Saya tidak akan menerimanya dalam apa pun keadaan’.

Beginilah sikap mereka dalam hal ini , iaitu , tentang umur Aishah r.a. semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.

Dengan hanya berkata “kami tidak menerima fakta sejarah”, tidak memberi apa-apa makna kepada ummah.

Berkenaan ‘sejarah’, di satu pihak mereka mendakwa bahawa mereka tidak menerima ‘sejarah’, tetapi pada masa yang sama mereka melaung-laungkan cerita “Yazid yang jahat’ dari mimbar-mimbar khutbah ( walaupun ianya cerita sejarah yang direka). Bahkan cerita berkenaan Karbala telah diulas oleh ulama kita lebih hebat daripada ahli sejarah.

Kami akan menyentuh tentang aspek sejarah di bahagian kedua kertas ini. Buat masa ini kami akan membentangkan hujah berdasarkan hadis, usul hadis, biografi perawi ( ilmu rijal) dan illal hadis kerana ulama kita mengiktiraf ilmu-ilmu ini. Adalah tujuan kami untuk menarik perhatian mereka dalam aspek ini.

HUJAH KEEMPAT- RIWAYAT INI BUKAN HADIS RASULULLAH S.A.W.

Kami telah mengkaji dengan terperinci hadis yang diriwayatkan oleh Hisham. Untuk kajian ini, kami telah mengumpulkan bukti-bukti daripada kitab-kitab ‘Saheh Bukhari’, ‘Saheh Muslim’, ‘Sunan Abu Daud’, ‘Jami’ Tirmizi’, ‘Sunan Ibnu Majah’, ‘Sunan Darimi’ dan ‘Musnad Humaidi’. Selepas menelaah kitab-kitab tersebut, sesuatu kemusykilan telah timbul. Sebahagian perawi mengatakan riwayat tersebut sebagai kata-kata Aishah r.a., sedangkan setengah yang lain mengatakannya sebagai kata-kata Urwah r.a. Yang pastinya , ia bukan kata-kata Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Ia sama ada kata-kata ‘Aishah r.a. ataupun kata-kata Urwah r.a. yang merupakan seorang ‘tabiin’ iaitu anak kepada seorang sahabat ( Zubair bin Awwam r.a ) dan juga anak kepada kakak Aishah r.a sendiri ( Asma binti Abu Bakar r.a ) . Jika riwayat ini adalah kata-kata Urwah, ia tidak mempunyai apa-apa nilai dalam syariah. Dan, kita juga tahu bahawa apabila berlaku perbezaan pendapat sama ada suatu riwayat itu ‘Muttasil’ (bersambung) ataupun ‘Mauquf’ (terputus) , ulama hadis pada amnya akan mengatakan ianya sebagai ‘Mauquf’ (terputus) . Berdasarkan prinsip ini, bolehlah disimpulkan bahwa riwayat ini adalah cerita sejarah oleh Urwah ( dan bukannya hadis); dan tidak berdosa untuk menolak kata-kata Urwah.

Riwayat ini akan tetap dianggap cerita sejarah sehingga ulama membuktikan sebaliknya ( iaitu riwayat ini ‘muttasil’( bersambung)) .

HUJAH KELIMA – RIWAYAT INI DIRIWAYATKAN OLEH HISHAM SELEPAS FIKIRANNYA BERCELARU

Urwah menceritakan riwayat ini kepada anaknya Hisham. Pada pandangan kami, segala kekeliruan dalam riwayat ini adalah berpunca daripada Hisham. Adalah penting untuk diketahui bahawa dengan hanya menjadi perawi dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’ tidak bermakna perawi tersebut sempurna dan tidak melakukan sebarang kesilapan . Kami telah menghabiskan masa bertahun-tahun lamanya mengkaji biografi perawi dan kami dapati ada dua zaman dalam kehidupan Hisham iaitu zaman Madani (semasa di Madinah) dan zaman Iraqi (semasa di Iraq).

Zaman Madaninya ialah sehingga tahun 131 H. Dalam tempoh ini di antara muridnya yang paling penting ialah Imam Malik. Imam Malik telah meriwayatkan beberapa hadis daripada Hisham di dalam kitabnya ‘Muwatta’, tetapi riwayat perkahwinan Ummul Mukminin Aishah r.a. dengan Rasulullah s.a.w tidak ditemui dalam kitab Imam Malik tersebut.
Imam Abu Hanifah r.a. juga merupakan anak muridnya dalam tempoh tersebut, dan beliau juga tidak pernah meriwayatkan cerita ini.

Zaman kedua Hisham bermula selepas tahun 131 H. Adalah tidak diragukan bahawa Hisham adalah seorang perawi ‘thiqah’ (boleh dipercayai) sehinggalah tahun 131 H, dan Hisham merupakan sumber asas (madar) kepada banyak hadis yang diriwayatkan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. Kemudian suatu yang malang berlaku. Pada tahun 131 H Hisham berhutang sebanyak seratus ribu dirham untuk melangsungkan perkahwinan anak perempuannya, dengan harapan mendapat wang daripada Khalifah yang sedang berkuasa untuk menjelaskan hutangnya. Namun apa yang terjadi adalah diluar jangkaan Hisham di mana pemerintahan Bani Umaiyyah berpindah tangan kepada Bani Abbas. Hisham tiba di Baghdad dengan penuh harapan, dan telah menghulurkan tangannya meminta duit daripada Khalifah Mansur ( Khalifah Abbasiyah).
Pada mulanya, Khalifah mencelanya tetapi selepas didesak Khalifah Mansur telah memberinya sepuluh ribu dirham . Kejadian ini merupakan kejutan pertama ke atas fikirannya, dan akibatnya beliau mula menjadi ‘tidak tetap’ dalam meriwayatkan hadis-hadis. Dia mula meriwayatkan hadis yang beliau mengaku didengar daripada ayahnya (Urwah) tetapi sebenarnya beliau tidak pernah mendengar hadis tersebut..

Dengan harapan mendapat pinjaman tambahan daripada Khalifah beliau kembali ke Baghdad dan berjaya mendapat sedikit wang . Selepas membayar sebahagian hutangnya, sekali lagi beliau datang ke Baghdad dan kemudiannya menetap di sana sehingga meninggal dunia

Beliau meninggal dunia di Baghdad pada tahun 146 H. Semua kekacauan dalam riwayat-riwayatnya berlaku semasa berada di tanah Iraq. Seolah-olahnya, apabila beliau tiba di Iraq, ingatannya telah bertukar dan telah mengalami perubahan yang besar.

Ya’aqub bin Abi Shaibah mengatakan bahawa sebelum pindah ke Iraq tiada riwayat Hisham yang ditolak, tetapi apabila beliau pergi ke Iraq beliau telah menceritakan banyak riwayat yang disandarkan kepada ayahnya Urwah yang tidak disukai oleh penduduk Madinah. Seperkara lagi, semasa tinggal di Madinah, Hisham hanya menceritakan hadis yang didengari daripada ayahnya. Tetapi semasa di Iraq, dia mula menceritakan hadis yang didengari daripada orang lain . Oleh itu, riwayat Hisham yang dinukilkan oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai. (Tahzib-ul-Tahzib, m/s 48, jilid 11)

Semoga Allah merahmati Ibn Hajar, yang mendapat ilham daripada Ya’aqub bin Abi Shaibah dengan mengatakan bahawa ‘riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai’ . Di antara riwayat tersebut ialah riwayat ‘Saidatina Aishah r.a. hidup bersama suaminya (Nabi s.a.w.) semasa berumur sembilan tahun dan telah berkahwin sewaktu usianya enam tahun . Juga cerita berkenaan Rasulullah s.a.w. terkena sihir. Cerita mengenai ‘Aishah r.a. ‘bemain dengan anak patung’ juga telah diriwayatkn oleh orang Iraq daripada Hisham.

Sekalung penghargaan untuk Ya’aqub bin Abi Shaibah dan Hafiz Ibn Hajar kerana mengatakan: “Riwayat-riwayat yang dibawa oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai”. Mereka tidak mengecualikan riwayat-riwayat dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’ daripada prinsip ini. Oleh sebab itu, kita hendaklah bersungguh-sungguh mengenal pasti dan mencari hadis-hadis yang telah diriwayatkan oleh orang Iraq daripada Hisham. Jika kita mengisytiharkan kesemua hadis tersebut sebagai yang ‘tidak boleh dipercayai’, ulama kita tidak boleh membantah kemudiannya kerana prinsip ini telah diberi oleh ulama salaf yang terdahulu. Kami mendoakan kepada mereka yang baik ini yang (dengan mengemukakan prinsip ini), telah melindungi Rasulullah s.a.w. daripada serangan- orang-orang Iraq.

Hafiz az-Zahabi telah menulis tentang Hisham: “terjadi perubahan dalam ingatannya di akhir usianya , dan Abul Hasan bin Al-Qattan mendakwa bahawa beliau keliru dalam meriwayatkan hadis bila di akhir usianya” Hafiz Uqaili telah menulis dengan lebih jauh lagi: “dia telah nyanyuk di tahun-tahun terakhir kehidupannya”.

Di dalam ‘Mizan al-I’tidal’ , Hafiz az-Zahabi menulis bahawa ingatan Hisham yang kuat di waktu mudanya, tidak kekal di usia tuanya. Dan di Iraq, dia tidak dapat meriwayatkan hadis dengan baik dan tepat (‘Mizan al-I’tidal, Jilid IV)

Imam Malik, salah seorang anak murid Hisham, telah meriwayatkan beberapa riwayat Hisham di dalam ‘Muwatta’nya di masa beliau menganggap riwayat Hisham adalah muktamad di dalam semua perkara. Beliau juga tidak bersetuju dengan Hisham semasa beliau ( Hisham) tinggal di Iraq. Beliau menolak riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang-orang Iraq. Ibn Hajar mengatakan, “ Penduduk Madinah menolak riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang-orang Iraq”

Angka “sembilan tahun” ini telah menghantui pemikiran Hisham sehingga dia mengaku berkahwin dengan isterinya semasa isterinya berumur sembilan tahun. Az- Zahabi telah menceritakan peristiwa ini sebagaimana berikut: “Fatimah binti Al-Munzir adalah sebelas tahun lebih tua dari suaminya, Hisham. Sekiranya dia datang ke rumah Hisham untuk tinggal bersamanya semasa berumur sembilan tahun beliau perlu menunggu dua tahun sebelum ibu Hisham melahirkannya dan sebelum kelahirannya, Hisham tidak membenarkan orang lain melihat isterinya. Kami belum pernah menyaksikan perkara se ajaib ini”. Az-Zahabi kemudian menerangkan bahawa Fatimah tinggal bersama suaminya ketika berumur sekitar 28- 29 tahun. Dalam erti kata lain, Hisham telah menggugurkan angka ‘20’ dari angka ’29’. Dengan cara yang sama, dalam hal Ummul Mukminin r.a. angka ‘9’ timbul selepas menggugurkan ‘10’ daripada angka ‘19’.

Menurut Hafiz Ibn Hajar, Hisham pernah mengaku bahawa isterinya tiga belas tahun lebih tua daripadanya…kami sedar bahawa iklim Iraq telah merosakkan fikiran ramai orang baik-baik

HUJAH KEENAM – HANYA PERAWI IRAQ YANG MENUKILKAN RIWAYAT INI

Kami agak tekejut apabila mendapati bahawa kesemua perawi tentang ‘Umur Aishah’ adalah orang Iraq yang samada dari Kufah ataupun Basrah. Riwayat ini tidak pernah dinukilkan oleh mana-mana perawi Madinah, Mekah, Syam, mahupun Mesir. Tiada perawi bukan Iraq yang meriwayatkan kisah ini, sebabnya cerita ini dikeluarkan oleh Hisham semasa beliau tinggal di Iraq.

Perawi-perwai berikut telah menyalin kisah ini daripada Hisham:

1. Sufyan bin Said Al-Thawri Al-Kufi
2. Sufyan bin ‘Ainia Al-Kufi
3. Ali bin Mas’her Al-Kufi
4. Abu Muawiyah Al-Farid Al-Kufi
5. Waki bin Bakar Al-Kufi
6. Yunus bin Bakar Al-Kufi
7. Abu Salmah Al-Kufi
8. Hammad bin Zaid Al-Kufi
9. Abdah bin Sulaiman Al-Kufi

Sembilan orang tersebut berasal daripada Kufah. Manakala perawi dari Basrah pula adalah :

1. Hammad bin Salamah Al-Basri
2. Jafar bin Sulaiman Al-Basri
3. Hammad bin Said Basri
4. Wahab bin Khalid Basri

Inilah mereka yang telah meriwayatkan kisah ini daripada Hisham. Semasa beliau tiba di Iraq pada tahun 131 H , beliau berumur 71 tahun. Adalah tidak masuk akal beliau tidak dapat mencari orang untuk meriwayatkan kisah ini sehinggalah beliau berumur 71 tahun.

Dalam hal ini, riwayat ini tidak terlepas dari dua keadaan , iaitu, sama ada orang Iraq yang merekanya dan mengatakan Hisham sebagai sumbernya, ataupun iklim Iraq telah mempengaruhi Hisham dengan teruk menyebabkan dia tidak sedar akan ‘dirinya’, bahawa dia membawa isterinya Fatimah binti Al-Munzir untuk tinggal bersama ketika umur isterinya sembilan tahun, iaitu empat tahun sebelum kelahirannya sendiri.! Setelah tiba di Iraq, tahap kebijaksanaan dan kesedaran mentalnya telah merosot hingga ke tahap ini..

Kami mengagumi Hisham , dan nasihat semasa beliau tinggal di Madinah masih lagi segar dalam ingatan kami . Anda juga patut mengingatinya, bak kata pepatah Parsi yang masyhur, “sesuatu yang disimpan pasti ada gunanya suatu hari nanti” . Nasihatnya yang satu ini amat berguna . Katanya:

“Apabila seorang Iraq meriwayatkan seribu hadis, kamu patut mencampakkan sembilan ratus sembilan puluh daripadanya ke tanah, dan berasa sangsi terhadap sepuluh yang masih tinggal.”

Jika kita berpandukan kepada nasihat Hisham ini, banyak masalah yang akan terjawab dengan sendirinya.

Selain daripada itu, kita juga patut memberi perhatian kepada prinsip ulama hadis yang dinukilkan oleh Baihaqi dari Abdur-Rahman bin al-Mahdi:

“Apabila kami meriwayatkan hadis mengenai ‘halal dan haram’ dan ‘perintah dan larangan’, kami menilai dengan ketat sanad-sanad dan mengkritik perawi-perawinya, akan tetapi apabila kami meriwayatkan tentang faza’il ( keutamaan ) , pahala dan azab, kami mempermudahkan tentang sanad dan berlembut tentang syarat-syarat perawi.” (Fatehul- Ghaith, ms 120)

Abdur Rahman bin al-Mahdi merupakan guru kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau adalah salah seorang tokoh penting dalam ilmu rijal (biografi perawi). Bagi pihak ulama hadis, beliau mengatakan muhaddisin menilai sanad dengan ketat bila menilai hadis berkenaan halal dan haram dan juga tentang ‘perintah’ dan ‘larangan’. Bagi hadis yang tidak berkaitan dengan halal dan haram serta perintah dan larangan ( seperti ‘fazail’ ( keutamaan) , sirah dsb) ulama hadis bersikap mudah tentang peribadi perawi dan mengabaikan kesilapan dan kelemahan mereka. Sebagai contoh, ulama hadis tidak melakukan kajian terperinci dan menyeluruh ke atas riwayat yang berkenaan dengan Fazaiel (Kelebihan) sama ada ia berkaitan dengan perwatakan atau amalannya seseorang, balasan azab terhadap sebarang perbuatan maksiat, ataupun peristiwa daripada sejarah. Mungkin ini adalah sebabnya mengapa ulama hadis tidak merasakan perlu untuk membincangkan dengan teliti riwayat yang berkenaan umur sebenar Saidatina ‘Aishah (semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. ) Besar kemungkinan, Imam Bukhari memegang prinsip yang sama iaitu tidak ketat dalam menilai riwayat seperti ini, yang mana kemudiannya menjadi ‘fitnah’ kepada kita semua.

Satu lagi prinsip hadis ialah jika ingatan seseorang perawi menjadi lemah, maka riwayat yang disalin oleh para muridnya ketika itu adalah ditolak. Hafiz Ibn Hajar mendakwa bahawa Imam Bukhari tidak mengambil sebarang riwayat daripada perawi seperti itu. Akan tetapi, dengan kesalnya kami terpaksa mengatakan bahawa setelah datang ke Iraq, ingatan Hisham menjadi lemah. Penduduk Iraq yang telah menyalin riwayat tersebut daripadanya, menyalinnya setelah ingatannya menjadi lemah. Imam Bukhari sepatutnya tidak memasukkan hadis daripada Hisham semasa tinggal di Iraq.

HUJAH KETUJUH – AISHAH R.A MASIH INGAT AYAT AL-QURAN YANG DITURUNKAN DI TAHUN EMPAT KERASULAN

Marilah kita membincangkan satu lagi hadis daripada kitab Saheh Bukhari, di mana Imam Bukhari telah memasukkannya dalam ‘Kitabul Tafsir’ sebagaimana berikut:

‘Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. mengulas bahawa ketika ayat al-Qur’an berikut diturunkan ,

“(Bukan kekalahan itu sahaja) bahkan hari Qiamat ialah hari yang dijanjikan kepada mereka (untuk menerima balasan yang sepenuh-penuhya). Dan (azab seksa) hari Qiamat itu amat dahsyat dan amat pahit.” (Surah al-Qamar, ayat 46),

“ saya masih kanak-kanak yang bermain ke sana ke mari.”

Surah al-Qamar ini telah diturunkan berhubung dengan kejadian ‘Shaqqul Qamar’ (Peristiwa Nabi s.a.w. membelah bulan ) . Para pentafsir al-Qur’an telah menjelaskan bahawa surah ini diturunkan pada tahun ke-4 kenabian, dan Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. ketika itu adalah seorang kanak-kanak yang selalu bermain ke hulu dan ke hilir.

Pada pandangan kami, riwayat ini bertentangan dengan riwayat Hisham. Ini kerana, dalam riwayat Hisham, Ummul Mu’minin r.a. telah dilahirkan pada tahun ke-5 kenabian dan ini diterima oleh ulama kita. Kalau begitu Ummul Mu’minin r.a. telah mempelajari ayat ini sebelum beliau dilahirkan, dan beliau juga telah biasa bermain ke hulu-hilir di sekitar Mekah sebelum kelahirannya …. Alangkah peliknya !! Oleh itu, kita perlu memilih salah satu di antara dua kemungkinan iaitu:

1. Riwayat Hisham adalah benar, dan riwayat Bukhari salah; atau
2. Riwayat Bukhari adalah benar dan riwayat Hisham salah.

Ulama kita nampaknya telah menerima pilihan pertama, tetapi kami lebih cenderung kepada pilihan kedua.

Riwayat ini membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. sudah besar sewaktu tahun ke-4 Kerasulan, di mana beliau r.a. selalu bermain dengan kanak-kanak perempuan lain; dan beliau r.a. mampu mengingati dan memahami bahawa ayat yang diturunkan adalah ayat daripada al-Quran yang mulia. Sekiranya kita membuat andaian bahawa umurnya adalah enam tahun pada tahun ke-4 Kerasulan, bermakna Ummul Mu’minin r.a. telah dilahirkan dua tahun sebelum Wahyu Pertama diturunkan (Perlantikan Nabi). Berdasarkan pengiraan ini, usianya ialah 17 tahun semasa mula tinggal dengan nabi s.a.w.

HUJAH KELAPAN – AISHAH R.A MASIH INGAT DENGAN JELAS PERISTIWA HIJRAH ABU BAKAR R.A. KE HABSHAH

Di dalam ‘Saheh Bukhari’, ada satu riwayat telah dinukilkan oleh Zuhri dari Urwah daripada Ummul Mu’minin r.a. Riwayat ini tidak pernah disebut oleh orang Iraq tetapi diriwayatkan oleh dua orang perawi Mesir, seorang perawi Sham dan dua orang perawi Madinah.

Urwah bin Az Zubair meriwayatkan dari A’ishah Ummul Mukminin katanya, “Semenjak saya sedar dan mengerti, saya melihat ibubapa saya telah pun berugama Islam. Tidak berlalu satu hari pun melainkan Rasulullah saw akan datang kepada kami sama ada di sebelah pagi atau petang”.

Bila orang-orang Islam diganggu oleh orang-orang kafir, Abu Bakar telah keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah ke bumi Habsyah. Bila beliau sampai ke Birku al-Ghimad beliau bertemu dengan Ibnu ad Dughunnah, ketua kabilah Qarah. Ibnu ad-Dughunnah bertanya, “Engkau hendak ke mana Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Kaumku telah mengeluarkanku. Kerana itu aku akan mengembara di muka bumi agar dapat beribadat kepada tuhanku”. Ibnu ad Dughunnah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sepertimu tidak boleh keluar dan tidak patut dikeluarkan (dari sesebuah negeri) kerana engkau berusaha untuk orang-orang yang tidak berharta. Engkau menghubungkan pertalian keluarga, engkau menanggung beban masyarakat, menjadi tuan rumah kepada tetamu dan membantu masyarakat ketika ditimpa bencana alam. Aku akan melindungimu. Pulanglah dan beribadatlah kepada tuhan di negerimu.”

Maka pulanglah Abu Bakar bersama Ibnu Ad Dughunnah. Pada petangnya Ibnu ad Dughunnah mengunjungi orang-orang bangsawan Quraisy. Beliau bersuara kepada mereka, “Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak boleh keluar dan dikeluarkan. Adakah kamu patut mengeluarkan seorang yang berusaha untuk orang yang tidak berharta, menjalin silaturrahim, menanggung beban kesusahan orang lain, menjadi tuan rumah kepada tetamu dan menolong masyarakat ketika bencana?”. Perlindungan Ibnu Ad Dughunnah tidak ditolak oleh orang-orang Quraisy. Mereka berkata kepada Ibnu ad Dughunnah, “Suruhlah Abu Bakar menyembah tuhannya di dalam rumahnya. Ikut sukanya untuk membaca apa saja yang dia mahu asalkan dia tidak mengganggu kami dengan bacaannya dan jangan pula dia membaca dengan suara yang nyaring kerana kami bimbang perempuan-perempuan kami dan anak-anak kami akan terpesonanya dengannya”.

Ibnu ad Dughunnah meminta dari Abu Bakar apa yang diutarakan oleh orang-orang Quraisy itu. Sampai beberapa lama Abu Bakar memenuhi syarat-syarat yang dikemukakan oleh orang-orang Quraisy itu. Beliau menyembah Tuhan di rumahnya dan tidak menyaringkan bacaannya di dalam sembahyang. Beliau juga tidak membaca al Quran di luar rumahnya.

Kemudian timbul satu fikiran kepada Abu Bakar untuk membina masjid di halaman rumahnya. Beliau pun membina masjid dan bersembahyang di dalam masjid itu dan mula membaca al Quran menyebabkan perempuan-perempuan orang-orang musyrikin dan anak-anak mereka mula mengerumuninya dengan rasa kagum terhadapnya di samping melihat tingkah lakunya. Abu Bakar adalah seorang yang mudah menangis. Beliau tidak dapat menahan air mata apabila membaca al Quran. Keadaan ini menggemparkan kalangan bangsawan dan musyrikin Quraisy.

Mereka pun mengutuskan orang kepada Ibnu ad-Dughunnah untuk bertemu dengan mereka. Setelah Ibnu Ad-Dughunnah datang, mereka pun berkata kepada Ibnu ad-Dughunnah, “Sesungguhnya kami telah memberi perlindungan kepada Abu Bakar atas permintaanmu dengan syarat dia menyembah tuhannya di dalam rumahnya sahaja. Sekarang dia telah pun melanggar syarat itu. Dia telah membina sebuah masjid di hadapan rumahnya dan menunaikan pula sembahyang dan membaca al Quran di dalam masjid yang dibinanya itu. Kami bimbang isteri-isteri dan anak-anak kami akan terpesona dengannya. Oleh itu tegahlah dia dari berbuat begitu. Kalau dia bersetuju untuk menyembah tuhannya di dalam rumahnya sahaja maka baiklah tetapi jika dia enggan melainkan tetap mahu mengerjakannya sembahyangnya secara terbuka dan membaca al Quran dengan suara yang nyaring , maka mintalah dengannya supaya dikembalikannya kepadamu jaminan keamanan yang telah diberikan olehmu kepadanya kerana tidaklah kami suka mengkhianati perlindungan yang diberikan olehmu itu dan tidak pula kami boleh menerima Abu Bakar bersembahyang dan membaca al Quran secara terbuka seperti itu”.

Ibnu ad Dughunnah pun pergi menemui Abu Bakar. Dia berkata, “Engkau telah pun tahu syarat yang telah ku berikan untuk melindungimu. Jadi samada engkau akan mematuhi syarat itu atau engkau kembalikan kepadaku jaminan keamananku. Aku tidak suka orang-orang Arab mendengar cerita bahawa jaminan keamanan yang telah kuberikan kepada seseorang telah disia-siakan”.

Mendengar kata-kata Ibnu Ad Dughunnah, Abu Bakar berkata, “Kalau begitu aku akan kembalikan kepadamu jaminan keamananmu dan aku berpuas hati dengan perlindungan Allah swt”.

(Bukhari, Jilid I, m/s 553)

Di dalam hadis ini, Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. menghuraikan pemerhatiannya tentang keadaan daripada tempoh mula kerasulan sehingga peristiwa hijrah ke Habshah dalam dua ayat iaitu “ Sejak saya mengerti dan faham keadaan sekeliling saya dapati keluarga saya telah memeluk Islam” dan “Saya melihat Nabi Muhammad s.a.w. datang ke rumah kami setiap hari pada pagi dan petang”.

Di bahagian pertama hadis ini Ummul Mu’minin r.a. telah menceritakan pemerhatiannya di dalam dua ayat, iaitu “Sejak saya mengerti dan faham keadaan sekeliling , saya telah melihat keadaan ini”. Dan di bahagian kedua iaitu selepas balighnya, Ummul Mu’minin r.a. menyatakannya sebagai zaman persengketaan. Iaitu zaman yang menyebabkan sahabat-sahabat utama di awal Islam berhijrah ke Habshah. ‘Aishah r.a. kemudiannya telah menceritakan secara terperinci peristiwa penghijrahan ayahnya, Abu Bakar r.a ke Habshah.

Bahagian ketiga daripada hadis ini yang tidak kami nukilkan di sini ialah hijrah ke Madinah.

Ada dua riwayat tentang peristiwa Hijrah ke Madinah. Pertamanya, “Nabi s.a.w. keluar dari rumah Abu Bakar” di mana Aishah r.a. menyatakan dia diberitahu oleh Amir bin Fahirah (bekas hamba Abu Bakar r.a. dan temannya semasa Hijrah ) . Keduanya, peristiwa Suraqah di mana beliau r.a. menyatakan diberitahu oleh Suraqa kepadanya. Dengan kata lain, sejak daripada Ummul Mu’minin r.a. boleh berfikir, Abu Bakar r.a. dan Ummu Rumman r.a. telah memeluk Islam. Dan juga, sejak beliau faham keadaan sekelilingnya , beliau melihat Rasulullah s.a.w. sentiasa melawat rumah mereka setiap hari pada waktu pagi dan petang.

Di dalam hadis ini Aishah r.a. telah mendakwa secara jelas bahawa beliau r.a. telah faham keadaan sekelilingnya pada ketika nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul dan menyaksikan semua peristiwa yang berlaku dalam tempoh tersebut. Namun ulama kita telah mentakwilkan bahawa oleh sebab riwayat Hisham menyatakan ‘Aishah r.a. berusia sembilan tahun semasa mula hidup bersama Rasulullah s.a.w., Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah mendengar cerita-cerita ini daripada orang lain.

Ummul Mu’minin r.a. berkata bahawa “apabila saya telah faham keadaan sekeliling, saya telah melihat perkara yang berlaku” Ulama kita mengatakan bahawa beliau belum lagi dilahirkan! Ringkasnya, boleh dikatakan, Ummul Mu’minin telah melihat peristiwa tersebut lima atau enam tahun sebelum kelahirannya. Kami menyerahkan kepada anda untuk membuat keputusan siapakah yang benar.

Keseluruhan perbincangan ini membuktikan bahawa sewaktu nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul Ummul Mu’minin r.a. merupakan seorang kanak-kanak yang telah mengerti keadaan sekelilingnya iaitu berumur sekurang-kurangnya lima hingga enam tahun. Dengan kata lain, seorang kanak-kanak yang sudah boleh mengingati siapa yang datang dan keluar dari rumahnya dan faham bahawa apa yang ibu bapanya lakukan adalah bercanggah dengan penduduk Mekah. Ini adalah peringkat usia seorang kanak-kanak di mana mempunyai naluri ingin tahu dan berfikir mengapa dan bagaimana sesuatu perkara berlaku.

Kesimpulan dari perbincangan ini ialah, anda hendaklah mengaku, berdasarkan hadis ini, bahawa Ummul Mu’minin r.a. sudah tentu sekurang-kurangnya berumur antara lima hingga enam tahun pada sewaktu perlantikan nabi s.a.w. sebagai rasul. Oleh itu, pengiraan ringkas menunjukkan umur beliau r.a. adalah sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun semasa mula tinggal dengan Rasulullah s.a.w.

Dan sekaligus ia membuktikan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. dan Saidatina Fatimah r.a. adalah sebaya. Dengan itu, terpulanglah kepada anda samada untuk menerima riwayat Hisham ( dengan menolak dua hadis di dalam kitab Bukhari di atas) atau mengakui kesilapan Hisham.

HUJAH KESEMBILAN – AISHAH R.A. MENGELAP LUKA DAN HINGUS USAMAH BIN ZAID R.A. YANG DIKATAKAN SEBAYA DENGANNYA

Saidatina Aishah r.a. menceritakan bahawa Usamah telah jatuh tergelincir di bendul pintu dan luka di mukanya. Rasulullah s.a.w. berkata kepada saya, “Bersihkan kotoran itu daripada Usamah.” Saya terasa jijik bila melihat Usamah mula menjilat darahnya untuk membersihkan mukanya.

Dalam riwayat Ibn Majah, “Hingus keluar dari hidung Usamah. Nabi s.a.w. menyuruh saya bangkit dan membersihkan hidung Usamah. Saya berasa jijik, lalu Nabi s.a.w. sendiri yang bangun dan membersihkan hidungnya.”

Di dalam riwayat Tirmizi ada pula disebut bahawa Nabi s.a.w. hendak membersihkan hidung Usamah. Kemudian Ummul Mu’minin r.a. meminta izin untuk membersihkan hidungnya (Usamah). Nabi s.a.w. kemudian berkata, “Wahai ‘Aishah! Sayangilah Usamah, kerana saya juga menyayangi Usamah.” (Tirmizi: Jilid II, m/s 246)

Juga, Baihaqi menerusi Sha’abi, daripada Ummul Mu’minin r.a. katanya “Rasulullah s.a.w. meminta saya bangun dan membasuh muka Usamah. Saya memberitahunya saya tidak tahu membersihkan muka kanak-kanak kerana saya tidak mempunyai anak. Tolonglah pegang dia dan basuh mukanya. Nabi s.a.w. memegang Usamah dan membasuh mukanya”. Dan baginda berkata, “Dia (Usamah) telah memudahkan kita kerana dia bukan seorang kanak-kanak perempuan. Jika dia seorang kanak-kanak perempuan, saya akan menghiaskannya dengan perhiasan-perhiasan dan akan berbelanja banyak untuknya.”

Imam Ahmad, melalui Baihaqi, telah meriwayatkan daripada ‘Aishah r.a. bahawa Usamah jatuh tergelincir di atas bendul pintu. Mukanya telah luka. Nabi Muhammad s.a.w. telah mengelap dan membersihkannya, dan Baginda s.a.w. berkata, “Wahai Usamah! Jikalau kamu seorang kanak-kanak perempuan, pastinya saya akan memakaikan dan menghiasi kamu dengan perhiasan. Saya akan berbelanja besar untuk mu.”

Sekali lagi, perhatikan semua riwayat ini. Anda akan dapati bahawa Usamah bin Zaid r.a adalah seorang kanak-kanak yang jauh lebih muda daripada Ummul Mu’minin r.a.. Ada masanya dia r.a. tercedera atau hidungnya berhingus. Adakalanya Ummul Mu’minin r.a. mengangkat dan membersihkannya dan kadang-kadang Rasulullah s.a.w. yang melakukannya. Adakalanya Ummul Mu’minin r.a. berasa jijik, dan pernah suatu kali beliau meminta maaf dengan berkata, “Saya tidak mempunyai anak, jadi saya tidak mempunyai pengalaman membasuh muka kanak-kanak.”

Pertama sekali, perkataan ‘saya tidak mempunyai anak’ tidak mungkin keluar daripada mulut seorang kanak-kanak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun. Perkataan ini hanya boleh diucapkan oleh seorang wanita yang umurnya sesuai untuk mendapat anak.

Yang keduanya, ini jelas menunjukkan bahawa Usamah adalah jauh lebih muda dari Ummul Mu’minin r.a. Jika Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. adalah sebaya atau lebih muda daripada Usamah, Rasulullah s.a.w. tidak mungkin akan menyuruh ‘Aishah r.a. untuk membersihkan darah dan hidungnya (Usamah). Arahan begitu selalunya diberi kepada seseorang yang lebih tua daripada kanak-kanak tersebut. Tidak pernah berlaku dalam sejarah seorang kanak-kanak berusia lapan tahun disuruh untuk melayan atau merawat seorang kanak-kanak berusia sepuluh tahun !!

Para ulama mengatakan, ‘dari Riwayat Hisham, Ummul Mu’minin berusia 18 tahun semasa kewafatan nabi ’. Dengan itu, adalah perlu untuk mengetahui berapakah usia Usamah di waktu kewafatan Rasulullah s.a.w.

Imam Zahabi telah menulis di dalam bukunya ‘Siyar A’lam al-Nubala’ bahawa Usamah berusia 18 tahun pada waktu itu.

Sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di sini ialah seorang kanak-kanak perempuan telah membersihkan hidung seorang kanak-kanak lelaki yang sebaya dengannya!

Waliuddin Al-Khatib, penulis ‘Mishkat’, menulis di dalam bab ‘Al-Ikmal fi Asma’ al-Rijal’
“Apabila Nabi Muhammad s.a.w. wafat, Usamah berumur 20 tahun.” (‘Mishkat’, m/s 585)

Telah disepakati oleh ulama hadis dan ahli sejarah bahawa sebelum kewafatannya, Rasululullah menyusun satu pasukan tentera untuk menyerang tentera Rom dan menakluki Syria untuk menebus kekalahan dalam Perang Mu’tah. Usamah r.a merupakan panglima angkatan tentera ini, dan sahabat besar seperti Saidina Umar r.a. telah diperintahkan untuk berperang di bawah arahannya. Pada ketika itu, beliau berumur dua puluh tahun, menurut Waliuddin Al-Khatib, dan sembilan belas tahun menurut Hafiz Ibn Kathir:

“Semasa Rasulullah s.a.w. wafat, Usamah berumur 19 tahun.” (Al-Bidayah-wan-Nihayah, Jilid 8, m/s 67)

Setelah dibaia’kan, Saidina Abu Bakar r.a. menyempurnakan tugasan ini dengan menghantar tentera Usamah, yang mana dengan izin Allah S.W.T. telah kembali dengan kemenangan.

Usamah r.a. telah dilahirkan pada tahun ke-3 kerasulan. Dan kejadian di mana beliau cedera terjatuh di muka pintu rumahnya, atau hidungnya berhingus, atau Nabi Muhammad s.a.w. membasuh mukanya ataupun Baginda s.a.w. menyuruh Ummul Mu’minin r.a. supaya membasuh atau membersih mukanya dan sebagainya, adalah kerana Usamah pada masa itu ialah seorang kanak-kanak kecil. Dan juga, permintaan supaya Ummul Mu’minin merawat Usamah adalah kerana Ummul Mu’minin adalah lebih tua daripada Usamah. Jika Usamah r.a. adalah lebih muda daripada Ummul Mu’minin r.a. dan usianya (Usamah) sekitar 19-20 tahun di waktu kewafatan Nabi s.a.w., umur Ummul Mu’minin r.a.sepatutnya sekurang-kurangnya lima tahun lebih tua (daripada Usamah), dengan itu barulah arahan mengenai membersihkan darah dan hidung itu sesuai.

HUJAH KESEPULUH – UMMUL MU’MININ R.A. TURUT SERTA DI DALAM PEPERANGAN BADAR

Di dalam ‘Saheh’nya Imam Muslim melalui Urwah bin Zubair, telah meriwayatkan daripada Saidatina ‘Aishah r.a. bahawa beliau (Saidatina ‘Aishah r.a.) berkata Nabi Muhammad s.a.w. mara ke medan pertempuran Badar dan semasa tiba di Harratul Wabrah, seorang lelaki yang terkenal dengan kegagahan dan keberanian datang kepadanya. Para Sahabat r.a. teramat gembira melihat kedatangan lelaki tersebut . Beliau berkata kepada Nabi Muhammad s.a.w., “Saya telah datang kepadamu dengan tujuan untuk menyertai peperangan, dan saya ingin menanggung kesukaran ini bersama kamu.” Baginda s.a.w bertanya, “ Adakah kamu beriman kepada Allah dan Nabi-Nya?” Pemuda itu menjawab, “Tidak”. Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Pergi, baliklah. Saya tidak memerlukan sebarang bantuan daripada seorang musyrik.”

Ummul Mu’minin r.a. berkata bahawa pemuda tersebut pun berlalu dari situ. Tetapi apabila mereka sampai di Shajarah, orang yang sama telah datang semula. Baginda s.a.w. sekali lagi menanyakan soalan yang sama iaitu sama ada beliau beriman kepada Allah dan Nabi-Nya. Sekali lagi pemuda itu menjawab tidak. Kemudian Rasulullah s.a.w. telah berkata bahawa baginda s.a.w tidak memerlukan sebarang pertolongan daripada seorang musyrik. Maka pemuda itu pun sekali lagi berlalu pergi.

Ummul Mu’minin r.a. menceritakan bahawa apabila mereka tiba di sebuah tempat bernama Baida’, pemuda yang sama muncul kembali. Sekali lagi Nabi Muhammad s.a.w. bertanyakan soalan yang serupa, “Adakah kamu beriman kepada Allah dan Nabi-Nya?” Pemuda tersebut mengiyakannya. Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Bagus! Kamu boleh turut serta.” (‘Sahih Muslim’, Jilid II, m/s 118)

Bagaimanapun pensyarah-pensyarah hadis telah mentakwilkan bahawa perkataan ‘kami’ yang digunakan oleh Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah bermaksud ‘para sahabat ’ r.a. dan beliau (‘Aishah r.a.) sendiri sebenarnya tidak termasuk dalam ungkapan ‘kami’ itu. Dan Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah pergi hingga ke Baida’ untuk mengucapkan selamat jalan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Namun, kami tidak dapat menerima takwilan ini. Daripada hadis imam Muslim ini, kami membuat kesimpulan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah turut serta dalam peperangan Badar, dan ‘Aishah r.a. adalah satu-satunya wanita yang menyertai peperangan Badar. Ahli-ahli sejarah dan para penulis sirah Nabi Muhammad s.a.w. yang mengatakan bahawa Baginda s.a.w. mula tinggal bersama ‘Aishah r.a. di bulan Syawal, tahun ke-2 H mungkin dipengaruhi golongan Syiah. Yang tepatnya, Ummul Mu’minin r.a. telah mulai hidup bersama Baginda s.a.w. pada bulan Syawal, tahun pertama selepas hijrah, dan hadis Muslim di atas adalah benar .

Di samping membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. turut serta dalam Peperangan Badar dan hidup bersama Nabi s.a.w. mulai bulan Syawal di tahun pertama hijrah, hadis ini juga membuktikan bahawa ‘Aishah r.a. telah hidup bersama Rasulullah s.a.w. selama sepuluh tahun. Dakwaan ahli sejarah yang mengatakannya sembilan tahun ataupun Riwayat Hisham yang menyatakan tempoh sembilan tahun, adalah salah.

Apabila Saidina Umar r.a. telah memperuntukkan sejumlah elaun untuk para Sahabat r.a. sewaktu beliau menjadi Khalifah, beliau telah memberikan elaun yang lebih kepada mereka yang telah menyertai Perang Badar, berbanding dengan mereka yang tidak menyertai Peperangan Badar. Dan, apabila elaun untuk isteri-isteri Rasulullah s.a.w dibahagikan, jumlah elaun Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. adalah yang tertinggi yang mana menurut ahli sejarah disebabkan beliau adalah isteri yang paling disayangi oleh Rasulullah s.a.w. Alasan ini mungkin juga benar. Akan tetapi, sebabnya yang sebenar pada pandangan kami ialah beliau (‘Aishah r.a.) telah turut serta di dalam Perang Badar, dan isteri yang lain tidak memiliki kelebihan ini, malah tiada wanita lain di muka bumi ini yang memiliki penghormatan ini.

Semoga Allah S.W.T. melimpahkan rahmat-Nya ke atas Imam Muslim yang telah menyampaikan riwayat ini dengan sanad yang paling sahih sehingga tiada perawinya dipertikaikan. Beliau telah membuktikan Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. turut serta di dalam Peperangan Badar, dan menjalani kehidupan sebagai isteri kepada Nabi s.a.w. pada tahun 1 (selepas hijrah), dan terus kekal sebagai isteri Nabi s.a.w. selama sepuluh tahun (sehingga kewafatannya) ; maka tempoh selama sembilan tahun. sebagaimana yang disebut di dalam Riwayat Hisham, adalah tidak benar.

Semoga Allah mengurniakan kesejahteraan terhadap Imam Muslim di dalam taman-taman syurga, kerana dengan meriwayatkan peristiwa ini telah membuktikan Ummul Mu’minin r.a. tidaklah bermain dengan anak patung tetapi bermain dengan pedang; bahkan beliau telah dibesarkan di bawah bayang-bayang pedang. Ini merupakan sifat semulajadinya, kerana seorang kanak-kanak yang senantiasa melihat permainan pedang, tidak bermain dengan anak patung. Bermain dengan anak patung adalah kebiasaan orang Ajami (Iran), bukannya permainan orang Arab. Para Perawi Iraq ini mahu mengatakan Ummul Mu’minin Aishah r.a. suka bermain dengan anak patung sebagaimana kegemaran wanita-wanita di sana. Berkemungkinan, tujuan mereka ialah ingin mengatakan ‘bagaimanana mungkin seorang kanak-kanak perempuan yang menghabiskan masanya dengan bermain anak patung dapat memahami maksud al-Qur’an dan Sunnah’.

Riwayat ini juga telah membuktikan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. bukanlah seorang kanak-kanak berumur sembilan tahun ketika itu. Jika beliau adalah seorang kanak-kanak berusia sembilan tahun, apakah tujuannya untuk pergi ke medan perang? Ini kerana, tugas wanita yang berada di medan perang ialah untuk berperang dan memberikan khidmat ketenteraan. Aspek ini akan dijelaskan dalam halaman-halaman seterusnya.

Di dalam Peperangan Badar, sudah termasyhur bahawa bendera yang disediakan pada hari itu, adalah diperbuat daripada kain tudung yang digunakan oleh wanita Islam untuk menutup kepala dan badan. Sekiranya peristiwa ini benar-benar terjadi, ia merupakan bukti yang lebih kukuh, bahawa Ummul Mu’minin r.a. mulai hidup bersama Rasulullah pada tahun pertama Hijrah dan beliau (‘Aishah) menyertai Peperangan Badar. Ini kerana, adalah tidak masuk akal untuk mengambil kain tudung kanak-kanak perempuan yang belum berkahwin lagi. Begitu juga agak sukar dipercayai bahawa Baginda s.a.w. membawa kain tudung seorang pengantin baru dan mara ke medan Badar, dan ia juga tidak mungkin bahawa beliau (Saidatina ‘Aishah) pergi hingga ke Baida’ semata-mata untuk mengucapkan selamat jalan kepada Rasulullah s.a.w., dan telah meninggalkan kain tudungnya di sana. Ini bukan sebuah kisah cinta !!

Yang sebetulnya, keadaan peperangan yang datang secara mengejut menyebabkan kesukaran untuk mendapatkan kain bendera. Kemungkinannya, tidak terdapat kain di dalam khemah untuk dijadikan bendera. Kemudiannya Ummul Mu’minin r.a. memberikan kain tudungnya dan meletakkan sehelai kain sapu tangan di atas kepalanya dan beliau r.a. telah bersedia untuk berperang. Namun perawi-perawi Iraq menggambarkannya sebagai sebuah kisah cinta yang romantik!!

Juga perhatikan bahawa bendera-bendera tersebut telah disediakan di tempat yang bernama ‘Rawja’ yang jauhnya 40 batu dari Madinah.

Sehelai bendera telah dibuat untuk orang Ansar dan yang sehelai lagi untuk Muhajirin. Bendera Muhajirin telah diberi kepada Mus’ab bin Umair r.a., akan tetapi Waqidi (seorang perawi Syiah) berkata ia telah diberi kepada Saidina Ali r.a. Riwayat ini, kemudiannya telah dikutip oleh ulama ahli sunnah yang menganggap setiap riwayat perlu dikutip untuk memenuhi kewajipan agama . Maka timbullah cerita sehelai bendera telah diberi kepada Mus’ab r.a. dan sehelai lagi diberi kepada Ali r.a. Kemudian daripada itu ahli-ahli sejarah Syiah telah memotong nama Mus’ab r.a. dan memasyhurkan nama Ali r.a. sebagai satu-satunya pembawa bendera.

Pada hari ini ‘sejarah’ yang kita miliki, adalah sejarah yang diputarbelit dan diselewengkan. Semua kaki dan tangannya sudahpun dipotong oleh pembohong-pembohong Syiah. Untuk menyambungkan kembali tangan dan kakinya yang dipotong ini hanya mungkin apabila kita mendapatkan ‘anggota’ yang sebenar.

Kebanyakan orang sibuk untuk mengorek dan menggali sejarah. Kita geledah di mana-mana untuk mencari ‘anggota-anggota’ yang hilang itu. Walaupun kita menjumpai anggota-anggota ini kita sebenarnya tidak dapat memastikan bahawa ianya bukan organ palsu. Malah adalah dibimbangi kita mungkin kehilangan tubuh yang sedia pincang ini setelah mendapat anggota yang kononnya ‘asli’ tetapi pada hakikanya adalah palsu.

Sebagai contoh, pada awal abad ini, jenazah, yang dikatakan milik Saidina Huzaifah dan Saidina Jabir bin Abdullah telah ditemui. Menurut ahli sejarah dan ulama hadis, Jabir r.a. telah dikebumikan di perkuburan Baqi’ di Madinah. Mungkin kubur palsu ini, yang siap dengan ukiran, telah di bina pada zaman Bani Buwaihah ataupun selepas kematian sahabat besar ini mereka telah menggali satu terowong yang panjang dan berjalan sampai ke Baghdad!; sebagaimana empat orang anak perempuan Saidina Husin r.a. yang telah sampai ke Lahore, dan kubur mereka yang terkenal dengan nama ‘Nik Bibiyun” (Anak-anak perempuan yang baik) hingga ke hari ini, atau Saidina Ali r.a. mungkin telah dikebumikan di Najaf (Iraq), di Koh Mawla, Baluchistan (Pakistan) dan di Koh Mawla, Deccan (India) pada satu masa.

Sebenarnya , ini semua kerja puak-puak Bathiniah ( salah satu ajaran Syiah) . Kita tidak mampu meneropong rahsia dan konspisrasi di balik tabir. Halangan yang paling besar yang kita hadapi sekarang ini ialah kurangnya ‘ilmu’ di kalangan kita . Sekiranya kita membuang buku-buku ke dalam sungai seperti yang dilakukan oleh al-Ghazali , al-Rumi, Junaid dan Shibli, maka, kita akan dikuasai oleh orang-orang jahil dan jahat.

HUJAH KE-11 – AISHAH R.A. MENYERTAI PERANG UHUD SEDANGKAN KANAK-KANAK LELAKI BERUMUR EMPAT BELAS TAHUN TIDAK DIBENARKAN MENYERTAI PERANG

Peperangan Uhud adalah satu peperangan di mana Nabi Muhammad s.a.w. telah tercedera parah. Menurut Hadis Bukhari, hanya dua orang sahabat yang tinggal bersamanya iaitu Sa’ad bin Abi-Waqas dan Talhah bin Ubaidullah r.a. Sebahagian sahabat kebingungan, sebahagiannya berjuang bersendirian dan terputus hubungan dengan yang lain. Sebahagian yang lain pula telah memanjat bukit untuk menyelamatkan nyawa; dan telah tersebar dengan luas kabar angin bahawa Nabi Muhammad s.a.w. telah syahid.

Pada hari itu, Abu Talhah Ansari r.a. iaitu ayah tiri Anas r.a., telah mempertahankan Nabi s.a.w. dengan sepenuh jiwa dan tenaganya. Beliau berkali-kali merayu kepada Rasulullah s.a.w. sambil berkata , “Saya korbankan ibubapa ku demi keselamatanmu! Jangan tinggalkan tempatmu kerana saya takut anda akan dipanah”.

Inilah satu-satunya peperangan semasa hayat Rasulullah s.a.w. di mana orang Islam telah ditewaskan dan seramai 70 orang sahabat r.a. telah syahid. Dan, barangkali tiada seorang pun yang tidak mendapat kecederaan . Beberapa orang wanita juga turut serta dalam pertempuran ini.

Sebelum kami mengulas dengan lebih lanjut tentang siapakah wanita yang turut serta dalam peperangan ini, dan apakah tanggungjawab mereka, perlu dijelaskan bahawa Rasulullah s.a.w. menyedari akan bahaya yang akan dihadapi. Itulah sebabnya mengapa Baginda s.a.w. tidak membenarkan kanak-kanak lelaki yang berumur 14 tahun ke bawah untuk mengambil bahagian dalam peperangan ini. Di kalangan kanak-kanak bawah umur ini termasuklah Samrah bin Jundub, Bara’ bin Azib, Anas bin Malik, Zaid bin Thabith dan Abdullah bin Umar r.a. . Ibn Umar r.a. tidak dibenarkan menyertai Perang Uhud kerana beliau berumur 14 tahun ketika itu dan peperangan pertama yang disertainya ialah Perang Ahzab atau dikenali dengan nama Perang Khandak. Oleh itu, had umur untuk menyertai satu-satu peperangan ialah 15 tahun. Angka ini amat penting sehingga sesetengah ahli feqah, dengan berdasarkan riwayat Ibn Umar ini, telah menetapkan had kematangan ( baligh ) adalah sekurang-kurangnya 15 tahun.

Sekarang perhatikan sekiranya Rasulullah s.a.w. hanya membenarkan mereka yang berumur 15 tahun ke atas untuk mengambil bahagian dalam peperangan, bagaimana mungkin seorang kanak-kanak perempuan bawah umur dibenarkan untuk turut serta dalam peperangan?

Perlu diingat bahawa wanita yang mengambil bahagian di dalam peperangan mempunyai pelbagai tanggungjawab seperti mengangkat dan merawat mujahidin yang tercedera di medan pertempuran, memberi minum kepada mujahidin yang tercedera, bahkan mengangkat senjata bila diperlukan. Adalah jelas bahawa tidak semua wanita mampu melakukan tugas-tugas ini . Bagaimana mungkin tanggungjawab sebegitu penting diserahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan yang baru berusia sembilan atau sepuluh tahun?

Seorang wanita mampu melaksanakan tugas yang sebegitu penting sekiranya dia memiliki kemahiran dalam teknik bertempur , dan boleh mempertahankan dirinya sendiri apabila perlu, dan yang utamanya dia mestilah mempunyai keberanian untuk menyertai pertempuran apabila diperlukan.

Dengan mempertimbangkan hal ini dengan cermat, kita terpaksa mengakui bahawa tanggungjawab seperti itu tidak boleh diserahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan bawah umur. Sekiranya, pemuda yang berusia 14 tahun tidak dibenarkan untuk mengambil bahagian di dalam pertempuran, kaum wanita yang ingin menyertai peperangan mestilah seorang yang cukup matang dan berpengalaman yang faham akan risiko yang bakal ditanggung.

Di antara wanita yang pernah berperang bersama Rasulullah s.a.w. ialah :

1. Ummu Ammarah r.a. :

Di antara wanita yang telah menyertai peperangan Uhud ialah Ummu Ammarah r.a. yang turut melindungi Rasulullah s.a.w. . Pada hari itu, beliau mendapat 13 luka dan Nabi s.a.w. sendiri telah membalut lukanya sambil berdiri.

Ummu Ammarah r.a. berhadapan dengan Ibn Qamayyah yang melemparkan batu kepada Rasulullah s.a.w. Beliau (Ummu Ammarah r.a.) menyerang menggunakan sebatang kayu (sedangkan Ibn Qamayyah bersenjatakan sebilah pedang) , mengakibatkan Ibn Qamayyah jatuh tersungkur dan pecah kepalanya.

Beliau r.a. juga telah menyertai Peperangan Yamamah menentang Musailamah al-Kazzab dan telah berjuang dengan sepenuh hati dan telah mendapat 12 luka sehingga menyebabkan tangannya tidak boleh digunakan .

2. Ummu Sulaim r.a. :

Ibn Sa’ad telah meriwayatkan bahawa Ummu Sulaim r.a. membawa bersamanya pisau belati pada hari Peperangan Uhud.

Anas r.a. telah menceritakan bahawa Ummu Sulaim r.a. membawa pisau belati bersamanya sewaktu Pertempuran Hunain. Abu Talhah r.a. mengadu kepada nabi s.a.w., “Wahai Rasulullah., ini Ummu Sulaim dan beliau membawa pisau belati bersamanya”. Mendengarkan kata-kata itu, Ummu Sulaim r.a. berkata, “Wahai Rasulullah., saya menyimpan pisau ini kerana jika ada orang kafir datang mendekati saya, saya akan menikam perutnya”. (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid VIII, m/s 425)

Wanita yang tidak menyertai pertempuran secara langsung juga turut dilengkapi dengan senjata.

Keterangan ini jelas menunjukkan bahwa menyertai peperangan bukanlah tugas seorang kanak-kanak bawah umur. Ummu Sulaim r.a., ibu kepada Anas r.a., adalah seorang wanita yang dewasa dan berpengalaman. Beliau telah mengambil bahagian dalam beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad s.a.w.

3. Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. :

Kami telah membuktikan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. telah menyertai Peperangan Badar sebagai wanita dewasa dan bukan sebagai kanak-kanak bawah umur. Beliau r.a. juga telah mengambil bahagian di dalam Pertempuran Uhud bersama-sama dengan Ummu Sulaim r.a.

Anas r.a. mengatakan bahawa beliau telah melihat ‘Aishah binti Abu Bakar r.a. dan Ummu Sulaim r.a. menyinsingkan kaki seluar mereka dan sebahagian daripada buku lali mereka telah terlihat olehnya (Anas r.a.). Kedua-dua mereka bertugas mengangkat gereba air dan memberi minum kepada tentera Islam. Mereka berulang-alik mengisi air dan memberi minum kepada Mujahidin. (Bukhari, Jilid I, m/s 403)

Tugas menyediakan air adalah proses yang berterusan di medan perang. Tugas ini hanya boleh dilakukan oleh wanita yang bersenjata dan berpengalaman, dan bukan seorang gadis mentah berumur sepuluh tahun. Sedangkan untuk mengangkat gereba air pun suatu tugas yang berat untuknya ( sekiranya beliau r.a. berumur sepuluh tahun pada masa itu) bagaimana mungkin beliau sama-sama memikul tanggungjawab bersama Ummu Sulaim r.a., seorang wanita dewasa? Berganding bahu dengan Ummu Sulaim r.a. itu sendiri membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. sekali-kali bukan seorang kanak-kanak di bawah umur pada masa itu . Dan juga, apabila diakui bahawa kanak-kanak lelaki yang berumur 14 tahun tidak dibenarkan menyertai peperangan, bagaimana mungkin Ummul Mu’minin r.a. yang berumur 10 tahunn dibebankan dengan tugas berat ini.

Saudara, perbincangan di atas adalah dari sudut hadis. Sekarang mari kita bincangkan tajuk ini dari aspek sejarah, yang mana akan terus menyokong pendapat bahawa Ummul Mu’minin tidak berumur enam tahun semasa beliau r.a. mengahwini Rasulullah s.a.w.

HUJAH KE-12 – AISHAH R.A. LEBIH MUDA 10 TAHUN DARI KAKAKNYA ASMA, DAN SEMASA PERISTIWA HIJRAH ASMA R.A. BERUMUR 27 ATAU 28 TAHUN

Ahli hadis dan ahli sejarah sepakat bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. adalah sepuluh tahun lebih muda daripada kakaknya Asma’ r.a., dan Asma’ r.a. meninggal dunia sewaktu berumur 100 tahun pada tahun 73 H. Ini menunjukkan Asma’ r.a. berusia 27 atau 28 tahun semasa peristiwa Hijrah. Apabila sepuluh tahun ditolak daripada 28, umur Ummul Mu’minin r.a. menjadi 18 tahun ketika peristiwa Hijrah, dan jika ‘Aishah r.a. mula hidup bersama-sama Rasulullah s.a.w. pada tahun 1 H umurnya ialah 19 tahun, dan sekiranya mereka tinggal bersama pada tahun 2 H umurnya menjadi 20 tahun.

Wali al-Din bin Al-Khatib menulis di dalam bukunya ‘Al-Ikmal fi Asma’ al-Rijal’ sebagaimana berikut: “Asma’ r.a. adalah ibu kepada Abdullah bin Zubair. Beliau memeluk Islam di awal permulaan Islam di Mekah. Diriwayatkan beliau merupakan orang ke lapan belas memeluk Islam. Beliau sepuluh tahun tua daripada adiknya, ‘Aishah. Dia meninggal dunia sepuluh hari selepas kematian anak lelakinya. Ada juga pendapat mengatakan bahawa selepas 20 hari Ibn Zubair diturunkan daripada gantungan, beliau (Asma’ r.a.) genap umurnya 100 tahun, dan perstiwa ini berlaku di Mekah pada tahun 73 H” (Mishkat, m/s 556)

Hafiz Ibn Hajar menulis di dalam ‘Taqrib-ul-Tahzib’:

“Asma r.a. hidup selama 100 tahun dan meninggal dunia pada tahun 73 atau 74 H.” (Taqrib-ul-Tahzib, m/s 565)

Hafiz Ibn Kathir menulis di dalam kitab sejarahnya yang terkenal, ‘Al-Bidayah-wa al-Nihayah’: “Adik kepada Asma’ ialah ‘Aishah r.a., ayahnya ialah Abu Bakar As-Siddiq r.a., datuknya ialah Abu Qahafah r.a., anak lelakinya ialah Abdullah r.a., dan suaminya ialah Zubair r.a., dan kesemuanya adalah merupakan sahabat r.a.”

Asma’ r.a., bersama-sama anaknya Abdullah dan suaminya, menyertai Perang Yarmuk. Beliau lebih tua sepuluh tahun dari adiknya ‘Aishah r.a.

Beliau menyaksikan pembunuhan anaknya, Abdullah bin Az-Zubair r.a., yang menyedihkan beberapa hari sebelum kematiannya ( pada tahun 73 H) . Setelah lima hari kejadian ini berlaku, menurut sesetengah pendapat mengatakan ‘selepas sepuluh hari’ sementara pendapat yang lainnya pula mengatakan ‘setelah lebih daripada 20 hari’, dan beberapa pendapat lagi mengatakan ‘selepas 100 hari’, Asma’ r.a. meninggal dunia. Suatu yang dimaklumi semua bahawa beliau berumur 100 tahun semasa kematiannya. Tiada satupun giginya tanggal malah tidak ada sebarang kekurangan pada ingatannya. (Al-Bidayah-wan-Nihayah Jilid VIII, m/s 346)

Begitu juga az-Zahabi telah menulis di dalam bukunya ‘Siyar -A’lam al-Nubala’. Beliau mengatakan:

“Asma’ r.a. binti Abu Bakar r.a. adalah lebih kurang sepuluh tahun lebih tua daripada ‘Aishah r.a.” (Siyar-A’lam Al-Nubala, Jilid II, m/s 208)

Abdur Rahman bin Abi Zinad mengatakan bahawa Asma’ r.a. adalah sepuluh tahun lebih tua daripada ‘Aishah r.a. . Urwah juga mengatakan bahawa Asma’ r.a. wafat semasa berumur 100 tahun.(Siyar- A’lam Al-Nubala, Jilid II, m/s 213)

Hafiz az-Zahabi, Hafiz Ibn Kathir dan Wali al-Din Al-Khatib adalah dikenal sebagai ulama hadis . Tokoh-tokoh ini juga adalah ahli sejarah dan ulama hadis (muhaddis) yang terkenal dalam ilmu Rijal ( biografi perawi) . Mereka mengatakan Ummul Mu’minin Aishah r.a.ialah sepuluh tahun lebih muda dari Asma’ r.a. Berdasarkan fakta bahwa umur Asma’ adalah 100 tahun semasa meninggal dunia , kita dapati umur Ummul Mu’minin ialah 16 tahun semasa berkahwin dan 19 tahun semasa mula hidup bersama dengan Rasulullah s.a.w. r.a. Sekali lagi dibuktikan bahawa angka ‘10’ telah digugurkan oleh Hisham di dalam riwayatnya, dan beliau telah tersalah bila menyebut hanya satu angka iaitu ‘6’ dan perkara yang serupa bila menyebut angka ‘9’. Sekiranya riwayat Hisham adalah benar umur Asma’ r.a. menjadi kurang sebanyak sepuluh tahun.

HUJAH KE-13 – AHLI SEJARAH AT-TABARI MENGATAKAN AISHAH R.A. LAHIR DI ZAMAN JAHILLIYAH ( SEBELUM KERASULAN)

Ahli sejarah Muhammad bin Jareer al-Tabari, menceritakan tentang keluarga Saidina Abu Bakar r.a. sebagaimana berikut:

“Abu Bakar r.a. telah berkahwin sebanyak dua kali semasa zaman Jahiliyah. Pertama dengan Qatilah dan memperolehi Abdullah dan Asma’ r.a., dan kedua dengan Ummu Rumman r.a., yang daripadanya ‘Aishah r.a. dan Abdur-Rahman r.a. telah dilahirkan”. Kemudian beliau menyebut:

“Empat orang anak ini telah dilahirkan oleh dua orang isteri sebagaimana dinyatakan di atas. Kesemuanya telah dilahirkan pada zaman Jahiliyah”. (Tarikh Tabari, Jilid IV, m/s 50)

Ingat bahawa kaum Shiah mengatakan umur Aishah ialah enam tahun bila mengahwini Rasulullah s.a.w. Al-Tabari sendiri merupakan seorang Syi’ah tulin tetapi beliau mengesahkan bahawa Ummul Mu’minin r.a. dilahirkan pada zaman Jahiliyah. Hampir setiap Muslim tahu bahawa zaman sebelum daripada Kerasulan dipanggil sebagai ‘zaman Jahiliyah’. Jika Ummul mu’minin r.a. telah dilahirkan meskipun beberapa bulan sebelum Kerasulan, usianya ialah 15 tahun pada waktu beliau mula tinggal bersama Rasulullah s.a.w. Dan juga, kami telah membuktikan sebelum ini bahawa Ummul Mu’minin r.a. telah dilahirkan sekurang-kurangnya lima tahun sebelum Kerasulan. Dengan ini, telah pasti bahawa Ummul Mu’minin r.a. mula hidup bersama Rasulullah s.a.w. ketika berusia 19 tahun. Bagaimanapun, mungkin juga usianya lebih tua daripada sembilan belas tahun tetapi adalah mustahil beliau lebih muda dari itu.

Pada pandangan kami, semua tipu helah ini adalah ciptaan orang-orang Kufah. Ini adalah kerana mereka mendakwa Fatimah r.a. dilahirkan lima tahun selepas kerasulan dan beliau berkahwin semasa berumur sembilan tahun Dicatitkan di dalam ‘Tu’fatul Awam’ iaitu buku fiqah mereka, bahawa seorang gadis sepatutnya dikahwinkan setelah usianya mencecah sembilan tahun. Dengan itu, orang Kufah, dengan niat untuk menyembunyikan muslihat jahat mereka telah memalsukan fakta tentang usia Ummul Mu’minin r.a. Bila ahli sunnah dengan lantang menolak penipuan orang Syiah ini, mereka akan menjawab, “ Bagaimana kamu boleh menolak fakta ini sedangkan kamu menerima yang Fatimah berkahwin semasa berumur sembilan tahun!”

Sekiranya kita berpegang bahawa perbezaan umur di antara Aishah r.a. dan Asma’ r.a ialah sepuluh tahun, maka umur Asma’ ialah 14 tahun semasa nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul. Dengan fakta ini Ummul M’minin r.a. sudah pasti dilahirkan sebelum kerasulan. Ini bermakna, bahawa Ummul Mu’minin r.a. dan Saidatina Fatimah r.a. adalah hampir sebaya. Perbezaan umur sebanyak sepuluh tahun di antara kedua-duanya hanyalah rekaan orang Kufah.

HUJAH KE-14 – AISHAH R.A. ADALAH ANTARA ORANG-ORANG YANG TERAWAL MEMELUK ISLAM

Ibn Hisham, seorang ahli sejarah, telah menyenaraikan nama mereka yang beriman di dalam bukunya ‘As-Seerat’ di bawah tajuk “As-Sabiqun al-Awwalun” (Orang-orang Yang Terawal dan Terkemuka). Beliau meletakkan Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. di tempat yang teratas, diikuti lelaki, wanita dan kanak-kanak mengikut turutan . Beliau menulis:

“Selepas Saidatina Khadijah r.a., Usman Ibn Affan, Zubair bin Al-Awwam, Abdur-Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqas dan Talhah bin Ubaidullah (termasuk Zaid, Ali dan Abu Bakar) r.a. Ini adalah sekumpulan lapan orang yang telah memeluk Islam melalui seruan Abu Bakar r.a. yang terlebih dahulu memeluk Islam. Kemudiannya Abu Ubaidah bin Al-Jarah memeluk Islam diikuti oleh Abu Salamah bin Abdul Asad dan Arqam bin Abi Al-Arqam (yang mana rumahnya terletak di atas Bukit Safa yang digunakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. meyebarkan Islam secara rahsia).

Setelah orang Islam berjumlah 40 orang, mereka telah keluar berdakwah secara terang-terangan. Hasil daripada usaha tersebut, mereka ini telah menerima Islam, Uthman bin Maz’un beserta adiknya Qadamah dan Abdullah, Ubaidah bin Al-Harith, Sa’id bin Zaid dan isterinya Fatimah (adik perempuan Umar bin Al-Khattab), Asma’ binti Abu Bakar r.a. dan ‘Aishah binti Abu Bakar r.a., kedua-duanya masih kecil, dan Khabab bin Al-Arth. (Ibn Hisham, Jilid I, m/s 65)

Dari senarai Ibnu Hisham, Asma’ dan Aishah r.a. berada di tempat ke sembilan belas dan ke dua puluh. Aishah r.a. telah memeluk Islam lama terlebih dahulu sebelum Saidina Umar r.a., iaitu pada tahun nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul. Kini, jika kita hendak menerima riwayat Hisham , Ummul Mu’minin r.a. telah memeluk Islam empat tahun sebelum kelahirannya. Oh , amat menakjubkan!

Ibn Ishaq juga menyenaraikan dengan turutan, sahabat-sahabat r.a. yang telah memeluk Islam pada awal permulaannya. Dia menyebut nama sembilan sahabat r.a. yang telah memeluk Islam di peringkat permulaan. Ibn Ishaq berkata, “Kemudian Abu Ubaidah r.a. telah memeluk Islam, selepasnya Abu Salamah r.a., dan Arqam bin Abi Al-Arqam, dan Uthman bin Maz’un, dan Ubaidah bin Al-Harith, dan Sa’id bin Zaid beserta isterinya Fatimah (binti Al-Khattab), dan Asma’ binti Abu Bakr dan ‘Aishah binti Abu Bakar r.a. memeluk Islam dan beliau masih kecil ketika itu. (As-Seerat-un-Nabawiyyah, Jilid I, m/s 452)

Di sini, Ibn Ishaq telah meninggalkan nama dua adik-beradik kepada Maz’un r.a. , iaitu Qadamah dan Abdullah, meletakkan nama Asma’ dan ‘Aishah pada kedudukan yang ke-17 dan 18; dan sekiranya dua nama tadi dimasukkan maka Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. jatuh di tempat yang ke-20.

Senarai yang sama telah dikeluarkan oleh Ibn Suhaili dalam kitabnya yang terkenal iaitu ‘Kitab-Al-Raudh Al-A’yif’

Keterangan di atas menjelaskan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah di kalangan Orang-orang Yang Terawal Beriman, dan beliau telah menyatakan keimanannya pada tahun pertama Kerasulan. Meskipun beliau seorang gadis kecil , yang pastinya, beliau sudah faham tentang makna Islam dan Iman. Kemungkinan besar beliau telah dilahirkan lima tahun sebelum kerasulan dan beliau berumur enam tahun semasa menerima Islam.

Penulis ‘Hayat Sayyid -ul-Arab’ meletakkan Waraqah bin Naufal sebagai orang yang pertama sekali memeluk Islam. Ia telah disokong oleh Hafiz Balqinin dan Hafiz Iraqi. Ibn Mandah, Ibn Hajar, Tabari, al-Baghawi, Ibn Qan’iah dan Ibn al-Sakan juga telah menyatakan Waraqah adalah salah seorang di antara sahabat r.a.

Selepas daripada Waraqah, Khadijah r.a. ialah Orang Yang Terawal Beriman. Kemudian selepasnya ialah Abu Bakar r.a. di kalangan lelaki dewasa, Ali r.a. di kalangan kanak-kanak, Za’id bin Harithah r.a. di kalangan hamba sahaya. Kemudiannya Ummu Aiman, dan Ummu Rumman isteri Abu Bakar r.a., kemudian Ummu Khair ibu kepada Abu Bakar, selepas itu Asma’ r.a. anak perempuan Abu Bakar. Dan telah diakui di kalangan ahli sejarah bahawa ‘Aishah dan Asma’ telah memeluk Islam bersama-sama. Dengan ini, Ummul Mu’minin Aishah berada di tempat yang kesepuluh.

Ibn Sa’ad menceritakan bahawa wanita pertama yang memeluk Islam ialah Khadijah r.a. Selepasnya ialah Ummul Fazal r.a. iaitu isteri kepada Abbas. Kemudiannya ialah Asma’ anak perempuan Abu Bakar dan ‘Aishah. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan sebagaimanan turutan ini.

Akan tetapi amat dikesali bahawa mereka yang terpengaruh dengan riwayat Hisham, telah menulis sesuatu yang bercanggah dengan kenyataan iaitu bahawa Ummul Mu’minin r.a. belum lagi dilahirkan pada masa itu! Kami amat terkejut bahawa Shibli tidak memasukkan langsung seorang pun ahli keluarga Abu Bakar di dalam senarai Orang Yang Terawal Beriman di dalam bukunya ‘Siratun Nabi, Jilid I’ . Beliau telah menggugurkan nama Ummu Rumman, Ummul Khair, Asma’ dan ‘Aishah r.a. daripada senarai ini. Beliau bukan sahaja melakukan kesilapan di segi sejarah, tetapi melakukan kesilapan besar bila tidak menyebut mana-mana wanita kecuali Khadijah. Bahkan, beliau tidak menyebut nama puteri-puteri Rasulullah s.a.w. Seperti dijangkakan beliau tidak dapat melupakan Ali!

Hakim Abdur Rauf Danapuri telah menulis di dalam bukunya ‘As’hah-ul-Sa’yer’ sebagai jawapan kepada tulisan Shibli dalam ‘Siratun Nabi’, di mana beliau telah memberikan satu senarai panjang mereka Yang Terawal Beriman . Di dalam senarai ini, beliau telah meletakkan nama Saidatina Asma’ di kedudukan yang ke-16 dan nama Ummul Mu’minin ‘Aishah di tempat yang ke-17. Namun begitu, disebabkan oleh Riwayat Hisham yang menghantui fikirannya, beliau menulis nota kaki sebagaimana berikut:

“Riwayat Bukhari dan Muslim menyebut bahawa apabila Nabi Muhammad s.a.w. mengahwini beliau (‘Aishah), umurnya enam tahun; dan dalam riwayat yang lain beliau berusia tujuh tahun, dan apabila mereka mula tinggal bersama, beliau berusia sembilan tahun. Ibn Sa’ad menulis bahawa Rasulullah s.a.w. dan isterinya ‘Aishah r.a. mulai tinggal bersama di bulan Syawal pada tahun pertama Hijrah”.

Beliau (‘Aishah r.a.) telah dilahirkan selepas empat atau lima tahun Kerasulan. Bagaimanapun, telah difahamkan beliau adalah salah seorang di antara Orang-orang Terawal Beriman. Ini bermakna, beliau adalah seorang Muslim sejak daripada awal kebangkitan Islam. (Abdur-Rauf Danapuri, ‘As’hah-ul-Sa’yer’, m/s 64)

Hakim Rauf telah menunjukkan rasa tidak senangnya mengapa Ummul Mu’minin r.a. telah disenaraikan bersama-sama Orang-orang Terawal Beriman , kerana beliau r.a. masih belum dilahirkan ketika itu. Ini kerana, sebagaimana telah dibuktikan melalui riwayat oleh Imam Bukahri dan Muslim (dari Hisham), bahawa beliau (‘Aishah r.a.) dilahirkan selepas empat atau lima tahun Kerasulan. Hakim Rauf mengatakan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang Muslim semenjak dilahirkan. Kita hairan mengapa Hakim Rauf tidak memasukkan Zainab dan Ruqayyah r.a., anak perempuan nabi s.a.w. di dalam senarai ini.

Ramai orang telah terkeliru disebabkan riwayat Hisham sehingga ke hari ini sebagaimana yang telah dibincangkan di awal tulisan ini. Riwayat Hisham telah menutup pemikiran sehingga hadis dan riwayat lain tidak dipedulikan. Mereka tidak dapat menerima yang lain kecuali yang satu ini dan mata mereka masih lagi tertutup sehingga hari ini.

HUJAH KE-15 – ABU BAKAR R.A. BERCADANG MENGAHWINKAN AISHAH R.A. SEBELUM BERHIJRAH KE HABSHAH

Ahli sejarah mendakwa Ummul Mu’minin r.a telah ditunangkan dengan Jabir bin Mut’im sebelum Rasulullah s.a.w. mengahwini beliau.

Ibn Sa’ad telah meriwayatkan daripada Ibn Abbas bahawa sewaktu Rasulullah s.a.w. menyampaikan hajatnya kepada Abu Bakar r.a. untuk mengahwini ‘Aishah r.a., beliau (Abu Bakar) meminta tangguh daripadanya s.a.w., “Wahai Rasulullah! Saya telah berjanji dengan Mut’im bin ‘Adi bin Nawfal untuk mengahwinkan ‘Aishah dengan anaknya Jabir. Berikan saya sedikit masa supaya saya dapat meleraikan ikatan janji ini daripadanya.” Kemudiannya Abu Bakar r.a. telah membebaskan dirinya daripada Mut’im dan anak lelakinya. Selepas daripada itu, beliau mengahwinkan anak perempuannya dengan Rasulullah s.a.w.

Ibn Sa’ad r.a. telah menukilkan satu riwayat yang lain, melalui Abdullah bin Numeer, daripada Abdullah bin Abi Mulaikah sebagaimana berikut:

“Rasulullah s.a.w. telah menyampaikan hajatnya kepada Abu Bakar untuk mengahwini ‘Aishah. Abu Bakar telah meminta tangguh , “Wahai Rasulullah! Saya telah memberikan ‘Aishah kepada anak lelaki Mut’im bin ‘Adi, Jabir. Tolong berikan saya sedikit tempoh supaya saya dapat membebaskannya. Jabir telah membebaskan ‘Aishah, dan Rasulullah pun mengahwini beliau (‘Aishah).” (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid VIII, m/s 58)

Perhatikan baik-baik bahawa rundingan telah dibuat dengan Mut’im bin Adi untuk mengahwinkan Ummul Mu’minin r.a. dengan anak lelakinya Jabir ( bin Mut’in bin Adi )

Semoga Allah mengampuni Shibli kerana terkeliru dengan mengatakan bahawa ‘Aishah r.a. telah ditunangkan dengan anak lelaki Jabir bin Mut’im (bukannya dengan Jabir) sebelum daripada Rasulullah mengahwininya. (Siratun Nabi, m/s 405)

‘Aishah sebenarnya ditunangkan kepada Jabir, dan bukannya kepada anak lelaki Jabir kerana beliau belum berkahwin pada ketika itu. Shibli telah melakukan kesilapan, dan kesilapan ini telah disalin oleh penulis-penulis kemudiannya.
Almarhum Syed Sulaiman Nadvi menulis di dalam bukunya:

“Akan tetapi sebelum ini ‘Aishah telah ditunangkan kepada anak lelaki Jabir bin Mut’im, maka adalah perlu untuk bertanya kepadanya (Jabir) terlebih dahulu.” (Seerah ‘Aishah, m/s 15)

Niaz Fatehpuri menulis; “Saidatina ‘Aishah telah ditunangkan kepada anak lelaki Jabir bin Mut’im hingga ke waktu itu, jadi Saidina Abu Bakar telah bertanya kepada Jabir. (Sahabiyyat, m/s 36)

Almarhum Maulana Said Akbaradi, iaitu seorang penyelidik terkemuka, menulis; “ Beliau (Abu Bakar) berkata bahawa dia telah berjanji dengan Jabir bin Mut’im. Tetapi apabila Jabir bin Mut’im diminta untuk memutuskannya, beliau menolak.” (Seerat-us-Siddiq, m/s 16)

Adalah jelas bahawa kesemua penulis yang hebat ini telah mengakui bahawa perhubungan Ummul Mu’minin r.a. telahpun diputuskan, akan tetapi mereka semua tidak mengetahui kepada siapa sebenarnya beliau r.a. telah ditunangkan. Mereka telah menyalin bulat-bulat pernyataan Shibli itu, dan mereka telah mempertunangkan ‘Aishah bukan dengan Jabir tetapi kepada anak lelaki Jabir yang tidak pernah wujud sampai ke hari ini. Nampaknya, tiada siapa pernah merujuk kepada kitab “Ibnu Sa’ad”. Mereka menjumpai riwayat ini di dalam “Siratun Nabi’ dan tanpa usul periksa menyalin cerita ini di dalam tulisan mereka. Kami tidak menyalahkan penulis-penulis ini tetapi cukup untuk kami katakan kekeliruan ini sebagai “Kesilapan Menyalin” .

Ahli sejarah Muhammad bin Jareer Tabari telah menulis tentang peristiwa ini dengan terperinci sebagaimana berikut:

“Apabila Abu Bakar As-Siddiq r.a. berasa amat terganggu dengan penindasan yang dilakukan oleh orang kafir, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Habshah. Beliau terfikir untuk mengahwinkan anaknya Aishah sebelum meninggalkan Mekah.

Abu Bakar pun pergi berjumpa Mut’im . Isteri Mut’im juga ada bersamanya. Apabila Abu Bakar menyatakan niatnya, isteri Mut’im memberitahu Abu Bakar bahawa jika mereka mengahwinkan anak lelaki mereka dengan anak perempuan Abu Bakar, sudah tentu Abu Bakar dan anaknya akan membuatkan anak mereka , Jabir, keluar daripada agama asalnya untuk memeluk agama Islam.

Sambil melihat ke arah Mut’im, Abu Bakar berkata, “Apa yang dicakapkan oleh isteri kamu ?” (bermaksud, bagaimana beliau menolak lamaran ini?). Mut’im telah menjawab bahawa apa yang dikatakan oleh isterinya adalah betul. “Kami menganggap kamu dan anak perempuan kamu adalah sama (iaitu berdakwah kepada Islam). Mendengarkan ini, Abu Bakar pun beredar dari situ. (Tabari, Jilid I, m/s 493)

Riwayat oleh Tabari ini telah mendedahkan beberapa perkara seperti berikut:

1. Hubungan yang dimaksudkan ialah dengan Jabir, bukannya dengan anak lelaki Jabir.

2. Apabila Saidina Abu Bakar r.a bercadang untuk berhijrah ke Habshah, Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang gadis remaja ataupun hampir dewasa. Inilah sebabnya mengapa Saidina Abu Bakar memikirkan tentang anak perempuannya sebelum berhijrah ke Habshah.

Menurut riwayat Hisham, Ummul Mu’minin r.a. belum lagi dilahirkan, dan jika beliau telah dilahirkan pun, beliau mungkin baru berusia dua atau empat bulan. Bolehkah kita katakan Ummul Mu’minin r.a.. berkahwin pada usia 2-4 bulan?

Kita hairan, Mut’in tidak pernah mengatakan “Wahai Abu Bakar! Baguslah, kamu mempunyai seorang bayi perempuan , dia akan menjadi isteri anak saya.” Tidak, perkataan seperti ini tidak pernah diucapkan.

3. Ini juga membuktikan bahawa ‘Aishah r.a., sebagaimana ayahnya, Abu Bakar telah terkenal dalam mendaawahkan Islam. Mut’im bimbang bahawa anak perempuan Abu Bakar akan mendaawah anak lelakinya memeluk Islam oleh itu adalah lebih baik untuk menghalang perkahwinan itu. Ini satu lagi bukti bahawa beliau (‘Aishah) telah remaja dan mampu berdaawah kepada Islam .

4. Logiknya, seorang ayah hanya akan mula memikirkan mengenai perkahwinan anaknya apabila anaknya melewati usia remaja. Dalam keadaan ini, kita akan terfikir bahawa umurnya sekurang-kurangnya 15 tahun pada ketika itu. Berdasarkan andaian ini, usianya ialah 25 tahun pada ketika beliau mula tinggal bersama suaminya s.a.w. Adalah tidak berasas untuk menetapkan usia yang lebih muda dari itu.

HUJAH KE-16 – AISHAH R.A. DISEBUT SEBAGAI ‘GADIS’ DAN BUKAN ‘KANAK-KANAK’ SEMASA DICADANGKAN UNTUK BERNIKAH DENGAN RASULULLAH

Juga merupakan satu fakta sejarah bahawa Khaulah binti Hakim telah memberi cadangan kepada Rasulullah s.a.w. untuk mengahwini ‘Aishah r.a. dan Saudah r.a.. Khaulah bt Hakim adalah isteri kepada Uthman bin Maz’un, dan Uthman bin Maz’un adalah adik susuan Baginda s.a.w. Dalam hubungan ini, Khaulah adalah isteri kepada adik sesusuan Nabi s.a.w.

Khaulah telah berkata, “Wahai Rasulullah! Mengapa anda tidak mahu berkahwin?” Khaulah mengusulkan demikian setelah kematian Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. Lalu Baginda s.a.w. bertanya, “Dengan siapa saya patut berkahwin?” Khaulah r.a. menjawab, “Dengan seorang gadis atau janda” Baginda s.a.w. berkata, “Siapakah gadis itu, dan siapa pula janda itu?” Khaulah menjawab, “Dia adalah anak perempuan orang yang paling kau sayangi di atas muka bumi ini , Abu Bakar, iaitu Aishah, dan janda itu pula ialah Saudah binti Zam’ah.” Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Baiklah, beritahu tentang saya kepada kedua-duanya , dan tunggu .”

Hafiz Ibn Kathir telah menukilkan riwayat ini dengan panjang lebar dengan merujuk kepada ‘al-Baihaqi’ dan ‘Musnad Ahmad’. Kedua-dua kitab tersebut bukanlah buku sejarah, tetapi kitab hadis dan Ibn Kathir tidak meminda atau mengulas riwayat-riwayat ini. Oleh itu , perbahasan ini bukanlah dalil sejarah, akan tetapi dalil hadis.

Dalam Bahasa Arab, perkataan ‘Jari`ah’ biasa digunakan untuk gadis kecil yang belum baligh, sementara perkataan ‘Bakra’ digunakan untuk seorang anak dara. Perkataan ini tidak diucapkan untuk seorang anak kecil berusia lapan atau sembilan tahun; tetapi ia digunakan untuk anak dara yang telah baligh . Sepertimana Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda, “Persetujuan hendaklah diperolehi daripada ‘bakra’ (anak dara) ( dalam hal nikah ), dan diamnya adalah persetujuannya.” (SahehMuslim)

Perkataan ‘bakra’ dalam Bahasa Arab adalah lawan kepada perkataan ‘thayb’. ‘Thayb’ ialah wanita

berkahwin yang kematian suami atau yang telah bercerai, yang mana dalam Bahasa Urdu disebut sebagai ‘au`rat’( dan dalam bahasa Melayu disebut ‘janda’ atau ‘balu’ ) . Jika anda tidak mempercayainya, cubalah panggil seorang anak dara dengan sebutan ‘au`rat’, dan lihat apa yang akan terjadi!

Itulah sebabnya satu lagi ayat di dalam hadis ini ialah:

“Dan, seorang ‘thayb’(janda atau balu ) lebih berhak ke atas dirinya berbanding dengan wali ”. (Saheh Muslim)

Perkataan ‘thayb’ ini digunakan sebagai lawan kepada perkataan ‘bakra’. Di dalam Riwayat daripada ‘Musnad Ahmad’ dan ‘Baihaqi’ , Khaulah r.a. mengucapkan; “ada seorang ‘bakra’(gadis atau anak dara) dan ada seorang ‘thayb’(janda)”. Perkataan ‘bakra’ (gadis) ini adalah suatu bukti bahawa ‘Aishah ialah seorang anak dara yang melepasi usia remaja. Jika Aishah r.a. adalah seorang kanak-kanak perempuan berusia enam tahun, maka Khaulah r.a. tentunya akan mengucapkan perkataan “ada seorang ‘jari’at’ (kanak-kanak perempuan) dan seorang ‘thayb’(janda)”. Beliau tidak mungkin berdusta dengan sebegitu jelas. Beliau juga bukanlah seorang ‘ajami’ (bukan Arab), iaitu seseorang yang tidak fasih berbahasa Arab . Beliau tidak mungkin melakukan kesilapan sebodoh ini.

Telah menjadi suatu kebiasaan bagi Nabi Muhammad s.a.w. untuk melawat rumah Abu Bakar setiap hari di waktu pagi dan petang, sepertimana yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam hal ini, mungkinkah Nabi s.a.w. tidak menyedari bahawa apa yang Khaulah beritahu sebagai ‘seorang anak dara’ hanyalah seorang kanak-kanak perempuan yang baru berusia enam tahun? Jikalau benar sedemikian sudah tentu baginda s.a.w. akan berkata:

“Wahai Khaulah!Adik iparku! Adakah kamu berfikir dengan betul ? Kamu telah mencadangkan kepada saya seorang kanak-kanak perempuan dengan mengatakan beliau seorang gadis . Saya biasa melihatnya setiap pagi dan petang”.

Adalah jelas perkara yang sedemikian tidak pernah berlaku . Bahkan, apabila Khaulah menyampaikan hasrat Rasulullah kepada Abu Bakar r.a., beliau (Abu Bakar) menjawab bahawa beliau telah berjanji untuk mengahwinkan Aishah dengan anak Mut’im, dan meminta tempoh untuk menyelesaikan perkara tersebut dengan sebaik mungkin. Abu Bakar tidak pernah mengatakan Aishah r.a. masih lagi kanak-kanak kecil.

Peristiwa ini adalah bukti bahawa Saidatina ‘Aishah bukan lagi seorang kanak-kanak di waktu itu. Sekiranya tidak , Abu Bakar r.a. dan Khaulah binti Hakim r.a. mungkin dianggap sebagai orang kurang siuman , dan kemungkinan juga kemuliaan Nabi s.a.w. akan diperlekehkan . (Semoga Allah melindungi kita dari semua ini!)

Khaulah mencadangkan seorang anak dara kepada Rasulullah s.a.w. Bapanya, Abu Bakar r.a. dan Rasulullah s.a.w. tidak menolak bila mendengar cadangan ini. Jikalau perkahwinan ini telah berlaku sewaktu Ummul Mu’minin r.a. baru berusia enam tahun, maka Nabi Muhammad s.a.w. dan Islam kemungkinannya telah menjadi bahan ejekan dan cemuhan kaum musyrikin di Mekah. Dan, tidak boleh dibayangkan tokoh-tokoh yang bijaksana sebagaimana nabi s.a.w. dan Abu Bakar r.a. melakukan kesilapan sedemikian rupa sehingga menjadi sasaran dan buah mulut orang ramai.

Sebelum daripada ini kami adalah salah seorang yang mempercayai bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah hidup bersama Rasulullah s.a.w. sejak umurnya sembilan tahun, dan kami menerima riwayat ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’. Akan tetapi apabila kami, dengan mengosongkan fikiran, membaca buku-buku hadis dan sejarah, dan buku-buku rijal ( biografi perawi ), kami membuat kesimpulan bahawa selama ini kami seolah-olah katak yang berada di dalam telaga. Namun, kini kami telah sampai ke peringkat di mana sungai Furat dan Dajlah , bahkan Teluk Farsi, tidak lagi mengepung kami. Sekarang doa kami hanyalah supaya Ulama kami turut keluar daripada tempurung kejahilan dan tipudaya, dan kemudian lihatlah berapa banyak manakah sungai yang mengalir di Pakistan ini.

HUJAH KE-17 – RASULLULAH TIDAK TINGGAL BERSAMA AISHAH R.A. KERANA MASALAH MENDAPATKAN MAHAR, BUKAN KERANA UMUR AISHAH YANG TERLALU MUDA

Ibn Saad di dalam “Tabaqat”, menukilkan dari Amra binti Abdur Rahman bahawa beliau telah bertanya kepada Ummul Mu’minin r.a., “Bilakah Rasulullah mula tinggal bersama dengan anda?” Beliau (‘Aishah r.a.) menjawab, “Apabila Rasulullah s.a.w. berhijrah ke Madinah, baginda telah meninggalkan saya dan anak perempuannya di Mekah. Setelah tiba di Madinah, baginda telah menghantar Zaid bin Harithah r.a. untuk membawa kami (ke Madinah), dan juga menghantar pembantunya Abu Raf’a r.a. bersamanya (Zaid), dan telah memberi kepada Zaid dua ekor unta dan 500 Dirham. Baginda s.a.w. mendapat duit ini daripada Abu Bakar r.a., dan duit ini telah diberi kepada Zaid bin Harithah untuk tujuan mereka membeli barang-barang keperluan dan lebih banyak unta, jika diperlukan.

Abu Bakar r.a. menghantar Abdullah bin Ariqit Al-dili bersama dengan dua orang ini, dan telah memberikan dua atau tiga ekor unta (kepada Al-dili). Beliau (Abu Bakar r.a.) telah menulis kepada anaknya Abdullah dan menyuruhnya menyiapkan keluarganya untuk berhijrah. Emak saya Ummu Rumman r.a. dan isteri Zubair, Asma’ r.a. dan saya keluar bersama-sama. Apabila kami telah tiba di Qadid, Zaid bin Harithah membeli tiga ekor unta dengan harga 500 Dirham, dan kami mulai bertolak bersama-sama. Di dalam perjalanan kami berjumpa Talhah bin Ubaidullah yang telah keluar dengan niat untuk berhijrah dan beliau mahu menyertai rombongan keluarga kami berhijrah ke Madinah.

Zaid bin Harithah r.a. meneruskan perjalanan ke Madinah dengan membawa bersama Abu Raf’a, Fatimah, Ummu Kalthum dan Saudah bin Zam’ah r.a. Zaid juga telah membawa bersama isterinya Ummu Aiman dan anak lelakinya Usamah r.a. Manakala Abdullah bin Abu Bakar membawa ibunya Ummu Rumman r.a. dan kedua-dua adik perempuannya. Apabila kami sampai ke tempat bernama Baidh yang terletak berhampiran dengan Mina, unta saya telah ketakutan dan lari. Ketika itu saya berada di dalam mehfah, ibu saya telah menangis, “Oh! Anak ku. Oh! Pengantin ku”. Kemudian mereka menemui unta kami yang turun dari gaung. Allah yang Maha Kuasa telah memeliharanya.

Apabila kami tiba di Madinah, saya tinggal bersama dengan keluarga Abu Bakar r.a. (ayah saya), sementara keluarga Rasulullah s.a.w. telah tinggal di rumah berdekatan dengan masjid. Baginda s.a.w. pada masa itu sibuk membina masjid. Kami telah tinggal untuk beberapa hari di rumah Abu Bakar.

Kemudian Abu Bakar r.a. telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Sekarang apakah halangan kepada tuan untuk tinggal bersama dengan isteri tuan?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Maskahwin ialah halangannya.” Kemudian Abu Bakar r.a memberi kepada baginda s.a.w. 12 Ukyah dan beberapa Nash (lebih kurang 500 Dirham atau lebih sedikit). Rasululah s.a.w. kemudiannya telah menghantar wang tersebut kepada kami sebagai mahar perkahwinan. Selepas itu saya telah datang ke rumah ini untuk tinggal bersamanya, di tempat saya tinggal sekarang ini. Di rumah inilah Rasulullah s.a.w. wafat . Dan, Rasulullah telah membina sebuah pintu yang menghala ke masjid yang terletak di hadapan rumah saya. Dan, Rasulullah juga telah hidup bersama Saudah r.a. di sebuah rumah di anjung masjid, bersebelahan dengan rumah saya. (“Tabaqat Ibn Sa’ad”, Jilid VIII, m/s 68)

Meskipun perawi riwayat ini adalah Waqidi, seorang pendusta, tetapi tidak semestinya dia akan berdusta setiap masa. Ada masanya dia akan bercakap benar. Sekali lagi, tidak sebagaimana Shibli, sesetengah pakar hadis cuba untuk membuktikan bahawa beliau (Waqidi) adalah ‘thiqah’. Kami telah menyalin riwayatnya di sini disebabkan oleh apa yang kami petik di atas menyokong riwayat ini. Bayangkan, akhirnya sesuatu yang benar telah keluar dari mulut seorang pendusta!

Tujuan kami hanya untuk menunjukkan jika sekiranya Ummul Mu’minin baru sahaja berusia lapan tahun selepas berhijrah ke Madinah. tidak mungkin sekali-kali Abu Bakar akan meminta Rasulullah s.a.w. untuk tinggal bersama Aishah r.a. Dalam perkataan lain, seolah-olah beliau berkata: “Berapa lama saya patut membiarkan anak perempuan saya tingal di rumah saya? Dan Rasulullah s.a.w tidak akan sekali-kali menjawab ‘Maskahwinnya adalah penghalangnya’. Abu Bakar r.a. tidak suka anak perempuannya tinggal di rumahnya. Jadi beliau menghantar wang hantaran perkahwinan, dan kemudian baginda s.a.w. telah mengadakan majlis perkahwinannya dengan Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a.”. Ini telah membuktikan bahawa tiada sebarang halangan mengapa Rasulullah tidak membawa isterinya r.a. tinggal bersamanya melainkan kerana tiada maskahwin.

HUJAH KE-18 – HADIS YANG MENSYARATKAN MENDAPAT PERSETUJUAN SEORANG GADIS SEBELUM DIKAHWINKAN MEMERLUKAN GADIS TERSEBUT TELAH CUKUP UMUR

Ibn Abbas meriwayatkan yang Rasulullah s.aw. bersabda:,

“seorang janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, dan persetujuan mestilah diperolehi daripada seorang anak dara, dan diamnya adalah menunjukkan persetujuannya ( Muslim, jilid 1, m/s 455)

Namun di dalam beberapa riwayat, disebutkan “Anak dara mestilah diminta pandangan darinya”.

Di dalam hadith riwayat Abu Hurairah r.a., nabi s.a.w. bersabda;

“ Janganlah kamu mengahwinkan janda sebelum meminta pandangan darinya dan janganlah kamu mengahwinkan anak dara sebelum meminta persetujuan” (Muslim, Jilid I, m/s 455)

Berdasarkan hadis-hadis ini, kerelaan seorang anak dara (yang belum berkahwin) ialah satu syarat asas bagi perkahwinannya; dan jika gadis itu di bawah umur, tidak timbul soalan mengenai kerelaannya. Ia disebabkan beliau tidak mengetahui tujuan perkahwinan itu sendiri. Dengan itu ulama fiqah menyelesaikan masalah ini dengan memutuskan bahawa wali boleh menjalankan pernikahan seorang kanak-kanak bagi pihak kanak-kanak tersebut. Ulama fiqah berdalilkan riwayat Hisham kerana tiada riwayat lain berkenaan perkara ini. Oleh kerana riwayat ini terbukti salah, maka perkahwinan kanak-kanak belum baligh juga adalah salah.

HUJAH KE-19 – KEBOLEHAN LUARBIASA AISHAH R.A MENGINGATI SYAIR YANG BIASA DI SEBUT DI ZAMAN JAHILIYAH MEMBUKTIKAN BELIAU R.A. LAHIR DI ZAMAN JAHILIYAH

Telah tercatat dalam buku hadis dan sejarah bahawa apabila Muhajirin berhijrah ke Madinah, ramai di kalangannya jatuh sakit, termasuklah Abu Bakar As-Siddiq r.a.yang mengalami demam kuat.

Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah menjaga ayahnya sepanjang ayahnya jatuh sakit. (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid III, m/s 43)

Iklim di Madinah tidak sesuai dengan sahabat Muhajirin untuk beberapa ketika. Mereka jatuh sakit berulangkali, hinggakan Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa sebagaimana berikut:

“Ya Allah! Jadikanlah Madinah mengasihi kami sebagaimana Mekah mengasihi kami, malah lebih lagi. Sesuaikanlah iklimnya kepada kami. Berkatilah kami dengan udara dan permukaan bumi. Alihkan demamnya ke arah Jahfah”

(Hadis riwayat Bukahri dan Muslim)

Riwayat ini juga diceritakan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. dan dinukilkan oleh Hisham dari ayahnya Urwah. Dan, terdapat riwayat lain oleh Hisham yang diriwayatkan oleh Imam Malik yang disebutkan di dalam ‘Bukhari’ Jilid II, m/s 848.

Aishah r.a. berkata bahawa Madinah adalah suatu tempat di mana bersarangnya penyakit-penyakit dan wabak-wabak. Penduduknya senantiasa menderita penyakit demam. Saidina Abu Bakr r.a., hambanya ‘Amir r.a. bin Faheerah dan Bilal r.a. telah terlantar sakit di dalam sebuah rumah. Dengan keizinan daripada Rasulullah s.a.w., beliau (‘Aishah r.a.) pergi untuk merawat mereka. Pada masa itu, perintah mengenai pemakaian purdah belum lagi diturunkan. Kesemua mereka sedang terbaring dengan keadaan separuh sedar disebabkan demam yang kuat. Beliau (‘Aishah r.a.) menyambung, ‘Saya menuju ke arah Abu Bakar r.a. dan berkata kepadanya, “Ayah! Bagaimana keadaan kamu?” beliau (Abu Bakar) menjawab:

“Setiap manusia menghabiskan waktunya di kalangan sanak-saudaranya, dan kematian itu adalah lebih hampir daripada tali kasutnya.”

Aishah r.a. berkata bahawa ayahnya tidak mengetahui apa yang telah diucapkannya ( disebabkan oleh fikirannya terganggu oleh demam). Kemudiannya saya pergi kepada ‘Amir r.a., dan bertanya, “Amir! Apa khabar?” beliau (‘Amir) berkata:

“Saya telah merasai keperitan maut sebelum datang kematian, kerana seorang penakut akan mati dicucuk hidungnya. Semua orang berjuang dengan kekuatannya, seperti mana sehelai kain menyelamatkan kulit manusia daripada sinarannya.”

Saidatina ‘Aishah r.a. berkata lagi, “Saya fikir beliau juga tidak mengerti apa yang telah diucapkannya.”

Telah menjadi tabiat Bilal apabila beliau menghidap demam, beliau selalunya berbaring di halaman rumah, dan menangis dengan sekuat-kuat hatinya. Pada ketika itu, beliau sedang memperdengarkan bait-bait berikut:

“Alangkah baiknya, jika aku melalui malam di lembah di mana rumput liar dan belalang akan berada di sekeliling ku. Dan jika aku turun pada suatu hari mengambil air di Majnah dan alangkah baiknya kalau aku nampak sha’mmah dan tufail”

Di dalam riwayat ‘Bukhari’ tidak disebut mengenai ‘Amir bin Fareehah, tetapi Imam Ahmad di dalam ‘Musnad’nya telah meriwayatkan tentang ‘Amir daripada Abdullah bin Urwah.

Perhatikan riwayat ini dengan cermat. Ummu Rumman r.a. dan Asma’ r.a. juga berada di dalam rumah itu. Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. dipertanggungjawabkan menjaga orang-orang sakit. Adakah munasabah tanggungjawab penting seperti itu diamanahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan berusia lapan tahun sedangkan pada masa yang sama terdapat wanita lain yang lebih tua di dalam rumah itu? Tugas merawat dan menjaga ini munasabah jika Ummul Mu’minin r.a. sendiri sudah cukup matang dan tahu tanggungjawabnya . Tugas melayan orang sakit sebagaimana yang telah digambarkan di dalam Tabaqat Ibn Sa’ad, adalah tidak masuk akal untuk kanak-kanak di usia 8 atau 9 tahun.

‘Aishah r.a. mengatakan bahawa beliau menceritakan keadaan ayahnya, ‘Amir bin Fareehah dan Bilal r.a., dengan menyebut bait-bait ini kepada Rasulullah s.a.w.:

“Mereka ini berjalan terhuyung-hayang. Mereka menjadi kurang waras disebabkan oleh demam yang amat kuat.”

Keseluruhan peristiwa ini membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. telahpun menjadi seorang surirumah pada tahun 1 H. Bayangkan dia meminta izin suaminya untuk melawat dan merawat orang sakit. Bayangkan bagaimana sekembalinya, beliau r.a. telah mengulang kesemua bait-bait yang didengarinya, dan memberitahu suaminya s.a.w. bahawa mereka ini melafazkan bait-bait ini di dalam keadaan demam kuat dan dalam keadaan tidak sedar.

Kesemua perkara ini adalah amat payah untuk dilakukan dan difahami oleh seorang kanak-kanak perempuan berumur sembilan tahun . Ini adalah urusan orang dewasa . Mengingati dan menghafal syair-syair adalah mungkin, hanya apabila Ummul Mu’minin r.a. telah melalui sebahagian daripada usianya di dalam persekitaran begitu. Walaubagaimanapun, jika kita menerima bahawa beliau hidup bersama suami (Rasulullah) sewaktu berusia sembilan tahun dan beliau dilahirkan setelah tahun kelima Kerasulan, tidak wujud persekitaran rumah yang sedemikian kerana pada masa itu rumah mereka dipenuhi dengan bacaan al-Quran dan bukannya syair. Bila dan di mana beliau (‘Aishah) belajar syair ini? Jawapan mudahnya ialah: ‘beliau telah dilahirkan sebelum Zaman Kerasulan, mindanya telah terdidik dengan kesusasteraan sebagaimana penduduk Mekah yang lain’. Kita akan membincangkan hal ini dengan lebih lanjut di halaman yang selanjutnya.

HUJAH KE-20 – KEMAHIRAN DALAM SASTERA, ILMU SALASILAH DAN SEJARAH SEBELUM ISLAM

Waliuddin Al-Khateeb, penulis Mishkath menulis:

“Saidatina ‘Aishah r.a. merupakan seorang wanita yang faqih, alim, fasih, dan fazilah. Beliau paling banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah s.a.w. Beliau r.a. sangat mahir dalam sejarah peperangan dan syair-syair Arab ( sebelum kedatangan Islam).”(‘Mishkat’, m/s 612)

Anak saudaranya Urwah r.a. menjelaskan bahawa beliau tidak pernah menjumpai seseorang yang lebih mahir daripada Saidatina ‘Aishah r.a. di dalam bidang tafsir al-Qur’an, ilmu Fara’id, hukum halal-haram, hukum fiqah, syair, perubatan, sejarah Arab dan ilmu salasilah. (‘Al-Bidayah wan-Nihayah’, Jilid VIII, m/s 92)

‘Ata bin Abi Rabah mengatakan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang ahli fiqah yang paling hebat, seorang ulama’ yang paling tinggi pengetahuannya dan seorang pemikir yang paling tinggi tahap pemikirannya. (‘Al-Bidayah wan-Nihayah’, Jilid VIII, m/s 92)

Abu Musa Ashaari r.a. berkata “Apabila kami, para sahabat mengalami kesulitan dalam memahami hadis nabi, kami akan mendapat penyelesaian yang mudah daripada beliau” (‘Tirmizi’, ‘Al-Bidayah wan-Nihayah)

Abul Zinad menceritakan bahawa beliau belum pernah melihat seorang lelaki yang lebih mahir dalam syair berbanding Urwah . Beliau telah bertanya kepada Urwah, “Bagaimana anda boleh menjadi seorang yang sangat hebat dalam syair?” Urwah telah menjawab bahawa beliau mewarisinya daripada ibu saudaranya Aishah r.a.; dan menambah, apabila berlaku sebarang peristiwa, beliau (‘Aishah r.a.) akan melafazkan secara spontan serangkap syair yang menggambarkan keadaan itu.

Musa bin Talhah menceritakan bahawa beliau tidak pernah menemui seseorang yang lebih petah berbicara dari Aishah r.a. Urwah r.a. berkata bahawa beliau pernah bertanya kepada Ummul Mu’minin r.a., “Wahai ibu saudaraku! Saya tidak hairan bagaimana anda menjadi seorang yang faqih, kerana anda adalah isteri kepada Rasulullah s.a.w. dan anak perempuan kepada Abu Bakar r.a. Saya juga tidak hairan kerana anda dapat mengingat syair dan mahir tentang sejarah kerana anda adalah anak kepada Abu Bakar, orang yang paling alim. Akan tetapi saya hairan dengan pengetahuan anda yang mendalam dalam perubatan, daripada manakah anda mempelajarinya?” Ummul Mu’minin r.a. menepuk bahu Urwah dan berkata, “Wahai Urwah! Rasulullah s.a.w. menderita sakit di hari-hari terakhir kehidupannya, dan ramai utusan yang datang melihatnya dari setiap ceruk, dan mereka mecadangkan ubat-ubatan untuknya s.a.w , dan saya memberikan ubat kepadanya menurut cadangan-cadangan tersebut.

Untuk mencapai kecekapan di dalam kesusateraan Arab, syair, ilmu salasilah dan sejarah Arab, memerlukan masa yang lama dan seorang pelajar hendaklah cukup berumur untuk memahami dan mengingati ilmu tersebut. Dan kita tahu bahawa ilmu salasilah dan sejarah Arab adalah topik yang membosankan.

Berdasarkan riwayat Hisham, beliau (‘Aishah) masih lagi seorang kanak-kanak berumur lapan tahun, semasa berlakunya peristiwa Hijrah. Abu Bakar r.a., meninggalkan keluarganya di Mekah dan berhijrah ke Madinah. Selepas beberapa bulan , beliau membawa ahli keluarganya (melalui sahabatnya) . Beliau membawa ahli keluarganya datang ke Madinah, dan Saidatina ‘Aishah mulai tinggal bersama suaminya Rasulullah setelah beberapa hari tiba di Madinah. Dalam tempoh yang sebegitu singkat beliau tidak akan mendapat sebarang peluang untuk menimba ilmu dan pengalaman daripada ayahnya.

Di Madinah, aktiviti Rasulullah s.a.w. adalah amat berbeza berbanding semasa berada di Mekah. Di sini baginda mengajarkan al-Qur’an, solat dan puasa, dan menyebarkan Islam ke wilayah-wilayah.luar. Persekitaran ini tiada kaitan langsung dengan ilmu salasilah , ilmu sejarah dan syair . Saidatina ‘Aishah tidak mungkin dapat mencapai kemahiran dengan memahami dan menyesuaikan syair-syair melainkan beliau telah melalui masa yang agak panjang untuk memerhati dan mempelajari syair. Beliau telah menghafal rangkap-rangkap syair Arab yang terbaik yang akan diungkapkan bersesuaian dengan keadaan. Beliau juga telah memahami dengan mendalam rangkap-rangkap prosa. Hadis yang dinyatakan oleh Ummu Zar’i, yang diriwayatkan dalam ‘Muslim’, merupakan karya agung sasteranya.

Dengan itu, boleh disimpulkan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah merupakan seorang wanita yang dewasa sebelum perkahwinannya. Beliau telah memperolehi kemahiran ini samada dengan belajar atau memerhati ayahnya. Disebabkan oleh daya ingatan dan kebijaksanaannya yang luar biasa, beliau telah mencapai kecemerlangan di dalam ilmu salasilah Arab, juga kemahiran yang tinggi di dalam syair dan sejarah.

Saidatina ‘Aishah r.a. berkata: “Suatu hari, Rasulullah sedang membaiki kasutnya dan saya memerhatikannya. Dengan melemparkan pandangannya ke arah saya, baginda s.a.w. bertanya, “Kenapa? Kamu merenung saya dengan begitu tekun.” Saya menjawab, “Saya melihat kesepadanan rangkap syair oleh Abu Bakr al-Hazli pada diri kamu. Jika beliau masih hidup, beliau tidak akan menemui orang lain yang lebih sesuai untuk rangkap syairnya.” Baginda s.a.w. bertanya kepada saya apakah rangkap tersebut. Kemudian Ummul Mu’minin r.a. berkata:

“Sesuatu yang tidak ada padanya kekejian, dan daripada kekotoran pemerah susu dan daripada setiap penyakit yang berjangkit, (dan) apabila kamu melihat kepada garis-garis di wajahnya, (kamu akan melihat) ia bercahaya, sebagaimana pipi yang terang bercahaya.”

Mendengarkan rangkap ini, Rasulullah s.a.w. amat gembira, sambil menggeleng-geleng kepalanya, baginda bersabda, “Ia amat menyenangkan saya, syair ini tepat pada tempatnya”

Ini bermakna bahawa Ummul Mu’minin r.a. bukanlah sekadar seorang wanita alim yang kaku bahkan Rasulullah s.a.w. sendiri juga bukanlah seorang yang hambar dan membosanknan.

Sewaktu adiknya Abdur Rahman meninggal dunia, beliau (‘Aishah r.a.) dengan spontan mengungkapkan bait-bait ini:

“Kita berdua adalah diibaratkan seperti dua orang pengiring raja Jazimah. Untuk suatu tempoh yang lama, sangat lama mereka bersahabat hinggakan orang berkata bahawa tidak mungkin mereka akan berpisah. Namun apabila kami berpisah, meskipun saya dan Tuan telah bersama dalam tempoh yang lama, tetapi rasanya kami tidak pernah tinggal bersama walaupun satu malam.”

Ungkapan-ungkapan Ummul Mu’minin r.a tentang syair , sejarah dan salasilah yang ditemui di dalam kitab-kitab hadis, sejarah dan kesusateraan boleh dirumuskan bahawa beliau adalah seorang ahli hadis, ahli feqah, ahli tafsir al-Quran, ahli sejarah dan pakar salasilah yang terhebat di zamannya.

Dengan tujuan untuk menenggelamkan ketokohan Aishah r.a. dalam bidang keilmuan dan kesusasteraan, orang-orang Syiah mencipta cerita kononnya Ummul Mu’minin suka bermain dengan anak patung dan anak patung ini menjadi sebahagian penting dari hidupnya. Bahkan apabila Rasulullah s.a.w. kembali daripada Perang Tabuk, baginda s.a.w. melihat anak patung yang dihiasi di suatu sudut rumahnya, meskipun setelah sembilan tahun menjadi isteri Rasulullah s.a.w!! Dalam erti kata lain, beliau (‘Aishah) tidak melakukan sebarang kerja, melainkan berterusan bermain dengan anak patungnya, walaupun setelah menjadi salah seorang daripada ahli keluarga Nabi s.a.w.

Sedangkan, fakta sebenarnya ialah setelah menjadi isteri Nabi s.a.w., Ummul Mu’minin r.a. telah pun mencapai tahap kemuncak di bidang keilmuan di mana beliau mampu meletakkan prinsip-prinsip asas hukum fiqah dan hadis yang diakui dan diguna pakai oleh sahabat-sahabat r.a.

Contohnya, Ummul Mu’minin memperkenalkan satu prinsip iaitu suatu yang bercanggah dengan al-Quran tidak sekali-kali akan diterima, sama ada ia ditakwil atau sememangnya yang ditolak.

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas perhatikan riwayat tentang orang kafir yang telah terbunuh di dalam Perang Badar. Rasulullah s.a.w. mencampakkan mayat mereka ke dalam satu lubang dan sambil berdiri di tepi lubang tersebut baginda mengucapkan, “Adakah kamu dapati apa yang dijanjikan oleh tuhanmu benar.” Lalu para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Adakah kamu bercakap dengan orang yang telah mati? Baginda kemudiannya menjawab: “Kamu tidak akan mendengar lebih daripada mereka, cuma mereka tidak dapat menjawab.” Mendengarkan ini Ummul Mu’minin r.a. berkata, “ Rasulullah tidak pernah mengucapkan perkara tersebut, sebaliknya baginda telah mengucapkan: “Kini mereka tahu sesungguhnya apa yang aku cakapkan adalah benar ”. Baginda s.a.w. tidak mungkin melafazkan kata-kata sebagaimana riwayat di atas, kerana Allah Yang Maha Esa telah berkata: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat membuatkan orang yang telah mati mendengar.” (Bukhari Jilid I, m/s 183)
Suatu contoh lagi ialah apabila hampir meninggal dunia Saidina Umar r.a. telah mengucapkan hadis Nabi ini: “Sesungguhnya, mayat akan diazab dengan ratapan daripada ahli keluarganya.” Mendengarkan ini, Saidatina ‘Aishah r.a. berkata: “Semoga Allah yang Maha Kuasa mencucuri rahmat kepada Umar r.a. Rasulullah s.a.w. tidak pernah mengucapkan hadis ini, yakni bahawa Allah S.W.T. memberi azab terhadap orang Mu’min disebabkan oleh ratapan daripada ahli keluarganya, sebaliknya Rasulullah s.a.w. telah mengucapkan bahawa Allah S.W.T. akan melipatgandakan azab terhadap orang kafir lantaran ratapan oleh ahli keluarganya. Dan al-Qur’an itu adalah mencukupi bagi kamu, dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.”

Di dalam riwayat yang lain beliau (‘Aishah) menjelaskan, “Apa yang sebenarnya berlaku ialah seorang perempuan Yahudi telah meninggal dunia, dan ahli keluarganya telah meratapi kematiannya. Dengan menujukan kepada mereka, Rasulullah s.a.w. telah mengucapkan: “Mereka ini sedang meratapi kematian beliau, sedangkan beliau diazab di dalam kuburnya.” (Bukhari, Jilid I, m/s 172,/ ‘Muslim’, Jilid I, m/s 303)
Teguran yang diberikan oleh Ummul Mu’minin r.a. dalam dua peristiwa ini, mengasaskan prinsip-prinsip fiqah dan hadis sebagaimana berikut :

1- Bila makna sesuatu hadis bercanggah dengan al-Quran, walau betapa tinggi kedudukan sanadnya, ianya adalah tertolak. Prinsip ini digunakan oleh fiqah mazhab Hanafi.

2 – Walau setinggi manapun kedudukan seseorang perawi, sesuatu hadis tetap tidak akan diterima sekiranya dia meriwayatkan sesuatu yang bercanggah dengan al-Quran. Tiada siapa akan mencapai kedudukan seumpama Saidina Umar r.a. dan Saidina Abdullah bin Umar r.a. Apabila Ummul Mu’minin r.a. mengutamakan ‘prinsip’ bila berdepan dengan ‘peribadi’ perawi, suatu prinsip lain diperkenalkan iaitu, ‘ bila sahaja seorang perawi dibandingkan dengan satu prinsip maka perawi itu akan ditolak dan prinsip itulah yang akan diterima pakai.

3- Apabila seseorang mengatakan sesuatu yang bercanggah dengan al-Quran atau prinsip ini, beliau dianggap telah tersalah faham atau tidak dapat mengingati peristiwa tersebut dengan tepat ataupun mungkin beliau tidak dapat memahami kedudukan sebenar peristiwa itu.

4- Sesungguhnya al-Quran itu adalah mencukupi untuk perkara berkenaan Kaedah dan Rukun keimanan. Oleh itu kita tidak perlu menyokong riwayat tersebut.

5- Sayugia diingat, siapakah Saidina Umar r.a. ini. Sedangkan peribadi agung seperti Saidina Umar r.a. tidak boleh diterima sekiranya riwayatnya bercanggah dengan al-Quran . Lalu , bagaimana mungkin kita bertaqlid buta kepada seseorang yang berjuta kali lebih rendah daripada Umar r.a.. Sekiranya telah jelas terdapat kecacatan dalam di dalam sesuatu riwayat maka riwayat tersebut hendaklah ditolak.

Apabila Saidina Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan hadis di atas, Ummul Mu’minin r.a. berkata: “Semoga Allah mengampuni segala dosa Abu Abdur-Rahman. Beliau tidak berdusta. Akan tetapi mungkin beliau terlupa atau tersilap.” (‘Muslim’, Jilid I, m/s 303)

Dari ungkapan ini, Ummul Mu’minin r.a. mengasaskan satu lagi prinsip, iaitu;
6- Walau bagaimana jujur dan terpercayanya seseorang perawi, meskipun dia adalah seorang daripada sahabat yang adil yang sememangnya tidak pernah berdusta, mereka mungkin melakukan kesilapan iaitu samada ia terlupa atau kurang memahami maksud sebenar. Tiada seorang pun yang terkecuali daripada kesilapan seperti itu.
Oleh itu tidak semestinya setiap riwayat perawi yang thiqah adalah tepat . Boleh jadi beliau tersilap dalam merawikan atau dia tidak mendengar percakapan dengan lengkap.

Apabila kemungkinan seperti itu berlaku di kalangan sahabat r.a., untuk menganggap bahawa Hisham terselamat dan bebas daripada kekurangan atau kecacatan , adalah sama seperti mencela kesucian dan kebenaran Nabi s.a.w. dan juga suatu serangan terhadap kehormatan sahabat r.a. Ulama hadis menamakan riwayat sedemikian sebagai riwayat ‘mungkar’ ( yang disangkal) . Oleh kerana itu, masyhur di kalangan mereka istilah seperti mungkarat Sufyan Uyainah, Hammad ibn Salamah dan Sharik bin Abdullah Al-Madani.

Berdasarkan alasan ini ulama hadis dan juga ahli feqah bersepakat bahawa setiap manusia, secara semulajadi, mempunyai mempunyai sifat pelupa dan melakukan kesilapan. Ada kemungkinan seorang sahabat r.a. melakukan kesilapan dalam memindahkan lafaz , ataupun telah tersilap dalam memahami maksudnya yang sebenar, atau mungkin juga beliau tidak menyaksikan keseluruhan peristiwa yang berlaku dan membuat kesimpulan yang salah. Ataupun mungkin telah mendengar sebahagian daripada percakapan dan mengeluarkan pendapat berdasarkan pertimbangannya sendiri. Mungkin juga beliau telah terkeliru bila menyaksikan hanya sebahagian daripada sesuatu peristiwa. Apabila kita menimbangkan kemungkinan kecacatan ini dalam riwayat sahabat kita sepatutnya perlu lebih berhati-hati sebelum menerima riwayat dari perawi bukan sahabat. Dan sekiranya sebarang kelemahan ditemui di dalam mana-mana riwayat, maka kita perlu lebih berhati-hati sebelum menerima riwayat tersebut. Dengan itu setinggi manapun sanad sesuatu hadis ianya tetap dikatakan ‘zanni’ (sangkaan kuat) dan setiap peringkat tidak terlepas dari ‘zann’. Bezanya di dalam hadis mutawatir tahap ‘zann’ (keraguan) adalah paling sedikit berbanding hadis ahad. Di dalam riwayat Hisham ini kita dapati ada ‘keraguan” di setiap peringkat perawi.

Jikalau bilangan perawi lebih sedikit di dalam sesuatu sanad maka semakin berkuranglah ‘zann’ ( keraguan) nya. Itulah sebabnya mengapa ulama hadis akan mengelaskan sesebuah hadis yang mempunyai bilangan dan peringkat perawi yang sedikit , sebagai ‘Alee’ (yang lebih tinggi)’, sementara sebuah hadis yang mempunyai bilangan dan peringkat perawi yang banyak, sebagai ‘Safil’ (tahap yang lebih rendah).

Sebagai contohnya, Imam Bukhari menukilkan sebuah riwayat melalui sanad ini:

“Al-Humaidi menceritakan bahawa Sufyan berkata kepadanya, daripada al-Zuhri, daripada Urwah, daripada ‘Aishah…” Di dalam ‘sanad’ ini, terdapat lima orang perawi yang menghubungkan antara Rasulullah s.a.w. dan Bukhari. Berlainan dengan riwayat yang kedua yang telah disampaikan melalui cara ini:

“Abu ‘Asim menceritakan bahawa Ad-Duhak berkata kepadanya, daripada Salamah bin Al-Akwa’…” Di dalam sanad ini hanya terdapat tiga orang perawi. Tahap keraguan di dalam riwayat ini adalah kurang berbanding dengan riwayat pertama. Riwayat kedua dikatakan ‘alee’ manakala riwayat kedua dikatakan ‘safil’. Riwayat yang kedua adalah salah satu dari ‘thulathiyyat’ Imam Bukhari( iaitu yang mempunyai sanad yang paling sedikit, iaitu tiga orang perawi) dalam saheh Bukhari. Di dalam Bukhari hanya terdapat 23 thulathiyyat; riwayat yang lain adalah lebih rendah tarafnya daripada 23 riwayat ini. Dengan menggunakan asas yang sama, bahawa riwayat-riwayat Bukhari yang mempunyai empat peringkat perawi di dalam sanadnya , akan menjadi ‘alee’ jika dibandingkan dengan riwayat yang mempunyai lima peringkat perawi di dalam sanadnya.

Bila Imam Abu Hanifah r.a. dan Imam Malik r.a. menukilkan mana-mana riwayat, kadangkala terdapat dua atau tiga orang perawi di dalam sanadnya. Terutama dalam riwayat Imam Abu Hanifah di mana ada riwayat yang hanya mempunyai seorang perawi iaitu sahabat r.a.. Kesemua riwayat oleh mereka ini akan menjadi ‘alee’ daripada Bukhari. Malahan, Riwayat Bukhari yang paling ‘alee’ ( tinggi ) pun adalah ‘safil’ ( rendah) berbanding riwayat Abu Hanifah dan Imam Malik.

Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah meletakkan satu kaedah asas fiqah dan hadis yang penting. Peribadi agung Ummul Mu’minin r.a. telah membezakan dengan jelasnya di antara al-Quran dan as-Sunnah, dan beliau telah menjelaskan bahawa ‘zann’ iaitu sesuatu yang mempunyai keraguan tidak boleh mengatasi yang ‘mutlak’ . Di dalam Islam, hanya ‘Kalam Allah’ iaitu al-Qur’an, yang dijamin ‘tepat dan sempurna ’ sementara hadith Nabi s.a.w adalah ‘zann’ ( yang mempunyai keraguan) kerana ianya diriwayatkan oleh manusia dan ‘kekurangan’ adalah sifat semulajadinya. Tidak pernah wujud manusia yang tidak mempunyai kelemahan ini.

Hadis oleh Fatimah binti Qais adalah satu contoh lain, di mana beliau menyatakan bahawa seorang wanita yang diceraikan tidak akan sekali-kali akan mendapat rumah untuk tinggal, mahupun sebarang nafkah. Amirul Mu’minin Saidina Umar r.a. telah menolak ‘hadis’ ini sambil memberi peringatan bahawa kita tidak boleh mengingkari Kitab Allah hanya dengan berdasarkan kata-kata seseorang. Kami telah menghuraikan peristiwa ini di dalam buku kami yang terdahulu yang bertajuk ‘Usul-e-Fiqah’ dan di dalam sebuah buku baru yang berjudul ‘Isal-e-Sawab Qur’an ki Nazer mein’. Di sini kami hanya ingin menukilkan kata-kata yang diucapkan oleh Ummul Mu’minin r.a. berkenaan ‘hadis’ Fatimah binti Qais tersebut:

“ Tidak ada kebaikan bagi Fatimah menyebutkan hadis ini (‘Saheh Bukhari’, Jillid I, m/s 485 / Jilid II, m/s 803).

Satu lagi riwayat pula dinyatakan begini:
“Adapun beliau tidak mendapat apa-apa kebaikan dengan menyebutkannya.” (‘Saheh Bukhari’, Jilid II, m/s 802 / ‘Muslim’, Jilid I, m/s 485)

Qasim bin Muhammad berkata Ummul Mu’minin berkata kepada Fatimah binti Qais , “Tidakkkah kamu takut kepada Allah?” (Saheh Bukhari, Jilid I, m/s 803).

Jika kami ingin mengumpulkan riwayat-riwayat yang disanggah oleh Umul Mu’minin tentunya kami akan dapat menghasilkan sebuah buku. Tunggulah buku kami “Sirah Aisha” yang akan membincangkan perkara ini dengan terperinci.

(Nota: Allama Habibur Rahman Siddiqui Kandhalwi tidak dapat menyempurnakan bukunya, ‘Sirah ‘Aishah’ disebabkan oleh sakitnya yang panjang dan berterusan )

Kami memang mengakui bahawa Hisham adalah seorang perawi ‘thiqah”. Beliau adalah salah seorang perawi dalam “Saheh Bukhari”. Beliau adalah seorang yang boleh dipercayai, seolah-olah turun daripada langit di dalam bentuk yang suci. Namun kami katakan bahawa Hisham yang kami hormati ini telah terlupa angka “sepuluh” ketika daya ingatannya lemah . Dan, hakikatnya apa yang dinyatakan oleh Hisham adalah tidak benar. Ianya tidak benar kerana adalah tidak masuk akal Ummul Mu’minin menguasai bidang kesusateraan, ilmu salasilah, sejarah dan pidato semasa berumur sembilan tahun. Dan, jika ianya mungkin, bantulah kami sekurang-kurangnya menguasai Bahasa Inggeris supaya kami dapat membidas kembali tulisan-tulisan beracun seumpama ini di dalam bahasa ini.

Kami telah membaca buku ‘Sirah ‘Aishah’ karya Syed Sulaiman Nadwi. Beliau telah menulis secara ringkas tentang perkahwinan Aishah pada mukasurat 225 di dalam buku tersebut. Di situ, beliau juga telah menyatakan usia Aishah r.a.. adalah sembilan tahun semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.. Sudah tentu kami amat kesal dengan kenyataan ini dan kami mengambil masa lima puluh tahun untuk membetulkan fakta ini.

HUJAH KE-21 – KEINGINAN MENDAPATKAN ANAK DAN NALURI KEIBUAN TIDAK MUNGKIN TIMBUL DARI KANAK-KANAK BAWAH UMUR

Adalah suatu naluri semulajadi seorang wanita dewasa yang telah berkahwin berkeinginan untuk mendapatkan anak. Ia adalah suatu perasaan semulajadi yang mana tiada seorang pun menafikannya. Dan perasaan ini, yang disebut sebagai ‘naluri keibuan’, tidak mungkin timbul di dalam jiwa seorang kanak-kanak perempuan kecil , sebagaimana seorang kanak-kanak lelaki di bawah umur tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang bapa.

Adalah suatu kebiasaan di Tanah Arab, bahawa bila sahaja seseorang menjadi bapa, beliau akan mengambil ‘kunniyah’(nama timangan) sempena nama anaknya yang dikasihi. ‘Kunniyah’ ini seringkali diambil daripada nama anak lelaki sulung, sebagaimana Abu Talib, namanya yang sebenar ialah Abd Manaf dan Talib adalah anak lelakinya. Abul Qasim adalah kunniyah Rasulullah s.a.w. sempena nama anak lelaki sulungnya yang bernama Qasim. Abul Hassan adalah kunniyah Saidina Ali r.a., yang diambil daripada nama anak lelaki sulungnya, Hassan r.a.

Dengan cara yang sama, apabila seseorang wanita telah mendapat anak setelah perkahwinan, beliau akan menggunakan kunniyah berdasarkan nama anaknya dan akan dikenali dengan nama timangan ini. Dengan berpandukan kepada kunniyah , orang akan mengetahui bahawa beliau adalah seorang ibu kepada anaknya. Contohnya seperti Ummu Habibah r.a., Ummu Salamah’ r.a., dan Ummu Sulaim r.a.

Kunniyah ini akan mengukuhkan lagi kedudukan seseorang di dalam masyarakatnya. Apabila beliau dipanggil dengan menggunakan kunniyah , akan timbul suatu perasaan bahawa beliau adalah seorang ayah kepada anaknya, dan dengan menjadi seorang ayah, tanggungjawab kebapaan dipikul olehnya. Dengan cara yang sama, apabila disebutkan seseorang wanita disebut ‘ibu kepada….’, maka wanita ini akan dapat merasai dirinya adalah seorang ibu, dan ini akan memuaskan naluri keibuannya.

Bahkan, setiap perempuan yang telah berkahwin akan mengimpikan untuk mendapat anak setelah beberapa ketika berkahwin. Malah, wanita yang tiada anak seringkali mengambil anak angkat daripada keluarga lain untuk mememuaskan naluri keibuannya bila anak angkat memanggilnya dengan panggilan ‘ibu’. Dan, keinginan seperti ini tidak mungkin timbul di hati seorang kanak-kanak perempuan yang masih mentah.

Aishah r.a. tidak mempunyai anak kandung, namun pada suatu hari di bawah tekanan naluri semulajadinya, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Kesemua isterimu yang lain telah mengambil kunniyah daripada nama anak lelaki mereka. Bagaimana saya boleh gunakan satu kunniyah?” Lalu Baginda s.a.w. menjawab, “Ambillah kunniyah daripada nama Abdullah, anak lelakimu.” (Abu Daud & Ibn Majah)

Abdullah adalah merujuk kepada Abdullah bin Zubair (anak saudara lelakinya). Jadi kunniyah bagi Ummul Mu’minin r.a. adalah Ummu Abdullah (r.a.). (Sunan Abu Daud m/s 679 & Ibn Majah (terjemahan Jilid II, m/s 416 dan Tabaqat, Jilid VIII, merujuk kepada “Perbincangan mengenai ‘Aishah.”)

Syed Sulaiman Nadwi menulis: Abdullah bermaksud Abdullah bin Zubair iaitu anak saudara Aishah r.a. dan anak lelaki kakaknya Asma’ r.a.. Beliau adalah anak lelaki Islam yang pertama selepas Hijrah. Aishah r.a. mengambilnya sebagai anak angkatnya dan menyayangi beliau dengan sepenuh hati. Abdullah r.a. juga mengasihi Aishah r.a. melebihi ibu kandungnya sendiri. Selain Abdullah, Aishah r.a. telah membesarkan ramai lagi kanak-kanak lain (Muwatta’ Kitab-uz-Zakat).

Masruq bin Al-Ajda’ , Umarah binti ‘Aishah, ‘Aishah binti Talhah, ‘Amarah binti Abdur-Rahman (Ansariyah), Asma’ binti Abdur-Rahman bin Abu Bakar, Urwah bin Az-Zubair, Qasim bin Muhammad dan saudara lelakinya, dan Abdullah bin Yazid adalah mereka yang telah dibesarkan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. Beliau (‘Aishah) juga telah membesarkan anak-anak perempuan Muhammad bin Abu Bakar dan mengaturkan perkahwinan mereka. (Sirah Aishah, m/s 182)

Saidatina ‘Aishah r.a. telah mengambil anak saudaranya menjadi anak angkatnya. Dengan sebab ini, Saidatina Asma’ r.a. tidak mengambil kunniyah berdasarkan nama anak lelakinya itu . Dan juga, oleh kerana Ummul Mu’minin r.a. telah biasa memanggil Abdullah sebagai anaknya semenjak awal, maka Rasulullah s.a.w. mencadangkan kepadanya untuk mengambil kunniyah berdasarkan nama anak saudaranya itu. Dengan cara ini, naluri keibuannya, yang menjadi impian setiap wanita muda, akan dapat dipenuhi. Hal ini sendiri adalah satu hujah bahawa beliau telah dewasa pada ketika itu, dan Abdullah, sekiranya menurut riwayat Hisham, hanyalah lapan tahun lebih muda daripadanya. Dalam keadaan ini, Abdullah lebih sesuai dipanggil sebagai ‘adik’, tetapi tidak mungkin dipanggil sebagai ‘anak’. Peristiwa ini membuktikan bahawa Aishah r.a. adalah seorang wanita yang matang semasa perkahwinannya. Dan, beliau , sebagaimana wanita lain mempunyai naluri semulajadi untuk mempunyai anak. Itu adalah sebabnya mengapa beliau menganggap anak saudaranya sebagai anaknya, dan selaku seorang wanita yang tiada anak, beliau membesarkan ramai kanak-kanak perempuan untuk memenuhi naluri perasaan kasih dan keibuannya.

HUJAH KE-22- AISHAH R.A. SEBAGAI IBU ANGKAT KEPADA BASHAR R.A. YANG BERUMUR TUJUH TAHUN SELEPAS PERANG UHUD

Terdapat satu riwayat daripada Bashar bin ‘Aqrabah bahawa ayahnya telah mati syahid di dalam Peperangan Uhud, dan beliau sedang menangis apabila secara tiba-tiba Rasulullah s.a.w. datang kepadanya dan berkata: “Adakah kamu tidak suka jika saya menjadi ayah kamu dan ‘Aishah sebagai ibumu?”

Adakah ungkapan “…..Aishah sebagai ibumu.” sesuai diucapkan untuk seorang kanak-kanak perempuan berumur sepuluh tahun?

Bukankah ianya sesuatu yang mustahil untuk perkataan-perkataan ini diungkapkan oleh Rasulullah s.a.w, melainkan Ummul Mu’minin ‘Aishah pada ketika itu bukan kanak-kanak di bawah umur.

Bashar adalah seorang kanak-kanak yang berusia 6 atau 7 tahun. Dalam erti kata lain, seorang kanak-kanak perempuan yang berusia sepuluh tahun menjadi ibu angkat kepada seorang kanak-kanak lelaki berusia tujuh tahun!! Ia akan menjadi gurauan yang tidak masuk akal!.

Pada pandangan kami, umur Ummul Mu’minin r.a., sekurang-kurangnya adalah dua puluh satu tahun semasa berlakunya Perang Uhud.

HUJAH KE-23- WUJUDKAH PERKAHWINAN GADIS BAWAH UMUR DI TANAH ARAB DAN DALAM MASYARAKAT BERTAMADUN?

Satu lagi persoalan timbul iaitu adakah perkahwinan gadis bawah umur menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat Arab, khususnya di zaman Rasulullah s.a.w.

Apabila kami meneliti sejarah Arab, kami tidak menemui sebarang contoh seumpama ini sebelum dan selepas kedatangan Islam. Bahkan, di zaman Rasulullah s.a.w., semua gadis berkahwin setelah mencapai usia dewasa. Malah, seorang ibu yang terhormat tidak sekali-kali akan bersetuju untuk mengahwinkan anak gadisnya yang baru baligh, kerana gadis itu masih lagi mentah untuk memahami tanggungjawab dalam perkahwinan. Contohnya, mungkin dia gagal menjalankan tanggungjawab bagaimana untuk membesarkan dan menjaga anaknya dengan baik. Dalam masyarakat yang bertamadun seoran gadis akan berkahwin bila cukup matang. Tahap kematangan biasanya dicapai bila seorang gadis berusia lapan belas tahun ke atas, sebagaimana kata-kata Imam Abu Hanifah bahawa umur baligh ialah lapan belas tahun. Dan, kami berpendapat gadis yang baligh ( secara fizikal) pada usia 13-14 tahun, tidak akan matang di segi pemikiran sehingga berumur 18 tahun . Dalam erti kata lain, sifat keanak-anakannya tidak akan hilang semasa tempoh remaja .

Ini adalah sebabnya mengapa Rasulullah s.a.w. mengaturkan perkahwinan anak-anak gadisnya hanya setelah mereka mencapai usia matang. Oleh sebab peristiwa sebelum hijrah tidak direkodkan dengan lenngkap di dalam sejarah, maka kami tidak dapat pastikan berkenaan usia anak perempuan baginda yang telah berkahwin di Mekah. Akan tetapi, baginda s.a.w. telah mengaturkan perkahwinan dua orang anak gadisnya selepas Hijrah , dan kedua-duanya telah berkahwin di usia yang cukup matang.

PERKAHWINAN SAIDATINA FATIMAH R.A.

Upacara perkahwinan Saidaitina Fatimah r.a., menurut sebilangan ahli sejarah, telah berlangsung pada bulan Syawal tahun kedua Hijrah; dan menurut beberapa penulis yang lainnya ia berlangsung di bulan Muharam tahun ketiga Hijrah. Berapakah usianya yang sebenar pada waktu itu? Ulama hadis dan juga ahli sejarah bersetuju bahawa Saidatina Fatimah r.a. telah dilahirkan pada masa orang-orang kafir membina semula bangunan Ka’abah. Pada waktu itu umur Rasulullah s.a.w. adalah 35 tahun, dalam erti kata lain, Fatimah dilahirkan lima tahun sebelum Kerasulan. Dengan ini, pada masa berlangsungnya Hijrah ke Madinah, usia Saidatina Fatimah adalah lapan belas tahun dan pada waktu perkahwinannya, Fatimah berusia 21 tahun.

Hafiz Ibn Hajar menulis bahawa Saidatina Fatimah r.a. adalah lima tahun lebih tua daripada Saidatina ‘Aishah r.a.(Al-Asabah, Jilid IV, m/s 377)

Namun, di waktu yang lain, beliau menyokong kuat pendapat bahawa majlis perkahwinan Ummul Mu’minin r.a. berlangsung semasa berusia sembilan tahun. Sekarang, jika kita mempertimbangkan fakta bahawa ‘Aishah r.a. adalah lima tahun lebih muda daripada Fatimah r.a., dan Fatimah telah dilahirkan lima tahun sebelum Kerasulan, ini bermakna bahawa Ummul Mu’minin dilahirkan pada tahun baginda s.a.w. diangkat menjadi rasul. Dengan itu , usia Ummul Mu’minin r.a. menjadi lima belas tahun pada masa beliau mula hidup bersama Rasulullah s.a.w. Bagaimanakah ia boleh menjadi sembilan tahun?

Puak Syiah pula mendakwa bahawa Fatimah r.a. telah dilahirkan lima tahun selepas Kerasulan, dan oleh itu usianya semasa perkahwinan adalah 8 atau 9 tahun. Bahkan, berdasarkan alasan ini, pendapat fiqah mereka ialah: kanak-kanak perempuan mencapai sembilan tahun hendaklah dikahwinkan. Pada pandangan kami, puak Syiah sengaja mengadakan cerita tentang umur Ummul Mu’minin r.a. dalam usaha untuk menyembunyikan cerita yang direka oleh mereka sendiri. Dan, ahli Sunnah tanpa berfikir panjang, turut menyebarkan pemikiran mereka ini dengan menyebarkan riwayat seperti ini. Kesannya, apabila ahli Sunnah menerima riwayat yang Ummul Mu’minin berkahwin semasa berusia sembilan tahun orang Sy

iah akan mengejek sambil berkata : Tuan! Bagaimana seorang kanak-kanak perempuan yang hanya menghabiskan masanya dengan bermain anak patung, dapat memahami agama ini ?

PERKAHWINAN SAIDATINA UMMU KALTHUM R.A.

Selepas kematian Ruqayyah r.a., Ummu Kalthum r.a. telah berkahwin dengan Saidina Uthman ibn Affan r.a. di bulan Rabi’ul Awal tahun ketiga Hijrah. Sekiranya Ummu Kalthum adalah lebih muda daripada Fatimah r.a., maka umurnya sembilan belas tahun dan jika Ummu Kalthum lebih tua, sebagimana yang dikatakan oleh ahli sejarah secara umumnya, maka usianya (Ummu Kalthum) tidak akan kurang daripada 23 tahun, dan beliau adalah seorang perawan di usia itu.

Alangkah ajaibnya ! Rasulullah s.a.w. mengatur perkahwinan anak perempuannya pada masa mereka berumur melebihi 20 tahun, sebagaimana perkahwinan gadis di zaman moden. Namun apabila baginda s.a.w. sendiri berkahwin, beliau memilih seorang kanak-kanak perempuan yang berusia sembilan tahun . Apakah perasaan anak perempuan baginda s.a.w. untuk memanggil Aishah r.a. sebagai ibu?

PERKAHWINAN SAIDATINA ASMA’ R.A.

Asma’ r.a. ialah kakak ‘Aishah r.a., yang usianya sepuluh tahun lebih tua daripadanya (‘Aishah r.a.). Beliau telah berkahwin dengan Zubair r.a. beberapa bulan sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah. Beliau sedang mengandung pada waktu berlakunya Hijrah. Pada masa itu beliau berusia 27 tahun dan semasa perkahwinannya, beliau berusia 25 tahun. Ini bermakna bahawa Saidina Abu Bakar r.a. memelihara anak perempuan sulungnya (Asma’ r.a.) selama 26 tahun, dan anak perempuannya yang terkemudian (‘Aishah r.a.) adalah sangat membebankannya sehinggakan beliau (Abu Bakar r.a.) menguruskan perkahwinannya meskipun baru berusia sembilan tahun!

Kami perhatikan di zaman moden ini, rata-rata pengantin perempuan berumur lebih 18 tahun. Oleh itu, mengapakah kisah ini hanya dikhususkan kepada Ummul Mu’minin r.a.? Apakah muslihat yang ada di sebaliknya?

Alangkah baiknya sekiranya ada sesiapa yang mampu untuk mendedahkannya!
Kami yakin segala kekalutan ini berpunca dari sikap permusuhan puak Syiah terhadap Ummu Mu’minin Saidatina Aishah r.a.

HUJAH KE-24 – KESEPAKATAN (IJMAK) UMAT DALAM MENOLAK AMALAN KAHWIN BAWAH UMUR

Riwayat Hisham yang keliru ini sentiasa bercanggah dengan amalan umat Islam. Sehingga hari ini, tiada siapapun yang beramal menurut riwayat ini , malah tiada seorang pun yang menawarkan anak perempuan yang berusia sembilan tahun untuk tujuan ini; dan, tiada seorang pun kanak-kanak di usia mentah begitu yang telah diterima untuk dijadikan sebagai isteri.

Kesimpulannya, riwayat ini hanya berlegar di atas lidah manusia. Dalam erti kata lain, riwayat ini tidak diterimapakai oleh sesiapa pun dari segi amalan.

Tetapi, kita bukanlah dari jenis orang yang suka membantah. Oleh itu kita mempercayai riwayat ini secara lisannya, tetapi kita ( dan juga masyarakat Islam seluruh dunia) enggan mengamalkannya.

PERBAHASAN TENTANG USIA SEBENAR KHADIJAH R.A. SEMASA BERKAHWIN DENGAN RASULULLAH S.A.W.

Dikatakan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. berumur 40 tahun ketika beliau berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Ia adalah suatu riwayat yang yang tidak berasas tetapi telah disebarkan sebegitu rupa dan digarap seolah-olah sebahagian daripada ugama. Ini adalah percubaan untuk membuktikan bahawa Rasulullah s.a.w. telah melalui zaman mudanya bersama-sama dengan seorang wanita tua. Dalam usia lanjut , beliau r.a telah melahirkan empat orang anak perempuan iaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalthum dan Fatimah r.a.; dan tiga orang anak lelaki yang dinamakan Qasim, Tayyab and Tahir. Menurut sesetengahnya pula, beliau r.a. telah melahirkan empat orang anak lelaki; ada seorang yang bernama Abdullah, sedangkan setengah yang lainnya pula menyatakan bahawa yang sebenarnya Abdullah telah dipanggil sebagai Tayyab dan Tahir.

Saidatina Khadijah r.a. telah berkahwin sebanyak dua kali sebelum berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Perkahwinan pertamanya adalah dengan Abu Halah Hind bin Banash bin Zararah. Daripadanya, beliau telah mendapat seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Nama anak lelakinya ialah Hind dan anak perempuannya bernama Halah. Setelah kematian Abu Halah, Khadijah r.a. berkahwin dengan Atiq bin ‘Aid Makhzumi. Daripadanya dia mendapat seorang anak perempuan yang juga bernama Hind. Inilah sebabnya mengapa Saidatina Khadijah r.a. mendapat kunniyah sebagai Ummu Hind. Anak lelaki Saidatina Khadijah, Hind, telah memeluk Islam. (Seerat-un-Nabi , Jilid II, m/s 402).

Di sini, timbul satu persoalan, iaitu Saidatina Khadijah r.a. telah melahirkan empat orang anak sahaja di usia mudanya, namun semasa usia tuanya beliau telah melahirkan tujuh atau lapan orang anak, yang mana ia agak bertentangan dengan logik akal. Sebabnya, menurut Sains Perubatan, seorang wanita menjadi tidak subur untuk melahirkan anak, biasanya apabila melewati usia 45 tahun. Bagaimana pula boleh dipercayai bahawa lapan orang anak telah dilahirkan setelah melepasi usia 40 tahun?

Pihak Orientalis dan musuh-musuh Islam telah memberi perhatian khusus terhadap riwayat ini, kerana peristiwa ini jelas bertentangan dengan akal. Dengan mendedahkan peristiwa seperti ini, mereka mengambil kesempatan untuk mencemuh Islam.

Namun begitu, ulama kita sebaliknya menganggap kejadian ini sebagai ‘satu mukjizat’ Rasulullah s.a.w. Tambahan lagi mereka menganggap inilah keistimewaan nabi s.a.w. kerana sanggup mengahwini wanita yang tua sedangkan baginda s.a.w. sendiri muda belia.

Di pihak yang lain golongan Syiah mendakwa adalah tidak mungkin melahirkan sebegitu ramai anak di usia tua. Oleh itu, Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kalthum tidak diiktiraf sebagai anak nabi s.a.w.

Golongan Syiah mengatakan bahawa umur Khadijah r.a. ialah 40 tahun semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Meskipun mereka amat mahir bermain dengan angka, mereka telah melakukan kesilapan bodoh bila mendakwa bahawa Fatimah r.a. dilahirkan lima tahun selepas kenabian. Dalam hal ini, Khadijah sudah berumur 60 tahun semasa melahirkan Fatimah r.a.. Dengan ini tidak mungkin Ruqayyah dan Kalthum adalah anak kepada Khadijah kerana mereka adalah lebih muda dari Fatimah.

Kita akan membuktikan bahawa empat orang anak perempuan ini adalah dilahirkan oleh Saidatina Khadijah r.a. dari Rasulullah s.a.w. Tetapi sebelum itu orang Syiah perlu membuktikan bahawa seorang wanita yang berusia 60 tahun boleh melahirkan anak. Dan apabila mereka membuktikannya, mereka mesti juga membuktikan bahawa Fatimah r.a. adalah anak kepada Khadijah r.a.

Sebenarnya terdapat perbezaan pendapat tentang usia sebenar Khadijah r.a bila berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Ada yang berkata umurnya 40 tahun . Ada yang berpendapat usianya 35 tahun. Yang lain pula mengatakan 30 tahun , dan sesetengah pula mengatakan 27 tahun, manakala ada pula yang menyatakan bahawa usianya 25 tahun. Ahli-ahli sejarah Syiah sependapat mengatakan umurnya 40 tahun, dan mereka menolak pendapat lain. Dan mereka riuh rendah menyebarkan pendapat ‘40 tahun’ ini seolah-olah pandangan lain tidak pernah wujud. Ulama kita dan ahli-ahli sejarah yang terkemudian juga terpengaruh dengan daayah ini dan menyangkakan bahawa pendapat golongan Syiah inilah yang ‘tepat’.

Hafiz Ibn Kathir menulis:

“Baihaqi telah memetik daripada Hakim iaitu apabila Rasulullah mengahwini Khadijah r.a., baginda s.a.w. adalah berumur dua puluh lima tahun dan Saidatina Khadijah r.a. berumur tiga puluh lima tahun, dan ada pendapat lain mengatakan usianya dua puluh lima tahun.” (al-Bidayah, Jilid II, m/s 295)

Dengan lain perkataan, Baihaqi dan Hakim menyatakan bahawa Saidatina Khadijah r.a. berusia tiga puluh lima tahun pada waktu itu. Bersama-sama dengan itu, mereka juga turut mengatakan bahawa ada pendapat bahawa beliau r.a. berusia dua puluh lima tahun.

Di tempat lain , Hafiz Ibn Kathir mengatakan usia Saidatina Khadijah r.a. pada masa kewafatannya, sebagaimana berikut: “Usia Saidatina Khadijah mencapai 65 tahun. Satu pendapat mengatakan beliau meninggal pada usia 50 tahun. Dan pendapat ini (iaitu 50 tahun) adalah yang benar.” (al-Bidayah wan Nihayah, Jilid II, m/s 294)

Ulama Hadis dan ahli sejarah bersetuju bahawa Saidatina Khadijah r.a. menjalani hidup sebagai isteri Rasulullah s.a.w. selama 25 tahun dan beliau r.a. meninggal dunia pada tahun ke-10 Kerasulan. Hafiz Ibn Kathir berkata; ‘pendapat yang benar adalah usianya mencecah 50 tahun’ telah membuktikan bahawa usia Saidatina Khadijah pada masa perkahwinannya ialah 25 tahun. Dan juga, Hafiz Ibn Kathir juga telah membuktikan bahawa ‘maklumat’ yang diterima pada hari ini (iaitu umur Khadijah r.a. 40 semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. ) adalah salah dan tidak benar sama sekali..

Meskipun dengan fakta yang sebegini jelas, kita masih mempercayai (dan terperangkap) dalam berita yang lebih merupakan khabar angin semata-mata.
Apabila kami mengkaji ‘Al-Bidayah wan-Nihayah’ yang ditulis oleh Ibn Kathir, barulah kami menyedari akan kesilapan kami. Semoga Allah yang Maha Kuasa mengampuni kami, kerana kami adalah mangsa kepada suatu salah faham yang besar. Moga Allah yang Berkuasa mengurniakan kepada kita semua kefahaman akan Kebenaran.

Wallahua’lam

Aamin! Ya Rabbal Aalamin

BIBLIOGRAFI

Rujukan Akademik dan Buku Sumber

1. Bukhari, Muhammad Ismail Al-Bukhari: Sahih Bukhari.

2. Muslim, Muslim Bin Al-Hajjaj at-Taheeri: Sahih Muslim.

3. Sulaiman bin Ash’ath: Sunan Abi Daud.

4. An-Nasaie, Ahmad bin Shuaib An-Nasaie: Sunan Nasaie.

5. Tirmidhi, Mohammad bin Essa Tirmidhi: Jama’a Tirmidhi.

6. Ibn Majah, Mohammad bin Abdullah bin Yazid bin Majah: Sunan Ibn Majah.

7. Al-Darimi, Abu Abdur-Rahman Abdullah bin Abdur-Rahman Al-Darimi: Sunan Darimi.

8. Al-Hamidi, Abdullah bin Az-Zubair Al-Hamidi: Musnad Hamidi.

9. Hafiz Ibn Hajar: Tahzib-ul-Tahzib.

10. Aqueeli: Kitab-ul-Sanafa.

11. Hafiz Zahabi: Mizan-ul-‘Atedal.

12. Abdur-Rahman bin Abi Hatim Maruzi: Al-Jarah-wal-Ta’dil.

13. Hafiz Sakhawi: Fateh-ul-Ghaith.

14. Ibn Sa’ad: Tabaqat.

15. Waliuddin Al-Khatib: Al-Kamal fi Asma-ur-Rajal.

16. Hafiz Ibn Katheer: Al-Bidayah-wan-Nihayah.

17. Hafiz Ibn Hajar: Taqrib-ul-Tahzib.

18. Tabari, Muhammad bin Jareer Tabari: Tarikh Tabari.

19. Hafiz Zahabi: Siyar-ul-A’lam An-Nubula.

20. Ibn Hisham: As-Seerat.

21. Hafiz Ibn Katheer: As-Seerat-un-Nabawiyyah.

22. Hayat Syed-ul-Arab.

23. Abdur-Rauf Danapuri: As’hah-ul-Sa’yer.

24. Shibli: Seerat-un-Nabi.

25. Niaz Fatehpuri: Sahabiyyat.

26. Said Ahmad, Akberabadi Maulana: Seerat-us-Siddiq.

27. Imam Ahmad: Al-Masnad.

28. Sulaiman Nadvi, Syed: Seerah ‘Aishah.

29. Hafiz Ibn Hajar: Al-Asabah fi Ahwal-us-Sahabah.

30. Hakim Niaz Ahmad: ‘Ao‘mer ‘Aishah.

banyak juga penghujat dan misionaris yang mempersoalkan pernikahan nabi Muhammad saw dan siti Aisyah..

tetapi tahukah mereka berapa umur yusuf dan Maria menikah?

semoga keterangan ini bisa untuk dijadikan berfikir untuk menghujat pernikahan nabi Muhammad dan siti Aisyah

A year after his wife’s death, as the priests announced through Judea
that they wished to find in the tribe of Juda a respectable man to
espouse Mary, then twelve to fourteen years of age, Joseph, who was at
the time ninety years old, went up to Jerusalem among the candidates

Setahun setelah kematian istrinya, seperti yang telah diumumkan oleh
para rabbi keseantero Judea bahwa mereka mencari seseorang yang
terpandang dari suku Jahudi untuk memperistri Mary, yang akan berumur
12-14 tahun, Joseph yang saat itu sudah berumur 90, pergi ke
Jerusalem diantara para calon…….

Baca selengkapnya http://www.newadvent.org/cathen/08504a.htm

wassalam

RAHASIA DIBALIK INISIAL “ALIF-LAM-MIM” DALAM AL-QUR’AN Alif laam miim QS 2:1

RAHASIA DIBALIK INISIAL “ALIF-LAM-MIM” DALAM AL-QUR’AN

Alif laam miim QS 2:1

Inisial dalam Al-qur’an

  • Pengertian inisial di sini merujuk pada susunan huruf-huruf yang mengawali sejumlah surat dalam Al-Qur’an, misalnya “Alif-Lim-Mim”, “Alif-Lam-Ra’”, dan sebagainya.
  • Dalam Al-Qur’an jumlah surat yang diawali atau mengandung INISIAL ada sebanyak 29 surat.
  • Dari seluruh inisial yang mengawali ke-29 surat tersebut, ada sebanyak 14 jenis inisial (susunan huruf spesial) yang berbeda.
  • Susunan 14 jenis inisial tersebut dibentuk oleh 14 huruf yang berbeda.
  • Menurut kaidah matematika,  14 adalah 7dikalikan 2
  • Pertanyaan: Ada apa dengan angka 7? Mengapa angka 7? Halaman-halaman berikut mencoba menjelaskan fenomena menarik tentang angka 7 berkaitan dengan keajaiban matematis dari Al-Qur’an.

Angka 7: Sebuah Pola Matematis Lain dari Sistem Penulisan Al Qur’an

  • Selain sistem 19 yang merupakan format secara umum sebagai kode matematis yang digunakan Allah dalam menuliskan Al-Qur’an, ternyata angka 7 juga mewarnai keajaiban matematis lain dari Al-Qur’an.
  • Penemuan kedua pola matematis itu ditambah dengan pola matematis lainnya yang banyak dijumpai dalam penulisan Al-Qur’an seperti frekuensi munculnya kata-kata tertentu memperkuat bukti bahwa Al-Qur’an disusun mengikuti pola matematis yang seorang manusia-pun tidak akan mampu membuat sebuah buku dengan disain matematis seperti yang dijumpai di Al-Qur’an, baik susunan surat, ayat, kata, huruf dan hubungan antar keempat komponen tersebut.

Angka 7: Sebuah Pola Matematis Lain dari Sistem Penulisan Al Qur’an

  • Selain sistem 19 yang merupakan format secara umum sebagai kode matematis yang digunakan Allah dalam menuliskan Al-Qur’an, ternyata angka 7 juga mewarnai keajaiban matematis lain dari Al-Qur’an.
  • Penemuan kedua pola matematis itu ditambah dengan pola matematis lainnya yang banyak dijumpai dalam penulisan Al-Qur’an seperti frekuensi munculnya kata-kata tertentu memperkuat bukti bahwa Al-Qur’an disusun mengikuti pola matematis yang seorang manusia-pun tidak akan mampu membuat sebuah buku dengan disain matematis seperti yang dijumpai di Al-Qur’an, baik susunan surat, ayat, kata, huruf dan hubungan antar keempat komponen tersebut.

Mengapa Angka 7

  • Angka 7 merupakan angka yang spesial
  • Bagi penggemar sepak bola tentu tahu bahwa angka 7 dipakai oleh beberapa bintang sepakbola seperti David Beckam (ketika di MU) dan Raul Gonzales (Real Madrid).
  • Angka 7 banyak mewarnai ciptaan Allah. Allah menciptakan 7 lapis langit, 7 lapisan bumi, dan 7 lapis atmosfir. Bagi yang belajar kimia tentu tahu bahwa ada 7 orbit dalam atom. Allah juga menciptakan 7 hari dalam satu minggu.
  • Dalam kaitannya dengan ritual Islam, ketika shalat kita sujud dengan bertumpu pada 7 bagian tubuh (dahi, kedua telapak tangan, kedua tumit dan kedua kaki). Ketika orang melakukan ibadah haji, orang harus melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) sebanyak 7 kali, berjalan antara bukit Shafa dan Marwah 7 kali, melempar jumrah 7 kali. Al-Qur’an juga diawali dengan 7 ayat surat Al-Fatihah.

Kaitan Angka 7 dengan Inisial “Alif-Lam-Mim”: Pendahuluan

  • Perlu dijelaskan bahwa konsep angka 7 disini merujuk pada semua bilangan yang habis dibagi dengan 7 atau merupakan kelipatan 7, misalnya 14, 21, 28, 35, dst yang semua bilangan tersebut habis dibagi 7.
  • Jika seseorang mengganti huruf-huruf pada inisial yang ada dalam Al-Qur’an, menurut Alkaheel, interpretasi dari ayat-ayat dan surat yang memuat inisial tidak akan berubah. Akan tetapi, menurut dia, berdasarkan logika bahwa Allah tidak mungkin secara sembarangan menempatkan huruf-huruf pada inisial yang mengawali surat di Al Qur’an, tetapi Allah sengaja menempatkan huruf-huruf tersebut sebagai inisial, maka jika kita ganti satu huruf dalam susunan di inisial “Alif Lam Mim” misalnya, hal itu akan merubah seluruh struktur. Dengan kata lain, dalam huruf-huruf dalam susunan di inisial tersebut terdapat keajaiban (miracle) yang dapat menjaga sekaligus mencegah Al Qur’an dari perubahan yang mungkin dilakukan manusia.
  • Jumlah surat dalam Al-Qur’an yang memuat inisial “Alif-Lam-Mim” sebanyak 6 surat.
  • Inisial pertama yang muncul di Al Qur’an adalah ‘Alif Lam Mim” yang merupakan ayat pertama dari Surat Al-Baqarah.
  • Ayat kedua setelah ayat pembuka ini Allah menyatakan bahwa Kitab ini (Al Qur’an) tidak mengandung keragu-raguan dan merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Firman Allah yang artinya “Alif Lam Mim; itulah Kitab yang didalamanya tidak ada keragu-raguan; merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (QS Al Baqarah 1-2)”.
  • Surat terakhir yang memuat inisial “Alif-Lam-Mim” adalah Surat As-Sajdah. Dalam surat ini kita juga akan temukan bahwa ayat yang mengikuti inisial tersebut mengkonfirmasi kembali tentang kepastian tentang Kitab Suci Al-Qur’an dan kitab suci ini diturunkan dari Allah. Allah berfirman “Kitab yang diturunkan yang di dalamnya tidak ada keragu-raguan, dari Tuhan semesta alam”. Jadi Allah selalu mengkonfirmasi bahwa tidak ada keragu-raguan tentang Al Qur’an.

Distribusi huruf-huruf spesial dalam “Alif-Lam-Mim” yang menakjubkan

  • Jika kita tuliskan QS Al Baqarah ayat 2 yang mengikuti ayat pertama “Alif Lam Mim” seperti yang tertulis dalam Al Qur’an dan dibawah setiap kata dalam ayat tersebut dituliskan jumlah huruf-huruf inisial dari “Alif Lam Mim” yang ada pada setiap kata di ayat tersebut tersebut, maka dapat kita lihat sebagai berikut:

            “Kitab yang di dalamnya tidak ada keragu-raguan. Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”

ذَلِكَ    الْكِتَبُ       لا      رَيْبَ     فِيهِ     هُدًى     لِلْمُتَّقِينَ  

         3         0        0       0       2        2       1

 

Kemudian kita susun angka-angka tersebut menjadi sebuah angka 3000221. Angka ini memiliki hubungan dengan angka 7 karena angka tersebut merupakan angka dengan kelipatan 7. Jika kita bagi angka tersebut dengan 7 maka akan kita dapatkan sebuah bilangan bulat.

                        3000221 = 7 x 428603

  • Bagaimana dengan distribusi huruf-huruf tersebut pada surat terakhir (Surat As-Sajdah) yang diawali dengan inisial yang sama (Alif Lam Mim)? Dengan cara yang sama seperti sebelumnya, marilah kita tuliskan ayat yang mengikuti inisial “Alif Lam Mim” pada Surat As Sajdah, dan kita hitung jumlah huruf-huruf “Alif Lam Mim” yang ada pada setiap kata dalam ayat tersebut, maka kita peroleh hasil seperti dibawah:

            “Kitab yang diturunkan yang di dalamnya tidak ada keragu-raguan, dari Tuhan semesta alam”

تَنْزِيلُ     الْكِتَبِ     لا     رَيْبَ     فِيهِ     مِنْ     رَبِّ     الْعَلَمِينَ

                          4          0       1      0       0       2       2          1

Dari susunan hurf tersebut dapat kit abaca angka 40100221, yang mewakili distribusi huruf dalam inisial “Alif Lam Mim” dalam ayat tersebut. Jika angka tersebut kita bagi dengan 7 maka akan kita dapat bilangan bulat. Dengan kata lain bilangan yang diperoleh tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 7

                                    40100221 = 7 x 5728603

Distribusi kata-kata yang menakjubkan

  • Jika pada bahasan di atas kita analisis berdasarkan jumlah huruf-huruf inisial “Alif Lam Mim” yang ada pada setiap kata, bagaimana jika kita analisis dengan cara lain yaitu JIKA SEBUAH KATA MEMUAT SALAH SATU HURUF SPESIAL MAKA KITA BERI KODE 1, DAN JIKA KATA YANG TIDAK MEMUAT HURUF SPESIAL DIBERI KODE 0? Bagi yang pernah belajar matematika atau statistika, sering kita jumpai sebuah fungsi yang didasarkan pada nilai 1 dan 0. Secara matematis, pernyataan di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:

 

 

 

Berdasarkan prinsip dari fungsi matematis tersebut, marilah kita coba terhadap kedua ayat di atas, apakah masih mengikuti pola yang sama, dalam arti akan diperoleh bilangan dengan kelipatan 7?

Kembali kita tuliskan kedua ayat tersebut di atas sebagai berikut. Untuk Surat Al-Baqarah:

ذَلِكَ      الْكِتَبُ      لا      رَيْبَ     فِيهِ      هُدًى      لِلْمُتَّقِينَ

                          1          0         0       0        1        1         1

Dari susunan angka-angka tersebut kita dapatkan bilangan 1000111, dan bilangan ini merupakan bilangan dengan kelipatan 7

                                    1000111 = 7 x 142873

Hal yang sama kita temukan untuk ayat pada Surat As-Sajdah:

تَنْزِيلُ      الْكِتَبِ     لَا      رَيْبَ      فِيهِ      مِنْ      رَبِّ     الْعَلَمِينَ

                        1            0       1        0        0        1       1          1

Kita dapatkan angka 10100111 yang juga merupakan bilangan dengan kelipatan 7!

10100111 = 7 x 1442873

Pembaca, tidakkah kita telah melihat distribusi huruf-huruf dan kata-kata yang begitu menakjubkan yang didasarkan pada bilangan 7! Apakah mungkin hal ini sebagai suatu yang kebetulan (by chance or random)?

Hubungan harmonis antara surat Al-Baqarah dan As-Sajdah yang menakjubkan

  • Keajaiban Al-Qur’an yang bersifat numerik/matematik dalam kaitannya dengan kedua ayat di atas tidak berhenti pada pola di atas, tetapi bahkan pada hubungan antara kedua ayat tersebut. Itulah sebabnya Allah nyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna, baik ditinjau dari isi maupun desain/struktur penulisannya.
  • Hubungan antara kedua ayat di atas, misalnya dilihat sebagai berikut. Jika kita hitung jumlah huruf yang merangkai ayat pertama (QS Al-Baqarah Ayat 2) dan ayat kedua (QS As-Sajda Ayat 2), kita dapatkan masing-masing sebanyak 26 dan 29 huruf.
  • Yang menakjubkan adalah kedua angka tersebut kalau digabungkan berhubungan dengan angka 7.

Jika kita susun keduanya sebagai berikut dengan berdampingan satu sama lain:

 

                        Ayat Kedua (QS As-Sajdah Ayat 2)      Ayat Pertama (QS Al Baqarah Ayat 2)    

                        29                                                       26

            didapat bilangan 2926 yang merupakan kelipatan dari 7:

                                                2926 = 7 x 418

Apakah hubungan yang begitu harmonis berhenti di sini? Ternyata tidak. Lihat pola hubungan berikutnya!

 

 

Pada ayat pertama (QS Al-Baqarah Ayat 2) diperoleh bahwa jumlah kata yang memuat salah satu huruf pada inisial Alif Lam Mim ada 4 kata, dan jumlah huruf dalam Inisial Alif Lam Mim pada ayat tersebut sebanyak 8 atau dua kali lipat (lihat distribusi huruf di halaman sebelumnya). Hal yang menakjubkan di sini adalah kedua angka tersebut memiliki hubungan yang erat dan berkaitan dengan angka 7.

            Jumlah kata yang memuat salah satu huruf dalam inisial “ALM” = 4

            Jumlah seluruh huruf dari “ALM” pada ayat tersebut = 8

           

  dan diperoleh angka 84 yang merupakan sebuah bilangan dengan kelipatan 7:

                                    84 = 7 x 12  (Catat: angka 12 = 8 + 4)

Selanjutnya pada ayat kedua dalam bahasan ini (QS As-Sajdah Ayat 2) juga ditemukan hal atau pola yang sama. Pada ayat kedua jumlah kata yang memuat “Alif Lam Mim” ada 5 kata, dan jumlah huruf “Alif Lam Mim” pada ayat tersebut sebanyak 10 huruf atau dua kali lipat. Lihat pola menarik berikut yang sama seperti di atas:

            Jumlah kata yang memuat salah satu huruf dalam inisial “ALM”  = 5

            Jumlah seluruh huruf dari “ALM” pada ayat tersebut = 10

            jika kedua angka digabung diperoleh angka 105 yang merupakan bilangan dengan kelipatan 7:

                        105= 7 x 15  (Catat: angka 15 = 10 + 5)

 

Apakah anda masih menyangka semua ini hanya kebetulan? Lihat lagi bukti hasil dari kedua operasi matematis di atas, pada halaman selanjutnya.

Operasi matematika pertama menghasilkan bilangan bulat 12, sedangkan operasi matematik kedua menghasilkan bilangan bulat 15. Dan hasil dari operasi matematik di atas juga saling berhubungan; 15 dituliskan setelah 12 diperoleh angka 1512, yang merupakan bilangan kelipatan 7:

1512 = 7 x 216

 

Angka terakhir dari hasil tersebut yaitu 216, yang langsung berhubungan dengan jumlah seluruh surah dalam Al-Qur’an yang memuat  inisial “Alif Alm Mim”, yaitu sebanyak 6:

216 = 6 x 6 x 6

Mengapa inisial “Alif Lam Mim” diulang 6 kali dalam Al-Qur’an?

  • Dalam Al-Qur’an inisial ‘Alif Lam Mim” diulang sebanyak 6 kali yang menempati 6 surah. Pertanyaan yang mungkin juga muncul, mengapa Allah memilih beberapa surah untuk diawali dengan huruf-huruf “Alif Lam Mim”?  Apakah ada struktur yang dibangun oleh Allah pada penempatan “Alif Lam Mim” sebagai permulaan di ke-6 surat tersebut yang didasarkan pada bilangan 7? Mengapa pemilihan mencakup beberapa surah yang panjang dan beberapa surah yang pendek? Mengapa memilih 4 surah makiyyah (yang diturunkan di Mekah yaitu Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, As-Sajdah) dan 2 surah madaniyah (diturunkan di Madinah yaitu Al-Baqarah da Ali Imran)? Semua pertanyaan itu berkaitan dengan disain matematis Al-Qur’an yang telah ditetapkan oleh Allah. Berikut adalah jawabanya!


Pertama:

Mengapa Allah menempatkan ayat “Alif Lam Mim” pada ayat pertama di semua surah yang mengandung inisial tersebut? Jawabannya tidak lain adalah sebagai bagian dari desain matematis yang didasarkan pada bilangan 7. Jika kita susun bilangan 1 sebanyak 6 kali (ada 6 surah), maka akan kita dapatkan sebuah bilangan kelipatan 7:

Nama Surah                          Nomor ayat “Alif Lam Mim”

            —————————————————————————-

            Surah Al-Baqarah                            1

            Ali Imran                                           1

            Al-Ankabut                                        1

            Ar-Rum                                              1

            Luqman                                             1

            As-Sajdah                                          1

            —————————————————————————-

Diperoleh bilangan 111111 yang merupakan sebuah bilangan kelipatan 7:

                                                111111 = 7 x 15873


Kedua:

Seluruh surah dalam Al-Qur’an yang yang diawali dengan INISIAL ada sebanyak 29. Jika kita urutkan ke-29 surah tersebut dari 1 s/d 29, kita dapatkan surah yang diawali dengan “Alif Lam Mim” menempati nomor urut yang telah ditentukan oleh Allah akan menghasilkan sebuah bilangan dengan kelipatan 7:

———————————————————————————————————-

Surah yang diawali “Alif Lam Mim”              Nomor urut surah dalam deretan

———————————————————————————————————

Surah Al-Baqarah                                                                     1

Ali Imran                                                                                   2

Al-Ankabut                                                                             15

Ar-Rum                                                                                               16

Luqman                                                                                               17

As-Sajdah                                                                               18

———————————————————————————————————

Dari susunan di atas diperoleh bilangan 1817161521 yang merupakan bilangan kelipatan 7:

                                    18 17 16 15 2 1 = 7 x 7 x 7 x 5297847

Bahkan angka terakhir yaitu 5297847 terdiri dari 7 digit dan kalau dijumlahkan setiap angka yang membentuk bilangan tersebut akan menghasilkan sebuah bilangan kelipatan 7:

                                    5 + 2 + 9 + 7 + 8 + 4 + 7 = 42 = 7 x 6

Perhatikan angka terakhir adalah 6, dan jangan lupa bahwa surah-surah yang diawali dengan “Alif Lam Mim” ada 6.


Ketiga:

Dua surah dari 6 surah yang diawali dengan INISIAL “Alif Lam Mim” turun kepada Nabi Muhammad SAW di Madinah yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Dalam urutan surah-surah berinisial (lihat table di atas), kedua surah madaniyah tersebut menempati urutan masing-masing 1 dan 2. Kedua angka tersebut menghasilkan angka 21, sebuah bilangan kelipatan 7:

                        21 = 7 x 3

Selanjutnya bagaimana dengan 4 surah yang lain yang turun di Mekah dengan inisial yang sama (Alif Lam Mim)? Dari Tabel di atas (fakta kedua), keempat surah tersebut masing-masing menempati posisi 15, 16, 17, dan 18.  Jika kita susun bilangan-bilangan tersebut dari urutan terbesar ke kecil diperoleh bilangan dengan kelipatan 7:

                        18 17 16 15 = 7 x 2595945

Keajaiban tidak sampai di sini. Dari ke-6 surah berinisial “Alif Lam Mim” tersebut kita kelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu Kelompok I dengan dua surah yang merupakan surah madaniyah (Al Baqarah dan Ali Imran) dan Kelompok II dengan 4 surah yang turun di Mekah (Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, As-Sajdah). Jika kita susun, kita dapatkan hal yang mengejutkan:

Kelompok I                 2

Kelompok II   4

Dan 42 adalah bilangan dengan kelipatan 7:

42 = 7 x 6

Dan 6 adalah jumlah dari seluruh surah berinisial “Alif Lam Mim” dalam Al-Qur’an.


Keempat:

Sekarang kita coba dengan jumlah ayat yang ada pada setiap surah yang diawali inisial “Alif-Lam-Mim”, dan kita tuliskan sebagai berikut:

Al-Baqarah = 286

Ali Imran = 200

Al-Ankabut = 69

Ar-Rum = 60

Luqman = 34

As-Sajdah = 30

Angka-angka tersebut kita susun sedemikian sehingga kita peroleh bilangan yang panjang dan merupakan bilangan kelipatan 7:

30 34 60 69 200 286 = 7 x 4335152742898

Jika kita jumlahkan bilangan (jumlah ayat) dari keenam surah di atas, kita juga akan dapatkan sebuah bilangan kelipatan 7!

30 + 34 + 60 + 69 + 200 + 286 = 679 = 7 x 97

Kemudian jika kita jumlahkan setiap digit yang ada pada bilangan-bilangan jumlah surah di atas, maka kita juga akan memperoleh bilangan dengan kelipatan 7!!

3 + 0 + 3 + 4 + 6 + 0 + 6 + 9 +2 + 0 + 0 + 2 + 8 + 6 = 49 = 7 x 7

Perlu dicatat bahwa operasi matematik yang telah kita lakukan di atas yang berhenti pada dobel angka 7 memberikan penjelasan yang jelas tentang eksistensi dari angka-angka yang menyusun baik ayat maupun surah dalam Al Qur’an dan kita sebagai manusia tidak mungkin dapat menghasilkan koordinasi yang begitu sempurna  dari setiap bilangan yang melekat pada Al-Qur’an.

Penutup

  • Beberapa inisial yang mengawali beberapa surat dalam Al Qur’an telah lama menjadi teka-teki yang oleh sebagian besar ahli tafsir hanya diberi penjelasan atau tafsiran dengan “hanya Allah yang mengetahui”. Dan teka-teki tersebut kini mulai terjawab dengan ditemukannya pola-pola matematis yang unik yang sekaligus mencerminkan keajaiban Al Qur’an, yang sekaligus menjadi bukti bahwa AL Qur’an berasal dari Allah, bukan buatan Nabi Muhammad seperti yang dituduhkan kalangan non-muslim, karena fenomena numerik/matematik yang begitu teratur terjadi bukan sebagai suatu yang ‘kebetulan’, tetapi merupakan sesuatu yang didisain.
  • Perlu dicatat bahwa penulisan sejumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang benar yang mengikuti penulisan sesuai aslinya sejak sahabat Nabi adalah seperti yang tertulis  pada dalam Al Qur’an yang umumnya diterbitkan di Timur Tengah termasuk Arab Saudi. Misalnya kata “KITAAB” adalah tanpa huruf “ALIF” di antara huruf “TA” dan “BA” hal yang sama juga pada penulisan banyak kata di “Al ‘AALAMIIN” yang ditulis tanpa “ALIF” antara huruf ’AIN dan huruf LAM. (Dalam Al Qur’an banyak kata-kata yang penulisannya seharusnya tidak menggunakan huruf ALIF dalam bacaan panjang seperti INSAANA yang ditulis tanpa ALIF antara huruf SIN dan NUN  dan SHIRAATHA yang harus ditulis tanpa alif antara huruf “RA” dan “THO”. Penulisan sejumlah kata dalam Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan aslinya berimplikasi pada hilangnya keajaiban Al-Qur’an sekaligus menyimpang dari keaslian Al-Qur’an, meskipun tidak berpengaruh pada arti atau makna. (Catatan: banyak Al Qur’an cetakan versi Indonesia menyalahi aturan yang ada dari apa yang ditulis pada jaman sahabat)

 

Wassalam tmuslimsolusi